oleh

Selisih Harga Jauh, Petani Karet Ini Shock

SEKAYU – Wayan Gancang petani karet asal Kelurahan Karya Makmur, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Bagaimana tidak, transmigran asal Bali ini mendapati harga jual getah karet di pelelangan UPPB Desa Cipta Praja, Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) pekan ini mencapai Rp9.568 perkilogram.

“Benar-benar kaget saya pak, itu padahal harga getah karet mentah (karet mingguan.red). Sementara di kita yang sudah karet kering atau bulanan, cuma Rp8.600 perkilogram, bener-bener jauh selisihnya,” ujar Wayan. Saat mengikuti program studi banding di UPPB Desa Cipta Praja, Kecamatan Keluang, Muba, Rabu (17/7).

Wayan menuturkan, getah karet mingguan ditempatnya saat ini dikisaran Rp6-7 ribuan. Dia meyakinkan, untuk Kabupaten Muratara, ditempatnya merupakan tempat dengan harga jual getah karet tertinggi di Kabupaten tersebut. “Tapi selisihnya karet mingguan dengan di pelelangan UPPB Muba ini jauh sekali sampai Rp2.500-3.500 perkilogram,” tukasnya.

Karenanya dia berkeinginan belajar dan berharap agar sistem serupa juga bisa diterapkan di Muratara. “Kendalanya mungkin menyatukan petani dan meyakinkan mereka untuk berkelompok dan bisa konsisten,” terang Wayan.

Wayan sendiri bersama sejumlah perwakilan petani hingga pengepul karet di Muratara mengikuti program studi banding di UPPB di Kabupaten Muba. Lantaran sudah dinilai sangat berhasil dan konsisten. “Saya sudah keliling di desa-desa Muratara harga cuma 4 ribu sampe 6 ribu. Saya ketemu petani mereka berharap sudah mencapai 7 ribu saja jadilah. Ini di pelelangan UPP Muba bisa sampai Rp9.500-an. Makanya kita ingin belajar di Muba karena kita anggap sudah berhasil,” beber Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni. Yang memimpin rombongan studi banding petani Muratara dalam sambutannya.

Wakil Bupati Muba Beni Hernedi menegaskan prinsip dasarnya yang dilakukan Pemkab Muba dengan keberadaan UPPB adalah menciptakan pola yang fair bagi petani karet maupun juga pihak pembeli. Dalam artian selain petani menjamin kualitas. Pihak pembeli melakukan proses pembelian dengan sistem lelang yang adil hingga menghadirkan harga terbaik.

“Selama ini kan lewat tengkulak kadang maaf ‘sekendak-kendak’ harganya, sekarang prosesnya transparan. Kita juga menerapkan sistem reward dan punishmen, yang berhasil kita beri penghargaan berupa bantuan mesin dan lainnya,” tukasnya.

Kedepan kata dia arah kebijakan Pemkab Muba adalah hilirisasi karet. Salah satunya dengan mengajak petani memproduksi lateks, kemudian mengupayakan industri yang berbahan baku karet bisa hadir di Muba. (Kur)

Komentar

Berita Lainnya