oleh

Sederhana, Tidur Sekamar Berempat Saat Buat Perusahaan Baru

Sedih rasanya P Parno (H Suparno Wonokromo) meninggalkan kita semua. Tapi kan meninggal dunia itu tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Semua terjadi hanya dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Sunnatullah.

Banyak yang mengatakan pengalaman, adalah guru yang paling baik dan berharga. Dan pengalaman bersama Pak Parno cukup banyak yang bisa saya petik. Baik untuk bekerja sehari –hari, atau untuk diterapkan dalam pergaulan.

Salah satu yang saya ingat tentang sosok P Parno adalah kesederhanaannya. Sering P Parno itu tidur sekamar dengan saya kalau waktu rapat di Jawa Pos Grup. Baik rapat Tri Wulan membahas soal penerbitan, atau rapat percetakan. Kalau bos lain mana mau tidur berdua dengan karyawannya.

Bahkan saat membuka Koran Bandung Ekspres (Sekarang Jabar Ekspres), Saya tidur berempat dalam satu kamar. Saya, P Parno, Pak Arif Badi sekretaris WSM, dan Pak Yanto Radar Cirebon. ‘’Ini baru merintis perusahaan baru. Jadi kita tidur di hotel satu kamar saja, ya dek,’’ jelasnya. Waktu itu di Hotel Horison Bandung.

Sumatera Ekspres dalam Grup Jawa Pos waktu selalu meraih predikat bagus. Dan termasuk salah satu grup yang diperhitungkan. Dan rata –rata masuk tiga besar. Dan Pak Parno, Selaku PO, selalu meminta para managernya untuk realistis, hidup biasa-biasa saja.

Bisa dikatakan, Pak parno sangat menghargai anak buahnya dari pada menghargai dirinya sendiri. Kalau dapat nominasi atau juara, P Parno tidak pernah mau maju menerima penghargaan. Selalu meminta kepada Saya , atau karyawannya yang lain ke depan.

Soal disiplin juga tak bisa diragukan. Hampir selalu datang terlebih dahulu sebelum waktunya. Saat waktu sholat tiba misalnya. Pak Parno yang mengajak sholat berjamaah. ‘’Kamu jadi imam dek. Kamu kan lebih khusuk dari saya.’’

Dan pelajaran yang lebih dari P Parno adalah disiplin kerja. Semua karyawan diminta untuk menganggap perusahaan tempat kerja seperti perusahaan sendiri.

Makanya, soal persiapan bahan baku percetakan harus lebih untuk beberapa minggu ke depan. Pernah kertas belum sampai ke Palembang, untuk persiapan cetak seminggu ke depan. Pak Parno perintahkan untuk berangkat mengecek sampai di mana truk ekspedisi itu sampai. Degan cemas saya berangkat naik sepeda motor. Ternyata truk ekspedisinya sudah sampai Ogan Ilir. Sopirnya berhenti istirahat. Hp dimatikan karena sopirnya lagi berjudi.

Ya, Pak Parno mengingatkan kepada Saya dan kawan-kawan untuk berihtiar lebih baik. Agar tetap survive. Stok kertas harus lebih, termasuk tinta dan sparepart mesin harus terjaga. Karena persaingan di dunia media cukup tinggi.

Terimakasih Pak. Semoga husnul khotimah dan semua yang diberikan kepada Saya dan karyawan percetakan, semoga bermanfaat.

(H Mochamad Zadjuli Direktur Percetakan Sumex Intermedia Palembang Sumatera Selatan)

Komentar

Berita Lainnya