oleh

BPS: Sektor Manufaktur Terus Melemah

-Ekbis-57 views

SUMEKS.CO-JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi manufaktur besar, dan sedang (IBS) per kuartal III/2019 mencapai 4,35 tahunan atau year on year (yoy). Laju pertumbuhan produksi IBS tersebut lebih rendah dibandingkan performa kuartal III/2018 di mana pertumbuhan produksi IBS tercatat 5,04 persen (yoy).

Menanggapi data BPS itu, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, bahwa perlambatan sektor manufaktur per kuartal III/2019 hingga bulan Oktober 2019 disebabkan oleh faktor global.

Lanjut dia, menurunnya pertumbuhan produksi tidak lain disebabkan oleh permintaannya dari pasar luar negeri yang menurun.

Untuk mengerek pertumbuhan manufaktur, maka pemerintah akan mencari alternatif pengganti komoditas-komoditas. “Artinya kita harus cari komoditas-komoditas utama dan komoditas-komoditas yang bisa mengganjal,” ujar Airlangga di Jakarta, kemarin .

Salah satu produk yang akan didorong adalah tekstil dan produk tekstil (TPT) serta beberapa produk lain. Selain itu, pihaknya juga akan mengantisipasi gelombang proteksionisme dari negara-negara tujuan seperti yang terjadi di Vietnam.

Airlangga mengatakan bahwa saat ini Vietnam sedang merancang regulasi-regulasi yang membuat eskpor Indonesia yang completely build up (CBU) melambat.

Hal ini karena dalam regulasi baru yang dibuat oleh Vietnam, negara pengekspor harus mengirimkan barang dalam bentuk completely knock down (CKD). “Jadi mereka mengharap merakit di sana dan bukan dikirim dalam bentuk CBU, hal-hal ini yang harus kita antisipasi,” ujar Airlangga.

“Jadi jangan sampai kita nanti genjot ekspor tetapi impor kita juga naik, kita akan coba mendorong ekspor dengan subsitusi impornya,” sambung Airlangga.

Terpisah, Direktur Riset Centre of Economic Reform (CORE) Piter Abdullah mengatakan, perlambatan pertumbuhan setor manufaktur telah terjadi sejak lama, sejak zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Artinya, perlambatan sektor manufaktur terus berlangsung sampai sekarang karena pemerintah tidak pernah mengambil kebijakan yang sungguh-sungguh dan fokus untuk membangun kembali sektor manufaktur,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin.

Tak hanya itu, lanjut Piter, pemerintah juga tidak memberikan insentif dan mensinergikan kebijakan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya industri manufaktur. “Padahal ini sesunggunya sangat dibutuhkan oleh sektor manufaktur,” tukasnya.(din/fin)

Komentar

Berita Lainnya