oleh

Sebelum Pengeroyokan Sempat Terjadi Selisih Paham

SUMEKS.CO – Merasa tempat usahanya memiliki legalitas, Komisaris CV Lintang Karunia Alam, Heryanto Agus Wibowo angkat bicara terkait adanya pengeroyokan wartawan saat melakukan liputan di lokasi penambangan pasir miliknya di Desa Lebung dan Rantau Harapan, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin beberapa hari lalu.

Menurut Heryanto, peristiwa pengeroyokan wartawan di lokasi penambangan pasir, sebelumnya ada kejadian yakni penyetopan aktivitas tambang pasir sehingga terjadi salah paham.

“Ada lima orang warga yang juga menjadi korban pengeroyokan karena mereka tidak tahu menahu. Saat kejadian hanya menyeberang saja ke lokasi penambangan pasir. Sebelum kejadian pengeroyokan itulah sempat terjadi selisih paham,” terang Heryanto kepada awak media di Palembang belum lama ini.

Dia juga menjelaskan, yang melakukan pengeroyokan bukan pekerja ataupun karyawan tambang pasir. “Saya juga berharap dengan adanya kejadian ini, investor-investor yang lainnya bisa dilindungi dan jangan sampai dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi dan dendam pribadi,” beber Heryanto.

Pengeroyokan yang terjadi bukan pengeroyokan biasa karena ada penyebab. Penyebabnya adalah penyetopan penambangan pasir yang dilakukan oleh tiga orang yang sama dan diakui oleh lima orang warga yang juga menjadi korban pengeroyokan hanya diajak untuk menyetop penambangan di Desa Lebung dan mereka tidak mengetahui permasalahan.

“Klarifikasi kami dari CV Lintang Karunia Alam, merupakan tambang pasir resmi yang memiliki izin dari pemerintah Provinsi Sumsel maupun Pemkab Banyuasin. Dan CV Lintang Karunia Alam taat dalam membayar pajak pertambangan. Perlu diketahui pengeroyokan yang terjadi bukan pengeroyokan biasa dan ada penyebabnya,” jelasnya.

Untuk itu, selaku Komisaris CV Lintang Karunia Alam yang memiliki izin resmi dari pemerintah ia meminta keadilan dan merasa terganggu dengan penyetopan aktivitas penambangan yang dilakukan oleh segelintir oknum yang memiliki kepentingan pribadi.

“Kami turut andil kepada masyarakat sekitar tambang dengan memberikan CSR, di hari besar keagamaan kami berikan bantuan kepada masyarakat dan kami patuh membayar pajak jadi kami sangat terganggu dengan berita yang menyudutkan CV Lintang Karunia Alam sebagai penambangan yang tidak memiliki legalitas,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, seorang wartawan inisial DI, jurnalis media online di kabupaten Banyuasin mengalami penganiayaan oleh sekelompok orang tidak dikenal di Desa Lebung, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin, Minggu (7/3/2020) sekitar pukul 11.00 WIB.

Diduga DI dianiaya enam pelaku yang tidak dikenal, terkait peliputan mengenai penambangan pasir skala besar di wilayah tersebut. Atas penganiayaan itu, DI mengalami luka robek jari tangan tangan sebelah kiri, lebam di kepala bagian kiri, dan luka di bagian bahu sebelah kiri. Kemudian DI melaporkannya ke Mapolres Banyuasin usai berobat.

Sementara itu, Kapolres Banyuasin AKBP Danny A Sianipar, menyebut satu orang pelaku pengeroyokan terhadap DI, saat ini sudah diamankan pihaknya. “Saat ini masih dalam pemeriksaan dan mencari pelaku lainnya yang ikut melakukan pengeroyokan,” terang Danny singkat.(dho/qda)

Komentar

Berita Lainnya