oleh

Sekretaris pun Tak Berguna

Hanida Syafrina
Manager Pemasaran Pal Tv

Di lantai 2 Graha Pena, ada ruangan yang menjadi tempat kerja Bapak Suparno Wonokromo. Kala itu tahun 2002, saya diminta menjadi sekretaris beliau. Layaknya sebuah perusahaan, seorang pimpinan biasanya punya sekretaris. Nah, jadi urusan lucu nih. Sebab penampilan bapak yang tidak mau menonjol dari karyawan, menjadi agak sulit bagi saya. Beliau belakangan memang jarang  mau pakai dasi, jas atau minimal kemeja lah.

Tiap hari pun baju kebangsaannya ya kaos, celana bahan dan sandal jepit. Itu saja. Hahahaha, lalu sekretaris harus berpenampilan bagaimana? Tapi tetap sajalah saya kenakan pakaian formal dengan sepatu high heel tiap hari plus make up lengkap.

Sosok beliau yang sangat sederhana dan santai menjadikan tugas seorang sekretaris nyaris tidak berfungsi. Bapak juga bukan tipe bos yang suka memerintah. Apa-apa dikerjakan sendiri, bahkan sepanjang saya di redaksi 1996-2002, bapak masih suka ngedit berita, khususnya halaman 1.

Jadilah sekretaris, tapi saya nggak punya kegiatan selain mengarsip laporan keuangan dari bagian keuangan, sekedar untuk disimpan dan disusun rapi di ruangan beliau. Termasuk novel Kho Ping Hoo beliau yang berjilid-jilid. (jadi hobi beliau waktu itu).

Penampilan beliau memang jauh dari perlente. Saya selalu mengingatkan untuk pakai sepatu jika ketemu klien. ‘’Wah dek, ini juga sepatu kok,’’ selorohnya santai. Sambil menunjuk sepatu gunung yang jadi favorit beliau. Bapak itu, nggak betah berada di ruangannya. Tempat favoritnya, yaitu di redaksi atau di percetakan yang ada di sebelah Graha Pena. Kalau tidak,  ya pasti adanya di tempat karaoke atau di rumah makan padang. bersama relasi.

Kumpul-kumpul di suasana berjuang bersama menghadapi persaingan pers saat itu, menjadi pelajaran yang aku terapkan sampai saat ini di Palembang TV. Tidak ada batasan antara bapak dengan karyawannya. Terlebih, beberapa senior aku waktu itu, umurnya memang gak jauh.

Tahun 2003, Koran Sumeks membentuk divisi baru yakni Sumeks EO. Masuk divisi EO Sumeks bersama GM Sumeks EO sekarang Zaitun dan Syafik Gani (mantan GM Pal Tv). Kami adalah orang yang bekerja bersebelahan dengan ruangan beliau.

Dan jabatan sekretaris tidak lagi digunakan, karena memang beliau bukan tipe bos yang perlu dilayani atau di dampingi. Ternyata juga, selama karir beliau menjadi CEO Sumbagel sampai beliau wafat (9 Desember 2020), tidak pernah lagi punya sekretaris pribadi. Bayangkan, membawahi lebih dari 20 anak perusahaan, beliau nggak perlu sekretaris. Saking nggak mau dibilang bos atau bergaya layaknya bos–bos.

Bekerja dengan bos seperti beliau sangatlah nyaman. Sebab, bapak ini tidak gampang marah. Kita saja kadang emosi melihat teman atau bawahan yang semena-mena. “Ya, sudahlah biarin aja, atau kamu tegur baik-baik yah.,”. Ini Kalimat yang biasa dilontarkan untuk yang melakukan kesalahan. Suaranya akan melengking, manakala ada karyawan yang sudah kelewatan, atau berani –berani ‘’memainkan uang perusahaan’’. Marahnya beliau dari lantai 1 sampai terdengar ke lantai 4 redaksi, saking nyaringnya. Sehingga kantor akan senyap seketika.

Suatu saat, dalam satu perjalanan tugas dari Sekayu ke Palembang. Dalam mobil itu ada Pak Parno, kak Syafik Gani, aku dan sopir beliau Tohir. Bapak punya keinginan membuat televisi lokal. Satu ide yang bikin takjub. Itu sekitar tahun 2004, beliau sangat menyukai wayang dan budaya Jawa. Sepanjang perjalanan dia ingin sekali membuat sebuah film seperti Saur Sepuh atau film kolosal Jawa lainnya. Tentu saja, kecintaan Jawa dan tokoh tokoh pewayangan tak luput dari celoteh beliau dan menjadi topik diskusi kami berempat.

Mewujudkan mimpi beliau, kami dukung penuh beliau membangun televisi lokal. Tentu saja belajar dari Jawa Pos TV,  JTV Surabaya yang duluan lahir. Cita-cita Pak Parno selalu tinggi, tinggal kita-kita yang ada di sekitar beliau yang mau atau tidak mau mendukungnya.

Beban moral dan pekerjaan yang dibebankan, seimbang dengan perlakuan beliau kepada kami. Dengan beliau, tinggal ngomong minta apa. Pengalaman ini pernah aku lontarkan. ‘’Pak Saya pengen ikut ke Beijing’’. Dan diajaklah saya ke Beijing bersama rombongan karyawan lain. Dengan beliau sepanjang kita bekerja baik, beliau akan lebih baik. Selama bergabung dengan Sumeks Grup, perjalanan ke luar negeri menjadi sangat biasa.

Di era digital dan media sosial yang begitu gencar. Hidup Koran Sumeks Grup pun, tak luput dari ancaman keterpurukan. Berdiri terus dan berjuang menjadi topik yang selalu beliau lontarkan di tahun-tahun terakhir ini. Aku pun, termasuk salah satu yang ‘’menyerah’’ karena serangan medsos ini. Salah satu tabloid milik Sumeks grup yakni Monica kami tutup.

Saya General Manager Monica waktu itu (tahun 2017). Ketemu beliau dan menyarankan untuk menutup Monica yang berdiri dari tahun 2006, tapi hidupnya megap-megap. Bapak sangat bijak. ‘’Kalau kamu hitung memang sudah nggak bisa dipertahankan, dan karyawan ngerti dan kita bisa bayar pesangon, yah kita tutup saja,’’. Close.
Tabloid Monica pun setop terbit.

Ada sedikit rasa berdosa, tapi secara matematis dan prospektif perusahaan memang sudah tidak bisa dipertahankan. Daripada jadi beban, terutama hutang cetak dan biaya produksi yang tidak seimbang dengan pemasukan. Dengan jiwa besar, Monica ditutup.

Yah, itulah Bapak Suparno Wonokromo. Pendengar yang baik, pemutus yang bijak, pemimpin yang mengayomi.

Rest in peace Bapak.

Komentar

Berita Lainnya