oleh

Selamat Jalan Pak Hamka

-Headline-2.651 views

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah sahabat terbaik kami, yang sangat kami sayangi dan cintai Hamka bin Abdullah,” tulis akun facebook, Noparina Bahraq, manager Radio Sumatera Ekspres (Sumeks).

“Almarhum akan dikebumikan di kampung halamannya di Sulawesi, hari ini, Jumat (15/2). Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, aamiin,” tulisnya.

Kontan laman duka facebook mbak Nova banjir ucapan  ‘sympathize’. Tak henti teman mengomentari postingan duka itu dengan ucapan belasungkawa dan doa. 

Ya, Pak Hamka Abdullah telah berpulang. Mantan manajer pracetak, senior layout yang punya banyak jasa, dan penghargaan untuk perwajahan koran harian Sumatera Ekspres.

Terakhir almarhum menjabat manajer umum dan SDM Sumeks. Pak Hamka tutup usia karena sakit di RS Bunda, Kamis (14/2), pukul 09.15 WIB.

Hamka menunjukkan cara me-layout koran Sumeks lewat komputer (17 Desember 1999). Pada 1992 Sumeks di-layout secara manual. Foto: doc/Sumeks.
Hamka Abdullah

Selamat Jalan Kawan Seperjuangan Hamka bin Abdullah. Sama2 Perintis Pendirian Koran Sumeks. Semoga Allah Ampuni Dosa2mu dan Menerima Segala Amal Kebaikanmu. Aamiin,” posting @MasJazuli atau HM Zadjuli, direktur PT Sumex Intermedia, juga di akun facebooknya.

Sama dengan Mas Zadjuli. Pak Hamka juga perintis koran terbesar di Sumatera Selatan itu. Yang pembacanya terbanyak. Yang terus menjadi koran nomor satu di Sumsel, hingga kini.

Mahmud (sekarang GM Sumeks. Co) Zadjuli (sekarang direktur percetakan) dan Zaidin berkutat di percetakan lama (1996). Foto: do/SE.

Akun facebook Mas Tj. @kakekteje atau Kang Triono Djunaidi bahkan menulis panjang tentang almarhum.

“IN MEMORIAM  Selamat Jalan Hamka,” tulis mantan redaktur senior Sumeks dan GM koran Sumeks Minggu, ‘Sumatera Hari Ini’.

Mas Tj juga mengenang saat susah dan sulit membantu membesarkan koran Sumatera Ekspres. “Negosiasi Buntu, Hanya ada satu kata MOGOK!” kutipnya.

Divisi redaksi Sumeks 1995 masih kekurangan personel. Foto: doc/SE.

Kutipan ini diambil dari buku yang dia tulis bersama Anto Narasoma, juga redaktur dan mantan wartawan senior Sumeks. Judulnya: “Detik-detik Menegangkan di Ruang Redaksi”.

Buku detik-detik menegangkan di ruang redaksi. Ditulis T Junaidi dan Anto Narasoma. Foto: julheri/sumeks.co.

“Ya, mogok! Semua karyawan mogok kerja. Itulah satu dari 36 judul dalam buku saya Detik-Detik Menegangkan di Ruang Redaksi, cetakan pertama Januari 2010,” ungkapnya.

Katanya, situasi kantor saat itu tegang karena ada pergantian pemimpin baru yang kurang disukai karyawannya, yaitu Suparno Wonokromo yang menggantikan Darul F.

Koran Sumeks Tempo Doeloe. Foto: doc/SE.

Hampir 99 persen karyawan bagian percetakan mogok dan pulang ke Surabaya. Alasan tidak senang dengan Suparno W,  dan berhembus kabar karena Suparno kaku dan galak.

“Meski semua bubar, Hamka Abdullah  yang saat itu bersama saya pernah belajar layouter di Jawa Pos 1995, merasa kelabakan karena tak mampu bekerja sendiri,” kenangnya. 

“Saya berbagi tugas bersama Hamka, saya mengerjakan khusus mingguan, dari halaman 1 sampe halaman 12, mengetik beritanya sekaligus melayoutnya, sedangkan Hamka melayout khusus harian,” tulisnya lagi. 

Kantor Sumeks 1995. Foto: doc/SE.

“Juga sendirian mengerjakan halaman 1 sampe halaman 12.  Dari sini koran bisa terbit rutin meskipun tertatih-tatih sembari mencari tenaga kerja baru. Tentu mencari tenaga baru tidak gampang, karena kerja di Sumeks saat itu blm bisa menjanjikan gaji,”

Seiring dengan perjalanan waktu dan rutinitas terbit dan merekrut karyawan baru, akhirnya Sumeks berjalan, meski masih belum laku dijual.

Suparno Wonokromo yg datang ke Sumeks setelah Sumeks ‘berdarah-darah’ 6 bulan,  mencoba meyakinkan kawan-kawan bahwa dirinya bisa bekerja sama.

Maka pada hari tertentu, semua karyawan diajak hiburan, jalan-jalan dan makan-makan. Bagi Suparno, Hamka ini diibaratkan ‘malaikat’ penyelamat Sumeks.  

Karena tenaga layouter hanya dia yang masih mau bertahan. Tanpa layouter, berita wartawan tidak bisa diterbitkan jadi koran.

“Kawan seperjuangan itu, hari ini telah meninggalkan kita menghadap Allah SWT karena sakit,”

Selamat jalan kawan seperjuangan. Kini Sumeks sdh mampu memakmurkan karyawannya.

Smoga Allah memberimu tempat yang layak. Amin, tutupnya. (julheri)

 

Komentar

Berita Lainnya