oleh

Sindir Penemuan Vaksin Covid

PENGUSAHA dan dokter, Tirta kembali menyurakan keganjilannya atas penanganan Covid-19 di tanah air.

Kali ini, terkait Indonesia yang akan membeli vaksin dari luar negeri. Dimana vaksin akan masuk dalam waktu dekat.

Tirta pun menyoal vaksin tersebut. Tirta selalu mengatakan virus corona ada, namun obatnya belum ada. “Covid emang edan. Massive. Tapi boleh kita berpikir kan. Adakah “udang dib alik batu” soal Covid-Covid ini?,” tulisnya lewat Instagram, Sabtu (17/10/2020).

Dia mengunggah berbagai tulisan dan live untuk membahas ini.

Tirta pun menyindir negara yang mampu membuat vaksin virus hanya dalam delapan bulan. “Benar-benar jenius, atau pembuat vaksin ini yang buat virus kopet ini,” jelasnya.

Tirta pun harus rela dicap sebagai antek teori konspirasi. “Padahal gue share bukti juga ada. Apa itu Covax, Gavi, kronologis juga ada. Sinovac kan memang China? Gue enggak hoax kok, vaksin lokal kita merah putih yang dikembangkan iejman masih lama bro,” tegasnya.

“Yang bilang Covid-19 enggak ada siape? Covid 19 ada kok, bahayanya ada, wong jelas yang meninggal banyak. Yang enggak ada itu obatnya, Covid kan self limiting disease kalo antibodi kuat. Kalau antibodi lemah, bisa meninggal makanya dikasi obat pereda gejala,” tandasnya.

Dia menjelaskan obat yang beredar selama ini cuma mengatasin gejala pada saluran pernafasan. “Cara mencegahnya ya imun, iman, aman. Salah satunya 3M, olahrga dan makan,” sebutnya.

Makanya, dia merasa aneh vaksin bisa ditemukan begitu cepat. “Anehnya obat aje susah, tapi vaksin ketemu 8 bulan. Google donk ebola vaksin ketemu kapan? Mers? Hiv? Influenza? Jangan apa-apa “antek konspirasi”,” ungkapnya.

“Logika: vaksin mers, flu burung, sars Cov 1, aje susah banget ditemuin. Vaksin influenza aja butuh puluhan tahun. Vaksin ebola butuh 5 tahun. Covid 19, yang massive, bisa ketemu 8 bulan. Mantep Gates. Menerapkan sistem malware dan software di dunia nyata. Jeniusnya enggak ketulungan. Akhirnya kita mau enggak mau pake tu vaksin. Makasih deh Pak Gates, Gavi dan Covax. Cuma dua kemungkinan : benar-benar jenius, atau pembuat vaksin ini yang buat virus kopet ini,” paparnya.

Tirta sendiri punya alasan kenapa dirinya menyoal vaksin ini. “Gue cuma berlogika aje, enggak boleh? Lu siapa atur-atur otak gue? Emang ini negara macam Korut? Yang opini ape-ape kagak boleh? Yang disuntik Sinovac pertama itu relawan ama nakes bro. Makanya gue beropini boleh lah, wong gue yang pertama dikasi,” bebernya.

“Jadi vaksin dikasi ke nakes, relawan dkk dulu (include saya) baru rakyat no 4. Vaksin ini status setau ane bakal wajib ye. Perintah soale dari si Covax dan who. Dah trima aja. Hidup Covax! Pejabat terakhir kayanya kalo dari slide 3. Hehehe mau cek ombak dulu mereka nampaknya,” sindirnya.

Tirta pun yakin pemerintah Indonesia bakal mengiyakan saja soal membeli vaksin ini. “Saya kira gegara covid 19 ini, Indonesia harus tunduk ke Covax dan WHO. Daripada utang IMF-nya dibahas terus,” sebutnya.

Dia juga menjelaskan soal Covax, yang menurutnya adalah sebuah inisiatif persatuan 170 negara yang dilakukan WHO, agar pembagian vaksin dilakukan secara adil.

“Dibantu oleh Gavi. Gavi didanai dan dimulai oleh Bill Gates sejak 1999. Pinter manfaatin celah dia. Setelah teknologi. Dia tau bahwa manusia akan remuk karena virus pernafasan. So sesuai dugaaan di kala covid prediksi dia kejadian. “Prediksi” or?,” tulisnya. (nin/pojoksatu)

 

Komentar

Berita Lainnya