oleh

Setrum dan Racun Buat Hasil Ikan Anjlok

PALI – Memasuki musim kemarau 2020 ini, sepertinya ikan di berbagai sungai di wilayah Bumi Serepat Serasan tampak melimpah. Untuk itu, semua pihak wajib untuk menjaganya dari tangan-tangan nakal yang suka menyetrum dan meracun sungai untuk menangkap ikan.

Hal itu dikatakan, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dari fraksi PKS, Edi Eka Puryadi saat ikut serta dalam kegiatan patroli dan penelusuran aset Desa Air Itam, Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI di sepanjang aliran sungai maupun suak bersama pemerintah desa dan warga setempat.

“Jangan pernah racuni sungai atau menggunakan setrum ketika menangkap ikan. Karena hal itu dapat merusak ekosistem ikan yang ada di sungai. Mari bijak memanfaatkan sumber daya alam dengan menggunakan alat penangkap ikan yang ramah lingkungan,” ajak anggota dewan kelahiran Desa Air Itam ini.

Ditegaskanya, aksi menyetrum atau meracun ikan, serta menngunakan alat penangkap ikan yang dilarang pemerintah, bakal berhadapan dengan hukum. “Ada undang-undang yang mengatur tentang penangkapan ikan, yakni UU no 31 tahun 2004 dan UU no 45 tahun 2009 yang melanggar diancam penjara maksimal 6 tahun atau denda Rp 1,2 M. Jadi kami berharap warga yang biasa menjadi nelayan atau pencari ikan untuk menghindari hal itu daripada tersandung hukum,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Air Itam Agus Salim mengatakan, bahwa kegiatan tersebut dalam rangka mensosialisasikan ke masyarakat dengan memasang spanduk larangan untuk tidak menggunakan racun dan setrum dalam menangkap ikan.

“Karena apabila menggunakan racun atau setrum nelayan tradisional gigit jari. Ada lebih 200 Kepala Keluarga yang tinggal di Desa Air Itam bergantung kehidupanua dari hasil ikan di sungai ini. Apabila di racun, tentu saja ekosistem rusak dan secara otomatis penghasilan nelayan berkurang. Dalam menjaga ekosistem dan menjaga aset desa, kami berpatroli bersama masyarakat dan perangkat desa serta BPD didukung juga anggota dewan agar masyarakat sadar akan kelangsungan ekosistem air,” ungkapnya.

Untuk aset desa, diakui sejak adanya kasus penangkapan ikan menggunakan racun dan setrum, lelang sungai jatuh harganya lantaran hasil ikan jauh berkurang.

“Lelang sungai kalau tahun lalu bisa mencapai Rp100 juta pertahun, tetapi tahun ini jatuh, paling tinggi hanya mencapai Rp10 juta pertahunya,” pungkasnya. (ebi)

Komentar

Berita Lainnya