oleh

Sidang Diskors, Terdakwa Minta Saksi Disumpah

KAYUAGUNG – Sidang lanjutan kasus kepemilikan ekstasi dengan terdakwa Mgs Ahadi (23) kembali digelar. Tapi pemandangan berbeda terjadi. Pasalnya, sidang sempat diskors oleh ketua majelis hakim Djarot Widyatmono karena terdakwa minta saksi Andi disumpah dengan Alquran karena dianggap telah berbohong saat mendengarkan keterangan dari penyidik.

Saksi verbal Andi dan Lupi yang merupakan dua penyidik dari Satres Narkoba Polres Ogan Ilir mengatakan tidak ada penekanan dalam penandatanganan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terdakwa. Bahkan terdakwa juga mengakui dan mengetahui kalau barang bukti narkoba itu milik Dita yang dititipkan kepada terdakwa.

“Kami sempat bertanya apakah kondisinya sehat jasmani dan rohani saat penandatanganan BAP,” terangnya di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Kamis (13/6).

Terkait proses selama BAP hingga penandatanganan, saksi Andi menyatakan bahwa terdakwa didampingi pengacara yakni Herman SH, tapi terdakwa mengaku dirinya saat itu tidak mengetahui kalau orang yang berada di sampingnya itu adalah kuasa hukum.

Terdakwa Mgs Ahadi membenarkan, jika tanda tangan yang ada di BAP miliknya, karena ia dipaksa hingga dipukuli. Bahkan pada saat kejadian ia dilarang menelpon keluarga untuk memberi tahu permasalahan ini.  Sehingga ia keberatan dengan keterangan saksi verbal lisan ini, yang dianggapnya bohong.

Penasehat hukum terdakwa, Abdul Rahman SH akan mengajukan saksi ahli dalam persidangan, karena penangkapan terhadap kliennya ini di rekayasa oleh oknum polisi. “Klien saya merupakan hafiz dan tidak pernah memiliki narkoba, jadi kami akan berjuang agar kalian kami bisa dibebaskan,”tegasnya.

Menurut Abdul Rahman, kliennya yang merupakan Hafiz Quran tidak pernah sama sekali menggunakan narkoba. Barang bukti yang ditemukan di dalam jaket terdakwa saat penangkapan bukan milik terdakwa. “Saat diperiksa di Polres OI, terdakwa dipaksa untuk mengakui, begitu juga dalam pemeriksaan jaksa, klien kami tidak mengakui kepemilikan barang bukti narkoba tersebut.

Penasehat hukum terdakwa menduga barang bukti tersebut sengaja dimasukan seseorang bernama Dita, yang sebelumnya berada dalam mobil dengan terdakwa. “Terdakwa berangkat dari Palembang menuju Indralaya Ogan Ilir ini atas permintaan Dita. Dita ini temannya rekan sekolah terdakwa saat SMA. Namun beberapa saat belum ditangkap, Dita keluar dari mobil dengan alasan membeli pembalut, sedangkan terdakwa dikasih uang Rp100 ribu oleh Dita untuk mengisi minyak di SPBU Romi Herton di Indralaya Utara.

Saat berada di SPBU inilah, sejumlah anggota Satres Narkoba Polres Ogan Ilir langsung menggeledah mobil terdakwa dan langsung mencari jaket milik terdakwa yang sebelumnya diduga ditaruh barang bukti narkoba sebanyak 19 butir.

“Kami mempunyai bukti percakapan via WhatsApp antara oknun polisi bernama Jodi dengan Dita.”Dalam percakapan ini semua rekayasa untuk penangkapan ini sudah diatur,” bebernya.

Ketua Majelis Hakim, Jarot Widiyatmono SH menjelaskan, pihaknya memperbolehkan untuk menghadirkan saksi ahli, tapi harus dari kalangan akademisi ataupun orang yang memang diyakini mampu memberikan keterangan yang baik. Saksi ahli ini akan dihadirkan saat sidang lanjutan pada (23/6) mendatang. (uni)

Komentar

Berita Lainnya