oleh

Saung Naga dan Lubang Pelunas Hutang

Tukar Nyawa, Dengan Butiran Emas

Tewasnya dua warga Muratara saat menggali emas di wilayah Sungai Sipa, Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, memunculkan sisi lain.

Fenomena demam emas menimbulkan antusias berlebihan, bahkan warga menyebut lokasi itu dengan julukan ‘saung naga atau lubang pelunas hutang’, bagaimana ceritanya, berikut liputanya.

Zulqarnain, Muratara

Harga emas yang melejit tinggi Jumat (29/1) dengan kisaran Rp939.000,/ gram meningkatkan animo warga untuk berburu butiran logam mulia. Tak hanya di wilayah Muratara, bahkan warga nekat merantau hingga ke wilayah Provinsi tetangga.

Ada beberapa lokasi tujuan warga Muratara untuk mencari butiran logam mulia di Provinsi Jambi. Mulai dari wilayah Muara Limun, Pulau Pandan, Temenggung, Monti, Muara Mensao, Ranggo, hingga Demang.

Namun khusus wilayah Sungai Sipa, Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, warga memberinya julukan khusus sebagai wilayah saung naga atau lubang pelunas hutang.

Reza warga Desa Noman Baru, Kecamatan Rupit, Muratara yang pernah mendompleng di wilayah ini menuturkan. Untuk menuju wilayah sungai Sipa yang berbatasan langsung dengan Bukit Bulan wilayah Muratara, memang cukup sulit.

Setelah menggunakan kendaraan roda dua dengan rentan waktu 3 jam perjalanan ke wilayah Lubuk bedorong, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki biduk atau perahu air selama 2 jam, dan disambung berjalan kaki selama 1 jam baru bisa sampai lokasi.

Sepanjang perjalanan, banyak kubangan menganga dan, bukit-bukit gundul akibat aktivitas dompleng. Suara bising mesin disel bisa terdengar jelas sepanjang perjalanan, bahkan saat mendekati lokasi banyak juga lubang bekas galian dompeng penuh air mirip kolam tak terurus.

Bukan tanpa alasan warga menyebut wilayah Sungai Sipa, Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi sebagai saung naga atau lubang pelunas hutang.

Di satu sisi memang ada saung atau lubang yang di beri merek serupa, dan di satu sisi lainnya warga beralasan butiran emas ukuran batu kerikil, dengan kadar emas tinggi berkisar 80-90 persen, bisa ditemui berlimpah di lokasi ini.

“Ada papan mereknya saung pelunas hutang. Kalau masuk ke dalam sana bisa dapat emas banyak dan benar benar bisa melunasi hutang. Tapi resiko longsor dan  lunas nyawa juga,” ujar Reza.

Dia mengatakan, lubang khusus ini diperuntukan untuk siapapun yang ingin mengadu nasib. Bahkan kedalaman lubang sudah lebih dari 80 meter di kedalaman tanah. Di dalam lubang tidak hanya di dapati satun lorong galian. Namun di dalam satu lubang itu, bercabang hingga 12 lorong.

Reza menuturkan, saung naga atau lubang pelunas hutang ini sangat tenar di kalangan penggali emas Muratara-Jambi. Saat melakukan penggalian warga hanya bermodalkan peralatan sederhana. Seperti, linggis, sekop, dulang emas dan botol penampung emas, karung mengangkut batu ore.

Lazimnya, para penggali tidak dilengkapi peralatan khusus seperti blower, tali safety dan lainnya. Bagi warga yang nekat dan berani mengambil resiko, atau yang memiliki hajat, pasti mau memasukinya.

“Tapi kalau yang tidak punya hutang atau hajat, lebih banyak nebeng, di galian eksavator. Karena masuk dalam lubang itu resikonya nyawa juga bisa lunas,” bebernya.

Reza menuturkan, sudah banyak rekannya memasuki saung pelunas hutang itu, dan memang benar benar terbukti. Dalam satu karung batu ore, mereka bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp6-7 juta. Tapi tidak sedikit juga dia mendengar warga terjebak di dalam lubang akibat longsor.

“Saya terus terang saja tidak berani masuk lubang, dan lebih memilih nebeng meski resiko sama sama tertimbun,” ceritanya. Dia mengaku, saat nebeng digalian eksavator para pemburu emas itu juga di hadapkan dengan resiko serupa.

Karena mereka menggali batu ore di dinding curam dengan ketinggian sekitar 10 meter. “Bedanya kalau tertimbun ngelubang susah dibantu jika longsor, tapi kalau tertimbun saat nebeng sedikit lebih mudah di bantu karena posisi galian di ruang terbuka,” ujarnya.
Dia mengatakan, selama tujuh tahun terakhir sudah 70 orang lebih tewas tertimbun longsor akibat berburu emas di wilayah itu. Termasuk kejadian terakhir, tiga warga asal Muratara yang mati tertimbun tanah. “Sudah tiga orang Muratara mati di sana akhir akhir ini, satu dari Embacang, Karang Jaya. Dan terakhir baru baru ini dua orang dari Karang Anyar, Rupit,” tutupnya.

Ada alasan tersendiri, bagi masyarakat Muratara menuju wilayah Provinsi tetangga itu. Diantaranya kadar emas yang mereka dapatkan lebih tinggi dari daerah lain.

Di sungai minak, sungai tiku, Kabupaten Muratara kadar emasnya hanya 40 persen, masih terbilang emas muda. Kalau di sungai rupit dan rawas, Muratara kadar emas yang ditemui biasanya 60 persen, dan di singkut jambi kadarnya sangat tinggi bisa mencapai 80-95 persen.

Dalam satu hari biasanya warga mendapatkan emas dengan ukuran 3-5 sting, dengan perbandingan 7 sting sama dengan satu gram, dan satu sting sama dengan ukuran 10 lobang angin.

Biasanya masyarakat mengumpulkan hasil ngedulang selama tiga hari lalu bisa menjualnya ke pengepul secara mentah atau emas jadi yang sudah di olah dengan air perak.

Tapi khusus di wilayah Jambi, warga yang berburu emas bisa mendapatkan nilai lebih. Baik dari kadar emas, jumlah butiran emas dan uang hasil perburuan yang mereka dapatkan untuk di bawa pulang bisa lebih menguntungkan .(*)

Komentar

Berita Lainnya