oleh

Satgas Covid-19 Klarifikasi Soal Pasien yang Meninggal di Taksi Online

SUMEKS.CO – Seorang pasien Covid-19 asal Depok dikabarkan meninggal di taksi online usai ditolak 10 rumah sakit karena penuh. Data itu disampaikan oleh LaporCovid-19 dan Center for Indonesia’s Strategi Development (CISDI).

Menanggapi hal itu, Satgas Covid-19 mengaku belum menerima laporan yang terang benderang secara langsung dari pihak LaporCovid-19 dan juga CISDI. Satgas meminta agar pihak penerima informasi itu mau secara gamblang memberikan data pasien dan kronologi yang lengkap agar tidak terjadi kesalahan persepsi.

“Sampai dengan saat ini kami sudah coba hubungi LaporCovid-19 yang merilis berita itu dan kami mohon untuk jelaskan klarifikasi kronologis sebenarnya seperti apa agar tak ada mispersepsi. Kami sudah hubungi pihak mereka, minta data pasien, namun karena SOP mereka tak bersedia memberikan data-data itu. Padahal kami perlu investigasi, bukan kami tak percaya, tapi perlu pendalaman,” Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana kepada JawaPos.com, Senin (18/1).

“Kami mohon LaporCovid-19 terang benderang laporkan ke publik, tujuannya mungkin baik untuk sampaikan informasi bahwa RS sudah penuh, agar warga ketat terapkan protokol 3M. Namun kami meminta agar pihak LaporCovid-19 berikan kepada kami untuk bahan kepentingan evaluasi,” tambahnya.

Dadang menyebutkan, Depok memiliki 20 RS yang menjadi rujukan bagi pasien Covid-19. Namun banyak juga warga Depok yang pergi ke DKI Jakarta atau ke kota lainnya untuk mencari pengobatan.

“Memang kesulitan dapatkan faskes itu tak hanya di Depok, tapi di Jabodetabek. Tapi kan kami perlu klarifikasi dulu,” ungkapnya.

BOR RS Penuh

Bed Occupancy Rate (BOR) ketersediaan tempat tidur RS di Depok saat ini memang sudah penuh seperti yang terjadi di Jabodetabek lainnya. Dadang mengatakan BOR RS di Depok untuk ruang ICU sisa 92 persen dan ruang isolasi sisa 84 persen.

“ICU sudah 92 persen, isolasi RS sudah 84 persen terisi,” kata Dadang.

Dadang menyarankan alur pasien Covid-19 sebetulnya bisa diawali dengan menelpon atau menghubungi puskesmas untuk melaporkan gejala warga yang positif Covid-19. Puskesmas akan melakukan skrining apakah pasien mengalami gejala atau tak ada gejala.

“Kami punya ambulans di Puskesmas untuk dirujuk ke rumah sakit. Namun jika memang penuh, bisa di backup dengan ambulans dari Dinas Pemadam Kebakaran dan PMI. Jadi memang ada juga yang memang perburukan naik mobil pribadi misalnya, namun puskesmas pasti akan memberi layanan dulu, atau juga bisa berupa home care,” jelasnya. (Marieska Harya Virdhani/jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya