oleh

Running News: Tak Puas Kebijakan Rektorat PGRI tentang UKT, Mahasiswa Aksi Minta Evaluasi Kembali

SUMEKS.CO – PALEMBANG – Mahasiswa kembali datangi Universitas PGRI dalam aksi solidaritas. Turunkan UKT 50 persen. Senin (14/9).

Bermula atas tindakkan represif dari pihak keamanan kampus terhadap sejumlah Mahasiswa saat melangsungkan aksi permohonan penurunan UKT pada kamis 11 September 2020.

Adapun dalam aksi kali ini Mahasiswa membawa beberapa point tuntutan terhadap pihak rektorat Universitas PGRI Palembang.

Di depan pagar kampus berhadapan dengan barigade polisi. Mereka sampaikan aspirasinya.

“3 poin tuntutan utama. Pertama, Turunkan Uang Kuliah Tunggal (UKT), Kedua, Usut tuntas oknum Keamanan Kampus dan Dosen yang mekakukan Premanisme, Ketiga, Meminta pihak rektorat dan yayasan untuk bertanggung jawab atas kejadian represif,” menurut koordinator Aksi Nur M Habibbilah.

Mereka tergabung dari berbagai perguruan tinggi negri/swasta datang dengan berbekal spanduk dan satu mobil komando. Pada mobil komando tersebut terbentang spanduk bertuliskan pecat Rektor Universitas PGRI Palembang.

Ditengarai merupakan wujud keresahan dari Mahasiswa terhadap pihak rektorat. Yang mana mereka menilai belum mencirikan sikap koopratif dan cenderung tertutup.

“Kami capek pak tekanan batin, emosional saya terganggu, saya sudah baik-baik ayo pak diskusikan ini bersama. Kita selesaikan secara kekeluargaan. Tapi belum ada satu pun yang berbuat demikian”, tambahnya dari atas mobil komando.

Cukup lama berselang akhirnya pihak rektorat beserta yayasan temui langsung masa aksi.

Dari balik besi pagar kampus Wakil Rektor 3 Universitas PGRI Drs. Sukardi. Menyampaikan bahwa pihaknya telah memproses tuntutan dari Mahasiswa.

“Tuntutan Mahasiswa sudah di sanggupi oleh rektor dan yayasan. Evaluasi dosen sudah dilaksanakan rutin, Mahasiswa telah diberi kebebasan program KKN dan KKL, Beasiswa Kualifikasi guru, Memberikan bantuan kepada Mahasiswa dengan cara stimulan UKT dengan teknis bahwa semua calon penerima mengadakan permohonan tertulis melalui dekan Fakultas masing -masing,” ucap Wakil Rektor.

Dia juga menyampaikan, Kampus hanya mampu memberikan keringanan UKT dengan besaran bantuan terhadap Mahasiswa. Rp. 200 ribu untuk 250 orang Mahasiswa yang terdampak Pandemi Covid-19.

“Ini menyangkut kemampuan dari Universitas dan Yayasan,” keluh nya menambahkan.

Namun, Mahasiswa beranggapan hal tersebut kemungkinan besar dapat terpenuhi, sebab selain dana Stimulan Gubernur Sumsel ada juga dana bantuan lain yang berhak di terima kampus,ada bantuan dari dikti dan juga KIP-kuliah Kemendikbud. Maka dari itu mereka pinta untuk di evaluasi kembali.

“Kami minta potongan 50 persen, dari Rp. 4 Juta atau paling tidak mendekati. Kampus bisa penuhi permintaan kami. Seperti kampus lainnya.
Dana stimulan Gubernur itu berbeda, Maka kami minta Rektorat untuk segera melakukan rapat evaluasi kembali kebijakan nya dalam tenggat waktu satu minggu evaluasi,” Jelas Andi leo koordinator sekaligus Demisioner Presma PGRI.

Juga ia meminta untuk kampus menindak lanjuti dan memproses oknum satuan pengamanan kampus yang telah represif.

“usut tuntas oknum keamanan kampus dan dosen yang mekakukan premanisme,” Tambahnya.

Setelah kedua pihak memperoleh kesepakatan, di mediasi oleh kepolisian yang bertugas di lokasi tersebut. Masa aksi membubarkan diri dengan tertib dan damai. (Bim/Mg1)

Komentar

Berita Lainnya