oleh

Selamat Datang, Ramadan

RAMADAN kali ini datang dalam suasana dan situasi yang lain. Ramadan-Ramadan kemarin datang dan pergi seperti tidak meninggalkan bekas. Seperti hal-hal rutin lain yang datang: kita sambut seperlunya, kita rayakan, dan kemudian sudah.

Yang kita katakan ’’Ramadan Suci’’, kesuciannya tak (banyak) mempengaruhi pribadi kita, setelah pergi. Pribadi kita rata-rata tak terlalu berbeda dengan sebelum kedatangannya.

Memang, suasana kehidupan kita pada saat Ramadan kentara sekali berubah. Tapi perubahan-perubahan rutin juga yang setiap tahun begitu-begitu saja.

Jadwal makan yang biasanya di siang, menjadi malam hari dengan menu yang agak istimewa. Kebersamaan kita tetap kebersamaan yang lebih bersifat seremonial. Tarawih, tadarus, dan buka bersama.

Ini pun harus bersaing dengan tontonan televisi yang disiapkan secara spesial. Menyambut Bulan Suci dengan tayangan-tayangan semalam suntuk; untuk mengawani dan menghibur mereka yang di siang hari berjuang melawan lapar dan haus.

Pendek kata, keistimewaan Ramadan kemarin-kemarin justru lebih terlihat dari ’’kemeriahan’’-nya. Perbedaan lain –dibandingkan dengan kesibukan sehari-hari sebelum Ramadan– ialah: jatah kebersamaan kita dengan keluarga relatif agak lebih banyak.

Ramadan demi Ramadan, yang selalu kita sebut sebagai bulan suci, kemarin datang, umumnya tidak sampai kita cermati sebagai Saat anugerah Ilahi bagi penyucian diri, khususnya penyucian batin. Sebelas bulan, kebanyakan kita boleh dikata tidak pernah istirahat, sibuk dengan dunia kita dan sering kali kesibukan itu tidak sempat terpikirkan manfaat-mudaratnya.

Sebelas bulan, kebanyakan kita nyaris tidak pernah dengan sengaja bersendiri dengan diri sendiri dan Allah untuk sekadar merenungkan apa yang sudah kita lakukan –sebagai hamba mukmin– selama 11 bulan kehidupan kita bagi kepentingan kita pribadi, terutama di alam keabadian kelak.

Jangankan dengan diri dan Tuhan kita, dengan keluarga kita sendiri, banyak di antara kita yang berjarak. Dunia dan duniawi benar-benar telah menyihir kita sedemikian rupa, sehingga kita tak mampu lagi membedakan antara mana yang muhim (penting) dan yang tidak; apa pula antara yang muhim dan yang aham (yang lebih penting) bagi kepentingan hakiki kita.

Untunglah, Allah begitu baik dan sayang kepada kita. Alih-alih Dia murka karena kita tak juga mengindahkan ’’pelajaran’’ atau isyarat-Nya berulang-ulang untuk ’’membuat jarak’’ dengan dunia yang menipu, Dia justru menolong kita dengan cara yang unik. Menolong dan sekaligus memberi pelajaran yang dahsyat kepada kita.

Kalau selama ini kita –yang sebenarnya diangkat menjadi khalifah-Nya, menjadi penguasa dunia– justru seperti takluk dan tunduk di bawah kekuasaan dunia, maka melalui makhluk-Nya yang mahalembut, Dia paksa dunia seisinya –termasuk kita yang sok akbar– untuk berhenti berputar.

Kita sendiri dipaksa membuat jarak dengan sesama makhluk, untuk dapat menyendiri dengan Sang Khalik. Sesuatu yang mungkin luput dari pemahaman kita setiap kali datang Ramadan selama ini; satu dan lain hal karena kita terlalu fokus pada menahan lapar-haus dan pahalanya saja.

Kini Ramadan datang dalam kondisi yang sangat membantu kita untuk sepenuhnya menghayati kesuciannya. Bukan hanya menahan lapar di siang hari dan kemudian kembali ’’ingar-bingar’’ di malam hari. Dalam kesenyapan dan kesendirian, kesyahduan ibadah kita menjadi semakin terpusat.

Dengan perhatian kita yang semakin sungguh terhadap kesucian raga, kita menjadi teringat kepada pentingnya kesucian jiwa pula. Dengan ’’istirahat’’-nya dunia dan kendurnya godaan segala yang bersifat duniawi, kita bisa lebih kondusif dan khusyuk menyendiri dengan diri kita dan Tuhan kita. Dan kita bisa lebih fokus kepada bagian kehidupan kita yang lebih hakiki dan abadi. Masa depan kita yang sesungguhnya. Akhirat.

Selamat datang, Ramadan. Semoga kedatanganmu kali ini lebih memberi manfaat dan keberkahan kepada kita. Semoga kali ini kita –hamba-hamba yang daif ini– dapat lebih mendahulukan hak Allah dan kewajiban kita daripada hanya mengedepankan kepentingan kita sendiri. Semoga. (jawapos)

A. MUSTOFA BISRI  Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang

Komentar

Berita Lainnya