oleh

RM Tutup, Nelayan Sulit Pasarkan Seluang

PANGKALAN BALAI – Terdampak pandemi COVID-19, harga jual ikan seluang tangkapan nelayan menurun. Karena banyaknya rumah makan yang tutup.

Pulau Salah Nama yang dihuni 80 kepala keluarga (KK) dengan penduduk 300 jiwa penduduk itu mencapai luas ratusan hektare itu berada di tengah perairan Sungai Musi. Warga di sana rata-rata mendapatkan penghasilan bekerja sebagai nelayan pencari ikan seluang.

Sejak pandemi COVID-19, hasil tangkapan mereka sulit untuk dijual. Dan harganya juga menurun drastis.

“Dulu sebelum pandemi,”

“Satu kilonya 30 ribu,”

“Sekarang hanya 20 ribu,”

“Sangat berdampak bagi kami,” kata Syahril, ketua RT 001, Kelurahan Mariana, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Ahad (25/10).

Seharinya, kadang kala hanya mendapatkan 3-5 kg ikan seluang hasil tangkapan rata-rata setiap nelayan.

Dengan harga jual yang turun, membuat pendapatan nelayan di pulau itu berkurang. Sehingga untuk menjual hasil tangkapan itu juga sulit saat ini.

“Menjualnya saja sudah sulit,”
“Biasanya banyak pembeli dari Palembang,”
“Karena kondisi saat ini,”
“Kami harus ecer menjualnya,” ucap Syahril yang berpfesi sebagai nelayan ini.

Untuk mata pencaharian warganya, memang didominasi oleh para nelayan. Tetapi satu tahun sekali sawah rawa lebak. Seluas 150 hektare menjadi tambahan penghasilan bagi penduduk pulau itu.

“Hanya satu kali setahun panen,”
“Itulah tambahan kami,”

Selain itu, bantuan dari pemerintah dan DPRD untuk warga yang terkena dampak covid 19, sudah tersalurkan di RT 001 Pulau itu.

“Alhamdulillah sudah ada yang bantu,”
“Dari pemerintah daerah dan lainnya,”
“Tinggal untuk sehari-hari jual ikan seluang inilah,”
“Yang harganya turun jadi permasalahan pendapatan kami,” tutupnya. (ktr1)

Komentar

Berita Lainnya