oleh

Serangan Harimau Reda, Kali Ini Vila di Pagaralam Tutup Gara-gara Corona

PAGARALAM – Baru saja mulai ‘pulih’ dari dampak serangan harimau di wilayah sekitar kaki gunung Dempo beberapa waktu lalu, insiden yang berdampak pada jumlah wisatawan yang datang ke kawasan wisata Gunung Dempo dan Pagaralam turun drastis.

Sekarang, di tengah pandemi covid-19, kembali pengusaha vila, penginapan, homestay dan hotel di Kota Pagaralam mengalami dilema.

Biasanya, sebelum puncak kunjungan wisatawan pada libur lebaran Idul Fitri yang diperkirakan pada minggu terakhir Mei mendatang, hingga hari ini sejumlah objek wisata di kawasan Gunung Dempo terlihat lengang dan sepi pengunjung, untuk mengatakan tidak adanya pengunjung atau wisatawan yang datang.

Di sisi lain, dengan tidak adanya wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata di Pagaralam, berimbas secara drastis pada tingkat hunian (okupansi) vila, penginapan dan hotel-hotel yang langsung terhenti.

Dikatakan pengelola/owner Vila Permata Bunda, Heru Aquardo, sejak pemberlakuan Social Distancing, pihaknya melaksanakan dengan melakukan penutupan, alias non aktivitas.

“Sedangkan karyawan/pegawai sendiri, sejak pertengahan Maret dengan terpaksa untuk sementara ‘dirumahkan’. Tidak di-PHK. Namun untuk menghindari penyebaran virus, sesuai dengan imbauan dan aturan pemerintah, mereka (pegawai) ‘dirumahkan’ tanpa kompensasi. Sebab memang tidak masukan secara finansial,” ungkapnya dengan nada pasrah.

Sementara M Ramadian, pengelola vila di Pagaralam sudah menerima 130 pembatalan setelah adanya pandemi covid-19. “Untuk sekarang pastinya sudah tidak ada wisatawan yang berkunjung. Saya sebagai pengusaha tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya pasrah dengan kondisi ini,” kata Dian, sapaan akrabny.

Keadaan ini memaksa Dian merumahkan empat karyawan, untuk menutupi operasional 22 vila yang dikelolanya. Bahkan salahsatu restoran yang dikelolanya di kawasan kaki Gunung Dempo berhenti beroperasi akibat sepinya para wisatawan. “Di Pagaralam ini hanya ada dua momen, lebaran dan tahun baru. Namun untuk lebaran tahun ini sudah tidak bisa apa-apa lagi,” imbuhnya.

Senada dikatakan oleh Sugiyanto SE, pengelola Perdana Hotel, yang merasakan dampak paling telak akibat pandemi covid-19. “Inilah mas. Sangat dilema bagi kami pengelola hotel. Tamu sama sekali tidak ada, otomatis pendapatan juga nggak ada.

Sementara, karyawan juga butuh juga makan. Alhamdulilah, kalau sampai akhir Maret kemarin masih bisa bertahan dan masih digaji, entah untuk selanjutnya. Hanya bisa berharap dan berdoa semoga masalah corona bisa segera berakhir,” ungkapnya. (ald)

Komentar

Berita Lainnya