oleh

Sepeda Masa Depan

Pandemi ini bukan hanya mengubah perilaku sosial sehari-hari. Bagi yang berpikir ke depan, pandemi ini juga menjadi momen untuk “kalibrasi” ulang. Masa depan yang direncanakan bisa “belok,” dan harus dirancang ulang supaya tidak telanjur salah jalan.

Contoh paling sederhana: Sepeda.

Penduduk bumi sudah hampir 8 miliar orang. Kota-kota makin padat. Negara kita, sebelum pandemi, masih bingung menentukan masa depan transportasi seperti apa. Mass rapid transit alias sarana transportasi massal belum tereksekusi merata. Jakarta saja barusan punya MRT.

Kita harus berterima kasih pada sepeda motor, yang jadi penggerak ekonomi masyarakat kebanyakan. Ideal atau tidak itu urusan berbeda.

Pertanyaannya: Apakah mass rapid transit masih jadi masa depan? Saya bukan pakar transportasi, dan tidak akan sok tahu soal ini. Tapi mungkin pembaca bisa ikut merenungkan.

Kalau acuannya negara maju, maka banyak negara itu sekarang justru menimang-nimang masa depan transportasi massal. Gara-gara pandemi, banyak negara maju menghentikan operasional transportasi massal seperti bus atau subway atau sejenisnya. Atau paling tidak memberlakukan pengetatan.

Masyarakatnya pun menghindari transportasi massal itu, supaya tidak tertular Covid-19.

Negara-negara yang pintar pun melakukan antisipasi-antisipasi terkait masalah ini. Perancis misalnya, menggunakan masa-masa lockdown kemarin untuk menambah infrastruktur sepeda. Juga memberi subsidi 50 Euro bagi warga yang ingin menservis sepedanya, untuk digunakan beraktivitas. Program ini dinamai “Coup de Pouce Velo.”

Pemerintah Italia tidak ketinggalan, memberi subsidi atau potongan pajak sebesar 500 Euro bagi warganya yang ingin beli sepeda.

Penjelasan paling mudah dipahami bisa didapatkan dari Inggris, di mana Menteri Perhubungan Grant Shapps telah mengeluarkan program besar untuk mendorong “transportasi aktif” menuju “era baru bersepeda dan jalan kaki.” Total investasi untuk jalur dan fasilitas sepeda itu bernilai hingga 2 miliar poundsterling.

Kenapa sampai begitu? Karena pasca pandemi, pemerintah-pemerintah itu khawatir orang justru semakin menggunakan mobil/kendaraan bermotor pribadi. Itu berarti menambah masalah kemacetan sekaligus problem lingkungan.

Dengan gencar mempromosikan “transportasi aktif” seperti jalan kaki dan –khususnya– bersepeda, ada banyak nilai positif yang dianggap bisa diraih. Selain kemacetan mobil dan lingkungan, juga membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Itu berbuntut berkurangnya beban biaya kesehatan di masa mendatang.


Jalur sepeda dan pejalan kaki di jembatan Golden Gate mulus meskipun juga ada utilitas drainase.


Jalan raya khusus sepeda di pegunungan Colorado.

Berdasarkan pengalaman pribadi, sebelum pandemi ini, jalan menuju ke sana tampaknya sudah lama dirintis. Mungkin baru dikebut setelah pandemi ini terjadi.

Di Amerika dan Australia, jalan khusus sepeda menghubungkan satu kota dengan yang lain sudah sangat banyak. Bukan sekadar jalan setapak selebar trotoar, melainkan benar-benar jalan aspal lebar multi-lajur.

Pada 2013 di Colorado, Amerika, dulu, saya dan beberapa teman sudah merasakan gowes dari satu kota ke kota lain. Jaraknya ratusan kilometer naik sepeda. Tanpa ketemu jalur mobil! Ketika jalan tol/highway dibangun dan digunakan mobil, jalan-jalan “lama” antar-kota yang lebih sempit itu lantas didedikasikan untuk jalan khusus sepeda.


Gowes di jalur khusus sepeda di Richmond, Virginia.

Banyak perusahaan juga memberi insentif bagi karyawannya yang ngantor tanpa kendaraan bermotor. Khususnya yang terkait industri sepeda. Chris King, sebuah pabrik komponen besar di Portland, Oregon, punya skema menarik. Karyawan yang bersepeda ke kantor diberi makan siang gratis. Yang berbagi kendaraan dengan karyawan lain makan siangnya didiskon separo. Yang naik mobil sendirian bayar makan siang penuh.

Kalau di Eropa, ya memang sepedaan tradisinya dari sana. Langkah-langkah transportasi di Perancis, Italia, dan Inggris menegaskan itu.

Sepeda pun jadi booming. Di seluruh penjuru dunia. Tapi di negara-negara maju booming-nya sebagai sarana transportasi. Olahraganya juga ikut terdorong pesat. Bukan sepeda untuk nongkrong, bukan sepeda untuk gaya-gayaan, apalagi gengsi-gengsian.

Kasihan juga yang punya pabrik Brompton di Inggris. Sepedanya kan dibuat untuk tuntutan transportasi praktis dalam kota. Bukan jadi barang mewah dan alat mejeng.


Jalur sepeda khusus di Adelaide, Australia.

Dan, booming itu didorong dan difasilitasi oleh pemerintahnya. Sekali lagi, jalur/jalan khusus sepedanya beneran. Bukan jalur sepeda pura-pura. Alias sebagian aspal yang dicat berwarna beda, lalu digambari sepeda. Apalagi letaknya di bagian pinggir yang penuh dengan saluran drainase yang justru berbahaya untuk sepeda!

Jalur sepeda beneran, bukan jalur sepeda pencitraan.

Pandemi ini benar-benar membuat kita harus mengkalibrasi pemikiran tentang masa depan. Termasuk soal transportasi. Lima tahun lagi seperti apa, sepuluh tahun lagi seperti apa, lalu 15, 20, dan 25 tahun.

Perencanaan yang benar-benar untuk masa depan masyarakat, bukan perencanaan cukup sampai masa jabatan… (Azrul Ananda)

Komentar

Berita Lainnya