oleh

Siswa Manfaatkan Kardus Bekas untuk Bahan Rakit Alat Deteksi Hujan

Ketika berada di gedung bertingkat atau sedang terlelap tidur, tentu cukup sulit untuk mengetahui kondisi cuaca di luar ruangan. Di antaranya ketika turun hujan. Nah kini ada alat sederhana untuk mendeteksi hujan buatan murid salah satu SMP swasta di Kota Bengawan.

LIBUR semester di tengah pandemi dimanfaatkan dengan apik oleh siswa SMP Lazuardi Kamila Global Compassionate School (CGS). Mereka membuat sedikitnya 40 karya produk rumahan yang dipamerkan di salah satu ruang kelas.

Ada minyak antinyamuk, sabun berbahan minyak jelantah, kaus dan salah satu yang cukup menonjol adalah alat pendeteksi hujan atau arduino rain sensor detector karya Dhiyaul Haq’athaullah.

Alat berbentuk kotak berukuran 20×25 sentimeter itu hanya dirakit dalam waktu satu pekan. Memanfaatkan barang-barang sederhana. Di antaranya kardus. Ketika terkena air, sensor alat tersebut mengeluarkan bunyi.

“Dengan alat ini setiap ada hujan jadi tahu. Karena alat ini diletakkan di atap rumah. Begitu air mengenai titik sensor, sinyal akan dikirim ke arduino. Dan otomatis alarm berbunyi,” ungkap remaja 14 tahun yang akrab disapa Aul itu.

Bahan pembuatan alat tersebut antara lain arduino, kabel arduino, baterai, sensor hujan, red LED, kabel jumper, skrup, baut, kardus bekas, fiber siap, dan sebagainya.

Proses perakitan alat tersebut tidak langsung jadi. “Awalnya saya salah merakitnya. Lalu saya bongkar lagi dan mencoba merakit lagi. Sampai beberapa kali baru berhasil,” terang warga Kelurahan Joglo, Banjarsari tersebut.

Mengingat posisi alat ini diletakkan di luar ruangan, Aul masih terus berinovasi agar tahan terhadap panas dan hujan. Dengan memanfaatkan alat tersebut di rumah, tidur Anda bisa lebih tenang. Tidak khawatir jemuran kehujanan.

Inovasi Aul dan puluhan teman-temannya mendapat apresiasi dari Wahyuningsih, guru skill linguistik SMP setempat. Kegiatan asah dan eksplorasi kemampuan siswa berawal dari keluhan kebosanan. Ketika pembelajaran jarak jauh (PJJ) rampung, siswa mengaku tidak ada kegiatan. Sekolah lantas membuat program up grading skill. Siswa kelas VIII dan IX yang berjumlah 40 anak diminta membuat mini proposal.

“Mini proposal ini untuk menunjukan gambaran apa sih spesifik skill siswa yang diinginkan. Di mana minat siswa ini. Dengan begitu guru bisa mendampingi dan membantu pengembangannya,” terang dia.

Setelah itu, guru akan memantau sejauh mana perkembangan produk yang ingin dihasilkan siswa dengan cara rutin melapor progres pembuatan karya.

“Produk-produk ini akan kami pasarkan ke lingkup internal sekolah dulu. Karena produknya bermacam-macam. Bahkan ada siswa yang membuat gambar doodle sudah dijual mandiri,” terangnya.

Apresiasi lainnya datang dari Dwi Prihatianto, kepala sekolah setempat. Sebelumnya pihak sekolah membuat angket persetujuan program up grading skill. Hasilnya orang tua mendukung dan ikut membantu kegiatan siswa.

“Desain pameran juga disiapkan siswa sendiri. Mulai dari alasan buat produk, prosesnya bagaimana, sampai kegunaan produk di tampilkan menjadi satu rangkaian. Orang tua juga proaktif. Ada yang mengirimkan karya lewat kurir, ada juga orang tua datang langsung ke sekolah guna menyerahkan karya anaknya,” beber pria yang akrab disapa Anton ini.

Puluhan karya original para siswa segera dipamerkan dalam kegiatan virtual exhibition lewat media sosial dan bisa disimak oleh orang tua murid.

“Ada juga lima anak berkebutuhkan khusus (ABK) belajar di sini. Mereka bisa mengikuti (pembuatna karya). Seperti membuat produk makanan,” pungkasnya. (radarsolo/rs/rgl/per/JPR)

Komentar

Berita Lainnya