oleh

Sidang Penusukan Syekh Ali Jaber; Saksi Sebut Alpin tak Lakukan Gerakan Lanjutan Pasca Penusukan

SUMEKS.CO- LAMPUNG- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelar IA Tanjungkarang Lampung kembali menggelar sidang lanjutan penusukan Syekh Ali Jaber (SAJ) dengan terdakwa Alpin secara daring, Kamis (3/12).

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Dedi Rahmadi didampingi oleh kedua anggotanya: Surono dan Hendro Wicaksono beragenda mendengarkan keterangan saksi, dengan menghadirkan tiga saksi, yaitu Ardi dan Nizar dari Managemen SAJ, serta Riyadi paman dari terdakwa Alpin.

Dalam sidang tersebut hakim bertanya kepada saksi pertama, yaitu Ardi selaku Tim lapangan SAJ mengenai kegiatan SAJ selama di Lampung. “Ada berapa tempat rangkaian kegiatan Syekh Ali di Lampung?” ujar Dedi.

Ardi pun menerangkan bahwa SAJ berada di Lampung selama 12-14 September. Salah satunya di Masjid Falahuddin. “Waktu kejadian saya berada di depan panggung lokasinya sekitar 10-15 meter. Waktu itu Syech tengah melakukan test hafalan anak-anak dan hendak foto,” ujar Ardi.

SAJ, kata Ardi, bertanya kepada jamaah untuk meminjam ponsel. Kemudian, terdakwa muncul dari arah belakang dirinya menuju panggung dengan berjalan sedikit cepat. “Saya kira mau memberikan ponsel,” ucapnya.

Masjelis hakim pun menanyakan apakah saksi melihat apa yang dibawa terdakwa. “Kurang tahu karena saya fokus ke SAJ. Cuma lihat saat pisau sudah menusuk di tangan kanan SAJ,” ucap Ardi.

Hakim pun bertanya kepada saksi apakah setelah menancapkan pisau di lengan, SAJ berusa melakukan gerakan untuk menusuk kembali? “Waktu pertama nusuk pisau tertancap, beberapa detik langsung di pisah,” ucap Ardi.

Hakim Surono lantas menanyakan apakah saat kejadian SAJ menghindar. “Saat menghindar apakah, badan dan kepala SAJ ikut?” tenyanya. “Ya kepala menghindar tapi tangan tidak,” jawab Ardi.

“Jika tidak menghindar pisau yang ditusukan terdakwa mengarah kemana?” tanya Hakim kembali. “Leher. Karena menghindar kena tangan kanan atas,” jawab Ardi.

Pertanyaan yang sama juga ditanyakan majelis hakim, JPU, dan Penasehat Hukum terdakwa kepada saksi tim SAJ Nizar mengenai kronologi kejadian dan reflek yang dilakukan SAJ saat kejadian.

Dijelaskan Nizar, saat kejadian dirinya yang duduk di belakang SAJ, menjadi orang pertama yang memegang terdakwa, hingga membuat terdakwa menjadi bulan-bulanan jamaah yang hadir di acara tersebut.

“Usai ditusuk, SAJ sempat mengatakan untuk tidak memukuli terdakwa. Karena waktu kejadian jamaah merasa marah dengan perbuatan pelaku,” ujar Nizar.

Hakim pun menanyakan saat SAJ dibawa turun untuk dibawa ke Puskesmas apakah terdakwa ikut dibawa turun? Nizam pun mengatakan pelaku masih dipukuli.

“Saya ikut mengantar tapi nunggu di luar, dari informasi SAJ mendapat 10 jaitan di lengan kanan atasnya, kalau kejadian tidak ngeluh sakit, tapi pas di hotel baru ngeluh sakit,” ujarnya.

Lalu, lanjut Hakim, apakah pelaku berusama menyerang lagi usai melakukan penusukan? Nizam pun menuturkan pelaku sempat memasang kuda-kuda namun langsung diamankan. “Kurang tahu karena pisaunya nancap di tangan SAJ. Saat pasang kuda-kuda saya peluk,” tuturnya.

Sementara penasehat hukum terdakwa Alpin, Hi. Ardiyansyah,SH., mempertanyakan kepada saksi, apakah yang bersangkutan melihat pergerakan tangan terdakwa mengarah ke tubuh SAJ?

“Saya melihat dia menusuk dengan cepat,” jawab Nizam. Ditanya apakah SAJ melakukan pergerakan seknifikan saat penusukan? Nizam pun menjawab pergerakan seknifikan usai ditusuk.

“Seingat saya tertancap baru bergeram siknifikan, pergerakan baru siknifikan baru setelah ditusuk. Sebelumnya beliau (SAJ, red) bergerak sedikit,” jawab Nizar.

Terakhir, saksi Riyandi, yang merupakan paman terdakwa menerangkan terkait keadaan Alpin sebelum kejadian. Dijelaskan Riyandi, terdakwa pada tahun 2016 lalu sempat dibawa ke klinik Jiwa setelah mengamuk.

Kemudian, sebelum kejadian penusukan terhadap SAJ, terdakwa memang sering bertingkah berbicara sendiri, meludah, dan merokok. “Saya tahu kejadian itu sekitar 20 menit usai kejadian dati tetangga,” ucap Riyadi.

Alpin selama ini menurut Riyadi dibesarkan oleh neneknya setelah kedua orang tuannya bercerai. “Ibunya jadi TKW dan bapaknya sehari-hari pegawai serabutan,” tuturnya.

Dirinya pun menjelaskan bahwa pisau yang dikenakan ponakannya untuk menusuk SAJ merupakan pisau dapur milik nenek Alpin yang sering digunakan sehari-hari.

“Saya juga serung gunakan pisau itu. Itu bahan seperti almunium yang biasa digunakan sehari-hari,” ucapnya.

Saya Maafkan Dunia Akhirat

Sidang sebelumnya, terdakwa penusuk Syech Ali Jaber– merasa menyesal. Pun ingin meminta maaf terhadap Syech Ali Jaber di persidangan, di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung.

Dipandu kuasa hukumnya: Hi. Ardiansyah, S.H, Alpin menyatakan ingin meminta maaf langsung ke Syech Ali Jaber. Yang mana dalam sidang itu, kebetulan korban sendiri menjadi saksi di persidangannya.

“Sebelum saya bertanya ke Syech (Ali Jaber), perkenankan bahwa klien kami ini ingin meminta maaf secara langsung,” kata Bang Aca –sapaan akrab Ardiansyah.

Melalui video teleconference itu, Alpin pun langsung meminta maaf yang sebesar-besarnya ke Syech Ali Jaber. “Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas yang saya lakukan,” kata Alpin.

Tak lama kemudian, permintaan maaf Alpin itu disambut oleh Syech Ali Jaber. Lebih dulu, Syech menanyakan kabar dari Alpin. “Bagaimana kabar Alpin, apakah sehat-sehat saja?” kata Syech.

“Saya baik-baik saja,” timpal Alpin.

Mendengar jawaban dari Alpin, dirinya pun memaafkan apa yang telah dilakukan Alpin pada dirinya. “Saya maafkan dunia akhirat. Dan untuk Alpin jaga diri,” ucap Syech. (pip/sur/radarlampung)

Komentar

Berita Lainnya