oleh

Sah Diedarkan, Bisa untuk Transaksi

SUMEKS.CO – Baru diluncurkan kemarin, peminat Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) 75 Tahun RI dengan pecahan kertas Rp 75 ribu sudah membeludak. Bank Indonesia (BI) menyebut permintaan uang baru ini capai 97 persen atau sekitar 68 juta permintaan, dari jumlah yang diedarkan sebanyak 75 juta lembar atau senilai Rp 75 miliar.

Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi mengatakan uang Rp 75 ribu ini masuk dalam kategori uang cetak khusus di momen Kemerdekaan RI. Dalam ketentuan berupa Undang-Undang dan Keputusan Presiden memang hanya dicetak 75 juta lembar.

“Peminat itu sangat banyak, luar biasa. Apa BI ingin cetak lagi? Ini uang khusus. Masyarakat pun hanya bisa mendapatkannya di Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) BI yang tersebar di 45 wilayah di seluruh Indonesia. Terhitung kemarin sudah 97 persen pesan lewat aplikasi PINTAR,” jelas Rosmaya dalam Taklimat Media UPK 75 Tahun RI secara virtual, Jakarta, Selasa (18/8).

BI memberikan jatah sama rata sesuai kapasitas di masing-masing KPW. Untuk kantor pusat, BI menyediakan 300 lembar, sisanya di 45 KPW sebanyak 150 lembar. Permintaan uang dilakukan selama 10 hari, sehingga lembaran yang disediakan di pusat sebanyak 3 ribu lembar, dan di daerah 6.750 lembar. “Sudah 97 persen permintaan full, sisanya 3 persen permintaan yang masih kosong itu di Sibolga, Papua, Papua Barat, Lhokseumae, Ternate dan Mamuju, kami evaluasi ada hitung-hitungannya,” kata Rosmaya.

BI lanjutnya, juga memastikan penukaran uang khusus ini terhindar dari segala macam penipuan hingga pemalsuan uang. Karena sudah dilengkapi dengan keamanan terbaru.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim menambahkan, uang ini merupakan uang sah beredar yang bisa digunakan untuk transaksi, meski jumlahnya terbatas.

Penambahan kuota menurut Marlison, sudah sesuai dengan aturan yang ada. Jumlah dari sisi perencanaan dengan Kemenkeu, KemenkumHAM, sehingga keluarlah Keppres. Jumlah 75 juta ini disebar merata kebutuhan masing-asing daerah dan memperhatikan banyak hal, uang beredar, jumlah konsumsinya. “Banyaknya peminta, menandakan bukan hanya mata uang unik tapi juga kecintaan dengan mata uang rupiah,” sebutnya.

Terkait polemik baju adat daerah yang ada di halaman belakang UPK 75 ini, ia memastikan, baju adat tersebut merupakan baju adat dari Indonesia, bukan Tiongkok yang ramai di media sosial. “Kok itu yang tengah ujung seperti Tiongkok? Banyak pertanyaan seperti itu, padahal bukan, itu dari Kalimantan Utara suku Tidung. Proses memilih tahapan sudah dilakukan, dibicarakan dengan budayawan, sejarawan dan Dinas UPT suku Tidung. Mereka yang menyerahkan gambaran adat pakaian Tidung, 9 baju daerah ini asli dari Indonesi,” tegasnya. (dwi/jpg)

Komentar

Berita Lainnya