oleh

Sidang Gugatan Sengketa Vihara, Penggugat Berharap Dikembalikan Ke Aliran Semula

SUMEKS.CO,- Majelis hakim PN Palembang diketuai Efrata Hepi Tarigan SH MH, Selasa (23/2) kembali menggelar sidang gugatan dugaan perbuatan melawan hukum status kepemilikan dan perubahan nama rumah ibadah (Vihara) Yayasan Bhakti Dharma Yana yang terletak di Jl. Veteran (Sungai Bendung) tepatnya belakang pos polisi veteran Palembang.

Dalam sidang yang mengagendakan pemeriksaan gugatan dihadiri oleh kedua belah pihak yakni dari pihak penggugat selaku pemilik asli tanah dan gedung yakni Husni Thamrin, Tjandra Husin serta Oesman Toyib yang diwakili penasihat hukum Barata Agustian SH.

Sedangkan pihak tergugat yakni Yayasan Vihara Dharma Bakti Yana, dan turut tergugat lainnya yakni Notaris, Kakanwil Kemenkumham Sumsel, Kakanwil Kemenag Sumsel, serta Kepala Kantor Pertanahan Kota Palembang.

Usai majelis memeriksa kelengkapan dokumen dari masing-masing pihak yang dinyatakan lengkap dan dapat dilanjutkan proses persidangan pada tahap selanjutnya yaitu mediasi terlebih dahulu kepada kedua belah pihak untuk upaya perdamaian.

“Kita mengharapkan adanya kesepakatan perdamaian dari kedua belah pihak terlebih dahulu, namun apabila kesepakatan gagal maka pokok perkara gugatan akan dilanjutkan ke tahap pembuktian dari masing-masing pihak,” kata Efrata.

Untuk itu sidang akan dilanjutkan pada Selasa pekan depan dengan agenda Mediasi yang akan dipimpin oleh hakim mediasi Paul Marpaung SH MH.

Ditemui usai sidang, penggugat bernama Husin Thamrin yang turut hadir dipersidangan berharap agar masalah ini bisa diselesaikan secepatnya agar umat dapat beribadah dengan tenang.

“Selain kami menggugat sertifikat gedung vihara itu dikembalikan ke pemilik semula, serta menginginkan
dikembalikannya aliran ibadah semula dianut bukan malah diubah ke aliran ibadah lainnya,” beber Husni kepada SUMEKS.CO.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya perdamaian serta adanya ganti rugi dari pihak tergugat, Husin dengan lantang menolak berapapun nominal ganti rugi yang diajukan karena tujuan bangun gedung tersebut memang untuk sarana beribadah.

Hal senada juga diungkap, Barata SH selaku kuasa hukum dari kantor hukum Mr. Soki SH MH mengatakan penggugat masih menunggu hasil mediasi yang nantinya akan menentukan apakah gugatan ini berlanjut atau tidak.

“Kita tunggu mediasinya nanti, yang pasti kita tetap mendampingi dan melakukan upaya hukum selanjutnya apabila mediasi tersebut gagal,” singkatnya.

Adapun kronologis perkara gugatan ini terjadi, bermula tiga orang penggugat yakni Husni Thamrin, Tjandra Husin serta Oesman Toyib selaku pemilik asli tanah sekaligus pendiri vihara mulanya bernama Yayasan Fajra Padma.

Karena seiring waktu, pihak penggugat menyerahkan pengelolaan gedung vihara kepada pihak lain dalam hal ini menjadi pihak tergugat, akan tetapi dalam perjalanannya justru pihak tergugat malah mengganti nama yayasan menjadi Yayasan Bhakti Dharma Yana tanpa persetujuan penggugat terlebih dahulu. (Fdl)

Komentar

Berita Lainnya