oleh

RM Berani Beli Tinggi Karena Kualitas

-Nasional-1.018 views

Melihat Tambak Ikan Nila di Dusun Pulokerto, Gandus

Sungai Musi tidak hanya memberi manfaat bagi nelayan yang mencari ikan. Tetapi juga memberi manfaat bagi pengusaha perikanan yang beternak Ikan Nila menggunakan aliran Sungai Musi di Dusun Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang. Berikut penuturan Windi, pegawai peternakan Ikan Nila kepada sumeks.co, Selasa (26/2)

DENDI ROMI – Palembang

sumeks.co – Derasnya aliran Sungai Musi memberi manfaat dalam membudidayakan Ikan Nila di Palembang. Puluhan petak berisi Ikan Nila terdapat di pinggiran Sungai Musi Dusun Pulokerto di samping Dermaga Dishub Palembang. Di lokasi inilah peternakan Ikan Nila milik pengusaha yang dirahasiakan pegawainya.

Windi menuturkan bahwa dirinya bekerja di tambak ikan hanya tiga orang. Selebihnya adalah siswa dan mahasiswa sekolah peternakan yang magang di peternakan ikan milik majikannya. Ikan Nila yang dipelihara di tambak aliran sungai, sebelumnya dibesarkan di kolam berupa terpal di daratan. Bibit ikan berusia satu hari sampai dua bulan ditangkarkan di kolam terpal. Setelah berusia dua bulan, barulah bibit ikan dipindah ke tambak yang berada di sungai.

“Bibit ikan usia satu hari sampai dua bulan diberi makan empat kali sehari. Sedangkan yang sudah berusia di atas dua bulan dan dipindah ke tambak sungai, dikasih makan tiga kali sehari. Sama seperti manusia makan tiga kali sehari. Jam makannya pun sama, pukul 08.00, 12.00, dan pukul 04.00 sore,” kata Windi sambil tertawa.

Ikan Nila sudah bisa dipanen, pada usia lima bulan. Satu ikan yang dipanen beratnya sekitar 6-7 ekor per kg. Tergantung pesanan rumah makan. Rumah makan (RM) Padang yang menjadi pelanggan peternakan ikan tempatnya bekerja. Karena hanya rumah makan yang membeli Ikan Nila dengan harga tinggi, yakni Rp32 ribu per kg. Jika dijual di pasar, haraga Ikan Nila tidak bisa tinggi.

“Di pasar saja, harga Ikan Nila hanya Rp30 ribu. Bagaimana kalau kita jual dengan pedagang besar. Pasti dibeli di bawah harga Rp30 ribu per kg,” tutur Windi.

Sekali panen, biasanya bertahap. Paling banyak 100 kg dan diantar langsung ke rumah makan Padang langganan. Rumah makan berani membeli Ikan Nila dengan harga tinggi karena secara kualitas dan rasa, ikan yang dipelihara di sungai, lebih gurih.

“Pasti beda pak, rasa ikan yang dipelihara di air mengalir dengan air tergenang. Makanya rumah makan Padang berani beli dengan harga tinggi,” pungkasnya.

Disinggung mengenai hama atau predator sungai terhadap Ikan Nila? Dia menambahkan, karena peternakan ikan menggunakan jaring, tidak ada hama atau predator yang memangsa Ikan Nila. Kalaupun ada hama, hanya sarang udang yang biasa menempel di bawah jaring. Itu pun tidak membahayakan.

“Paling-paling karena banyak sarang udang, jaring menjadi berat saat akan panen,” pungkasnya. (*)

Komentar

Berita Lainnya