oleh

Sadis! Pada Adegan ke-21, Anca Injak Leher Bu Guru Yuyun Sampai Mati

BANYUASIN – Polres Banyuasin menggelar rekonstruksi pembunuhan Efriza Yuniar alias Yuyun (50), guru Sekolah Dasar Negeri 11 Muara Telang, Desa Marga Rahayu, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Senin (13/7/2020) sekitar pukul 10.00 WIB.

Rekonstruksi berlangsung sampai 32 adegan dipimpin langsung Kasatreskrim Polres Banyuasin AKP Ginanjar Alia Sukmana Sik bersama Tim Puma dan anggota tim Polsek Muara Telang.

Pada adegan pertama yang langsung diperankan pelaku Ardiansyah alias Anca (18). Eks murid ibu guru Yuyun ini didampingi kuasa hukum Zainal SH.

Adegan dimulai saat pelaku pergi dari rumahnya menuju rumah korban yang disaksikan ibunya Wiwi Winarni, saat rekontruksi digantikan peran penganti.

Saat itu pelaku berpura-pura sedang mengawasi para tukang yang sedang membangun rumah dinas guru SDN 11 Muara Telang itu, sampai pada akhirnya tukang pulang.

Setelah itu pelaku pergi ke belakang rumah ibu guru Yuyun, dan melihat korban sedang mencuci piring di belakang rumah.

Setelah mencuci piring, korban masuk ke dalam rumah untuk mandi. Pelaku langsung mengintip korban yang sedang mandi dari lubang yang ada di dinding dan berusaha masuk ke dalam rumah korban melalui pintu depan.

Saat masuk rumah, tersangka bersembunyi di balik kulkas agar tidak diketahui korban. Ketika korban usai mandi, tersangka langsung merangkul leher korban dari arah belakang hingga korban berteriak minta tolong.

Tersangka yang panik, kemudian mencekik leher korban menggunakan kedua tangannya hingga pingsan dan mengambil tali plastik mengikat tangan korban.

Pada adegan selanjutnya tersangka menyumpal mulut korban pakai ikat rambut, tidak hanya itu tersangka mengambil ikat pinggang mengikat leher korban.

Pada saat adegan ke-17 pelaku juga menyetubuhi korban, dan kembali mengikat leher korban dengan kabel charger agar korban tidak bernapas lagi.

Selanjutnya, pelaku menyeret korban ke kamar mandi, dan rupanya pelaku tak puas dan kembali menginjak leher korban (pada degan ke-21) menggunakan kaki untuk memastikan korban telah tewas.

Adegan ke 22 hingga 26, tersangka mengambil ember dan memasukan tubuh korban ke dalam ember warna hijau dengan posisi kepala dibawah. Menutupi tubuh korban agar tidak diketahui,  tersangka mengunakan kain sprei, karpet plastik kemudian diikat pakai tali plastik.

Sampai adegan berikutnya tersangka mengambil dua handphone,  mengunci pintu rumah korban dan kembali ke rumah dengan tenang, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Jika sebelumnya pelaku terlihat tidak menyesali perbuatannya, namun usai rekonstruksi ini pelaku terlihat menampakkan sikap menyesal.

“Menyesal pak, saya minta maaf kepada keluarga korban, “ujar tersangka Ardiansyah dengan terisak.

Kepada orang tuanya,  tersangka Ardiansyah mendoakan agar jaga kesehatan dan tabah menghadapi persoalan yang dihadapi dirinya.

“Saya doakan sehat,”ungkapnya.

Ia sendiri siap menjalani proses hukum atas perbuatan yang telah ia perbuat,  hingga menyebabkan korban sampai meninggal dunia. “Saya siap, “tukasnya.

Zainal,  Kuasa hukum tersangka mengatakan tersangka meminta kepada dirinya agar hukuman yang akan dijatuhkan kepada tersangka bisa diperingan. “Itu permintaannya,  tapi itu tergantung majelis hakim pada persidangan nanti, “katanya.

Ia menambahkan dalam setiap adegan itu,  tersangka mengakui setiap tindakannya.

“Jadi dilihat dari adegan rekonstruksi,  tidak ada perencanaan (pembunuhan),” imbuhnya.

Kapolres Banyuasin AKBP Danny A Sianipar Sik melalui Kasatreskrim Polres Banyuasin AKP Ginanjar Alia Sukmana Sik mengatakan adegan rekonstruksi ini bertujuan mencocokan hasil BAP. “Tadi 32 adegan rekonstruksi, dan tersangka mengakui semuanya, “ujarnya.

Dilihat dari adegan rekonstruksi tersebut menurut Kasatreskrim Polres Banyuasin AKP Ginanjar Alia Sukmana Sik terlihat ada pembunuhan berencana, maka akan dapat dikenaikan pasal 340 KUHP dengan seumur hidup.

“Iya, ada unsur berencana, ” tegasnya.

Mengapa adegan rekonstruksi dilaksanakan di Mapolres Banyuasin yaitu untuk mengantispasi hal yang tidak diinginkan.”Kasus pembunuhan biasanya di Polres, “pungkasnya. (qda)

Komentar

Berita Lainnya