oleh

Saksi Temani PPK ke Rumah Terdakwa

PALEMBANG – Majelis hakim Pengadilan Tipikor Palembang diketuai Adi Prasetyo SH MH, Kamis (15/10) kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek pagar makam tahun anggaran 2017 di Kota Pagaralam dengan agenda kembali menghadirkan saksi-saksi yang menjerat mantan Kadinsos Kota Pagaralam H Sukman selaku PPK Proyek serta Doni Irfan, staf PPK Proyek. Atas dugaan korupsi itu, disinyalir negara dirugikan lebih kurang sekitar Rp697 juta.

Empat orang saksi dihadirkan secara langsung oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pagaralam Willy Pramudya SH. Diantaranya saksi Zamhuri selaku petugas PPK yang mengatakan pernah menemani terdakwa Doni Irfan menemui terdakwa mantan Kadinsos H Sukman.

“Saya bersama Pak Doni menggunakan mobil pergi kerumah Pak Sukman, saat itu Pak Doni turun membawa kantong kresek seperti kemasan tisu,” kata saksi Zamhuri yang merupakan staf honorer Dinsos Pagaralam di hadapan hakim.

Namun dirinya mengaku tidak mengetahui persis apa isi di dalam kantong kresek yang dibawa oleh terdakwa Doni sesampainya di rumah H Sukman.

“Saya menunggu di mobil saja saat Pak Doni membawa kresek itu. Pak Doni tidak menceritakan apa isi kantong itu, setelahnya kembali ke mobil tanpa membawa bungkusan itu lagi,” jelasnya.

Sementara itu, ketiga saksi lainnya yakni selaku pihak ketiga dalam proyek pembangunan pagar makam memberikan keterangan sebagaimana di dalam dakwaan JPU.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim Tipikor Palembang kembali akan menggelar sidang pada Rabu (21/10) pekan depan dengan agenda kembali menghadirkan saksi-saksi.

Ditemui usai sidang, Arief Budiman SH, penasihat hukum para terdakwa mengatakan bahwa dari keterangan-keterangan saksi itu banyak menjelaskan tentang terkaitnya salah satu tersangka lagi yang memang sangat berperan dalam kasus dugaan korupsi menjerat kliennya itu.

“Sangat jelas tadi saksi-saksi banyak menyinggung salah satu tersangka lainnya yaitu Pak Thoat yang sangat berperan dalam kasus ini. Jadi kami berharap agar hal itu nanti dapat menjadi bahan pertimbangan majelis hakim dalam mengungkap fakta sebenarnya,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, kedua terdakwa terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan pagar makam pada Dinsos Pagaralam tahun anggaran 2017 dengan 43 paket proyek sebesar Rp 6,977 Miliar ini sebenarnya ada lima orang yang ditetapkan sebagai terdakwa, namun satu terdak lainnya berinisial F meninggal dunia sebelum pemberkasan.

Sementara dua terdakwa lainnya saat ini juga sudah dilakukan persidangan dengan berkas terpisah dan jadwal persidangan yang berbeda.

Saat ini terdakwa sudah ditahan di rutan Pagaralam, adapun modus terdakwa ada tiga cara, yakni yang pertama dalam perencanaan pembangunan tidak menyusun HBS, lalu terdapat harga ongkos pekerjaan terlalu tinggi dan adanya pemberian komitmen fee dari kontraktor. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya