oleh

Sajak, Kabar Kematian

Kabar Kematian (1)

Akhir-akhir ini terus kudengar kabar

tentang apa yang sering membuatku gemetar

Dengan berbagai cara dulu kita kerap menghindar

atau minimal menutupinya lewat gurauan

entah karena kita terlalu pengecut

atau sekadar ikhtiar menunda rasa takut

Sebab tentu kita tahu belaka

cepat atau lambat ia akan datang juga

pada suatu pagi ketika kita duduk di beranda

atau di saat yang mustahil kita duga

Mula-mula ia hanya jadi headline berita

yang kita baca sepintas-sepintas, setengah terjaga

sembari bercengkerama melepas penat kerja

Dari jauh kita saksikan orang-orang berhamburan

dalam jerit tangis yang mengetuk-ngetuk layar kaca

Mobil-mobil ambulans lalu-lalang

rumah-rumah sakit diserbu antrean panjang

langkah para petugas berderap menyeret kengerian

orang tua, anak-anak, pasangan kekasih, dan remaja belia

melolong, meronta, tercekik, tersesat dalam kepiluan

tak sempat memberikan peluk atau ciuman perpisahan

Ribuan tubuh membeku, liang-liang kubur menganga diam

Semua bergerak serbacepat, serbacermat mirip bayangan

Di antara butiran salju yang menutup siang menjadi malam

Kita menyaksikan dari jauh, di atas sofa ruang keluarga

Tentu saja kita bersimpati. Betapa pun itu adalah berita

tentang wajah-wajah asing di negeri-negeri yang jauh

Kita hanya bisa membayangkan, betapa paniknya

tercekam kematian sedekat itu, senyata itu

Kita bisa membayangkan seperti apa rasanya kehilangan

begitu banyak orang tercinta, begitu tiba-tiba

Sungguh tak pernah terduga

wajah kematian itu akhirnya datang menghampiri kita

Tak ada waktu untuk terkejut atau terpana

tahu-tahu kita tersergap perangkap dan menjelma berita

tentang kengerian yang ditonton orang-orang entah siapa

sembari melepas penat kerja di atas sofa ruang keluarga

Mungkin mereka pun bersimpati melihat kepanikan

yang menggelantungi wajah kita, wajah tanpa nama

Dari hari ke hari mereka merekam rekor kematian

seperti sedang mencatat skor permainan olahraga

Nyawa ditabulasi sebagai statistik, sebagai angka

Mungkin ini karma yang dulu kita lakukan pada entah siapa

Entah karena terlalu lama terperam kebencian

Atau gegara akibat hantaman arus informasi

atau sebagai eskapisme dari kecemasan tak terperi

kita jadi bangsa yang suka mempertengkarkan apa saja

juga soal kematian ini; adakah ia takdir atau konspirasi

Sebagian orang memanipulasi ketakutan

dan mengglorifikasi sebagai pengatur kepatuhan

atas nama hukum, atas nama sains, atas nama agama

atas nama nasionalisme, atas nama norma-norma

Sebagian lainnya menyulap kabar kematian

menjadi energi dan kesempatan untuk melawan

untuk kepentingan politik, untuk keuntungan dagang

untuk memuaskan dendam yang lama terpendam

Orang-orang pun terbelah

Politikus dan pedagang saling bantah

ilmuwan dan agamawan saling sanggah

pejabat dan pengamat saling debat

Betapa pun, kabar kematian makin bertubi-tubi

Sirene ambulans meraung di jalan tak henti-henti

segera menyelinap cepat masuk ke semua kanal berita

ke medsos, juga pengeras suara di musala-musala

Setiap hari kudengar kabar kematian:

saudara, handai tolan, tetangga, kolega, kenalan

berturut-turut tanpa kenal waktu, tanpa jeda

Baru saja kudengar kabar kematian seorang teman

yang dulu sering kita ajak jalan ke mana-mana

kita bicara tak kenal waktu tentang apa saja

Aku buru-buru ingin memberitahumu

Tapi, bagaimana aku bisa percaya?

kudengar pula kabar tentang kepergianmu

semua begitu mendadak, begitu tiba-tiba

Aku hanya bisa menyebut namamu berkali-kali

tak henti-henti. Inna lillahi….

Ya, Allah, secepat ini?

Di tengah pusaran pandemi ini aku kian terlilit sepi

Mengeja perangai waktu dan giliranku sendiri

yang akan datang entah kapan, atau sebentar lagi

Kalau saja kamu bisa memberitahuku

adakah sesungguhnya alasan atau waktu yang tepat

untuk mati?

Jogjakarta, 4 Juli 2021

Kabar Kematian (2)

Apa yang kaudengar dari kabar kematian

yang terus mengetuki pintu dan jendela rumahmu

sepanjang siang, sepanjang malam, setiap hari

Adakah jejak peristiwa masa lalu yang jauh

tentang wajah-wajah indah yang telah lama pergi

sebelum kau sempat melukisnya dalam ingatan

ia sering membuatmu tertegun di tengah malam

ketika selimut kesadaran tersingkap sekejap

antara tidur dan terjaga, antara tanda dan makna

pada bayangan masa depan yang muncul samar

menyembul sebentar dan segera kembali memudar

sebelum akhirnya kaulihat di ufuk timur terbit fajar

Adakah masa depan yang lebih jauh dari kematian?

dan di depan kematian, apa makna waktu bagimu?

Apa yang sudah kita lakukan kelak menjadi sejarah

untuk dipertengkarkan atau dilupakan anak-cucu

sedang yang belum terjadi tak pernah kita tahu pasti

Rencana hanyalah jembatan rapuh bertumpu angan

Yang kita miliki tak lebih dari sekarang, di sini

Coba kaujawab, apa gunanya memelihara ingatan

jika ia hanya mengekalkan rasa bersalah dan siksa

jika harapan hanya membuat kita merasa putus asa

Di depan kematian, selain momen tak ada yang nyata

sebab di sini, tak ada lagi waktu

Jika kau pandangi wajahmu sendiri di depan cermin

lalu kau saksikan setiap butir kata-katamu tumbuh

bersama makna yang tertanam di atas tanah

menyambut setiap jengkal kakimu melangkah

dengan sepenuh sukacita dan kemurnian tawa

seperti ketika pertama dulu kau ditatih Ibumu

berjalan menapaki hidup ini. Apakah kaulihat

betapa pada kenyataan yang serbasementara

pada fakta perubahan ini, tersembunyi Yang Ilahi

di depan kematian tidakkah kau saksikan betapa

yang maya berbaris rapi menuju Yang Hakiki?

Jogjakarta, 7 Juli 2021

ACHMAD MUNJID

Dosen Sastra Inggris dan American Studies FIB UGM. Kumpulan cerpennya, Negeri di Balik Bulan, diterbitkan Lesbumi NU Cilacap pada 2015.

——–

jawapos.com

Komentar

Berita Lainnya