oleh

Sidang Lanjutan: Untuk Kecantikan, Pinangki Keluarkan Uang Segini …

SUMEKS. CO – Dokter kecantikan Olivia Santoso mengaku mengenal sosok Pinangki Sirna Malasari yang duduk sebagai terdakwa kasus gratifikasi kepengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra. Olivia mengenal Pinangki sejak 2013 lalu.

Menurut Olivia, mengenal sosok Pinangki saat dirinya masih bekerja di sebuah klinik. Saat itu kedatangan sosok Pinangki yang hendak berobat suntik vitamin C. Karena sejak 2013 hingga 2020, Pinangki rutin melakukan suntik multivitamin. Hal ini yang mendasari Olivia bisa mengenal dengan Pinangki.

“Sejak tahun 2013 rutin sampai tahun 2020 suntik multivitamin,” kata Olivia bersaksi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (2/12).

Terdakwa kasus suap dan gratifikasi pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra, Pinangki Sirna Malasari bersiap menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (25/11/2020). Sidang tersebut beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni mantan Pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking dan Andi Irfan Jaya. (Dery Ridwasah/ JawaPos.com)

Olivia mengaku, dirinya merupakan dokter kecantikan sekaligus kesehatan bagi keluarga Pinangki. Dia membeberkan, sekali datang ke rumah Pinangki, bisa menerima bayaran sebesar Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu. Dengan nominal tersebut, Pinangki mendapatkan sejumlah pelayanan dari sang dokter. Seperti suntik alergen, botok, hingga kolagen.

“Rp 300 ribu per datang, kalau malam atau weekend Rp 500 ribu, (treatment) suntik alergen, suntik vitamin, suntik botok, kolagen itu untuk kerutan. Untuk kesehatan kulit misalnya bila ada yang tidak simetris,” ungkap Olivia.

Selain itu, Pinangki juga kerap menjalani pemeriksaan kesehatan berupa rapid test. Dia menyebut, alat rapid test yang digunakan berasal dari Korea Selatan dengan kisaran harga Rp 9 juta hingga Rp 19 juta. “Ya betul (terdakwa rapid test). Sekitar 9 juta sampai Rp 19 juta tergantung jumlah strip rapid tes,” beber Olivia.

Olivia membeberkan, Pinangki memesan sebanyak 25 strip rapid test saat pandemi Covid-19 baru masuk Tanah Air. Bahkan, Pinangki memesan alat khusus dari Korea Selatan. “(Sebanyak) 25 strip, waktu itu masih awal pandemi, harga mahal, dan mintanya yang request merek Korea,” tutur Olivia.

Terkait perawatan kesehatan, sambung Olivia, bukan hanya Pinangki seorang. Menurutnya, pelayanan kesehatan juga diberikan kepada keluarga dan para pegawainya.

“Satu keluarga dan staf. Biasanya ibu (Pinangki) beli untuk satu keluarga di rumah Pakubuwono, Dharmawangsa, maupun Sentul, atau orang kejaksaan Ibu, staf-staf,” ujar Olivia.

Mendengar kesaksian Olivia, lantas Jaksa membeberkan pengeluaran Pinangki untuk biaya kecantikan dan juga kesehatan dalam kurun waktu April sampai Juni 2020.

Jaksa lantas membacakan anggaran yang dikeluarkan Pinangki pada 18 April Rp 8 juta; 27 April Rp 9,5 juta dan 29 April Rp 9,5 juta. Kemudian pada Mei 2020 Pinangki melakukan treatment botok wajah dan leher yang dilakukan pada 11 Mei Rp 19 juta; 11 Mei Rp 8,7 juta; 17 Mei Rp 6,7 juta dan 29 Mei Rp 15 juta.

Sedangkan pada 2 Juni Rp 11 juta; 15 Juni Rp 9.750.000 untuk rapid test dan 6 Juli rapid test biosensor senilai Rp 14 juta. Jika ditotal sebesar Rp 111.150.000. Jaksa mempertanyakan itu kepada Olivia. Dokter kecantikan itu tidak menampik pernyataan Jaksa tersebut. “Ya betul,” tandas Olivia.

Dalam perkara ini, Pinangki Sirna Malasari didakwa menerima uang senilai USD 500 ribu dari yang dijanjikan sebesar USD 1 juta oleh Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA). Hal ini dilakukan agar Djoko Tjandra bisa lepas dari eksekusi pidana penjara kasus hak tagih Bank Bali.

Pinangki didakwa melanggar Pasal 5 ayat 2 jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain itu, Pinangki juga didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Untuk pemufakatan jahat, Pinangki didakwa melanggar Pasal 15 Jo Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jo. Pasal 88 KUHP. (Muhammad Ridwan/jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya