oleh

Sekolah Negeri di Ujung Angin, Belajar Komputer, Pakai Teori dan Papan Tulis 

MURATARA – Ketua fraksi PDI-P DPRD Provinsi Sumsel, Susanto Adjis, sambangi SMA Negeri Muara Kulam, yang dikenal dengan julukan sekolah negeri diujung angin.

Sekolah ini dianggap sekolah terpencil, jauh, plosok, tidak ada listrik, sulit dijangkau dan tidak ada sinyal telekomunikasi.

Sekolah negeri diujung angin, begitulah julukan yang disematkan sebagian masyarakat terhadap SMA Muara Kulam di Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Muratara yang berbatasan langsung dengan provinsi tetangga yang dibatasi perbukitan barisan di hutan taman nasional kerinci sebelat (TNKS).

Tidak mudah bagi warga pendatang menjangkau sekolah ini, karena hanya ada akses tempuh jalan darat yang belum begitu cukup baik. Susanto Adjis Ketua fraksi PDI-P DPRD dan sekertaris Fraksi Hj Rita Suryani yang mendatangi sekolah itu secara langsung Rabu (6/8), hanya bisa mengusap dada, karena melihat langsung keterbatasan sarana sekolah negeri diujung angin.

“Saya lihat banyak sarana prasarana dasar belum memadai,” ucap Susanto Adjis. Seperti listrik, sinyal telekomunikasi, kebutuhan lab praktik, lab fisika, kimia dan bahasa juga tidak ada. Padahal, semua itu menjadi penunjang landasan belajar mengajar agar lebih maksimal.

“Ini hampir terjadi di seluruh sekolah di wilayah perbatasan, tidka hanya di Muratara tapi di daerah lain juga. Wajar kalau di juluki sekolah negeri di ujung angin, karena mereka belajar dengan keterbatasan,” ujarnya.

Setelah mendengar secara langsung, keluhan pelajar di wilayah ini yang belajar komputer hanya menggunakan teori dan papan tulis yang di gambar keyboard. Susanto Adjis menimpali, tidak akan mungkin bisa maksimal. “Bagimana mau belajar komputer kamu listrik tidak ada, internet tidak ada. Kalau ada komputer juga listriknya mau dicolok kemana. Jelas itu tidak bisa maksimal,” jelasnya

Setelah menyerap aspirasi langsung di SMA Muara Kulam, dia berjanji akan membawa masalah ini di tingkat legislatif dan memperjuangkan ke tingkat Provinsi. “Masalah ini akan kita carikan solusinya bagaimana supaya listrik masuk, internet dan lainnya. Kami perjuangkan sesuai kapasitas kami di tingkat privinsi,” timpalnya.

Sementara itu, Dina salah satu pelajar SMA Muara kulam yang sempat di bincangi menuturkan. Mereka sangat menginginkan aliran listrik dan jaringan telekomunikasi masuk ke sekolah mereka. “kalau praktek komputer tidak ada disini, paling disuruh nulis teori di buku lalu dihapal. Disini tidak ada listrik dan internet,” tegasnya.

Sementara itu, kepala sekolah SMA Negeri Muara Kulam, Gunawan menuturkan memang saat ini di SMA mereka masih banyak kekurangan sarana dasar. Namun pihaknya yakin, meski mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di wilayah pelosok namun mereka bisa memerikan ilmu pengetahuan bagi anak didiknya.

“Kami hanya mengharapkan ada perhatian dari Pemerintah. Walau kami bekerja di pelosok jangan di lupakan, karena jangkauan kami ke Provinsi cukup jauh,” bebernya.

Pihaknya berharap, dengan kunjungan secara langsung dari ketua praksi PDIP DPRD Provinsi Sumsel, bisa membantu dan menyampaikan kendala pelajar dan pengajar dari wilayah terpencil. Dia juga menyampaikan sejumlah kendala lainnya, seperti yang dihadapi oleh guru honorer yang saat ini tidak lagi mendapat insentif tambahan.

Mereka berharap, anggota legislatif bisa menyampaikan ke Pemerintah, agar guru honorer di wilayah terpencil bisa diberikan SK khusus. Sehingga bisa mendapat tunjangan langsung dari kementerian pendidikan.”Sebelum diambil alih Provinsi, SK guru sekolah terpencil diajukan oleh pemerintah daerah. Tapi sekarang, kewenangannya sudah beralih ke provinsi,” tutupnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya