oleh

SMB IV Sambut Positip Kebijakan Gubernur Sumsel Wajibkan Gedung di Sumsel Tampilkan Simbol Tanjak

PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru akan mewajibkan gedung-gedung yang ada di wilayah Sumsel menggunakan dan menampilkan simbol tanjak. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan karakteristik adat budaya dan kearifan lokal.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn menyambut positip kebijakan Gubernur Sumsel H Herman Deru yang mewajibkan gedung-gedung yang ada di wilayah Sumsel menggunakan dan menampilkan simbol tanjak, karena di Sumsel terutama Palembang menurutnya memerlukan adanya suatu ciri khas daerah yang menjadi identitas lokal Sumsel.

“Dan pak Gubernur melihat kita ini bangsa melayu, sehingga beliau ingin mengembangkan bahwa kebiasaan bangsa melayu menggunakan tanjak Palembang atau Sumsel yang merupakan bagian budaya melayu , ada di Palembang , beliau ingin menunjukkan kalau kita ini ulu melayu sehingga beliau menggunakan tanjak sebagai gapura atau pintu gerbang semua dinas-dinas , saya sambut positip , sangat baik,” katanya ketika ditemui di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam , Sabtu (12/12).

Terkait banyaknya jenis tanjak di Sumsel menurutnya itulah kearipan lokal Sumsel yang dinilai sangat bagus .

“ Kalau misalnya konsepnya tanjak , artinya khan tanjak bisa dibentuk disitu , jadi tidak hanya tanjak model di istana Gubernur saja, setiap daerah bisa menonjolkan tanjaknya sesuai daerahnya masing-masing itu boleh dibesarkan tapi dengan konsep gapura itu adalah tanjak yang merupakan ikat-ikat di kepala yang digunakan untuk sehari-hari wong Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan ikat-ikat dalam kesehariannya ,” kata SMB IV didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir.

Tanjak menurut pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini menunjukkan kearipan lokal dan identitas daerah masing-masing di Sumsel walaupun banyak jenis tanjak-tanjak yang ada di Sumsel .

Selain itu menurutnya untuk kota Palembang identitas lain yang bisa diangkat adalah seperti penamaan jalan-jalan di Palembang bisa menggunakan bahasa Arab melayu atau di daerah menggunakan bahasa kaganga yang itu semua menunjukkan warisan budaya yang masih hidup dan dilaksanakan sampai sekarang.

Terkait kerjasama budaya dengan pihak pemerintah, SMB IV mengakui sudah ada beberapa lembaga yang bersilaturahmi dengannya beberapa waktu lalu.

“ Kalau dari pemerintahan kemarin kalau dari kota Palembang pernah Sekda Palembang dan anggota Fraksi PKS pernah datang kesini, juga dari provinsi kita berkoordinasi dengan pembina adat,” katanya.
Mengenai konsep pembuatan pintu gerbang dan gapura di Sumsel terutama Palembang dulu dengan menggunakan atap rumah limas.

“Mungkin bisa juga ada rumah limas , ada yang tanjak , silahkan itu sesuai dengan konsep budaya atau rumahnya masing-masing sehingga ini menunjukkan kearipan lokal yang merupakan ciri khas Sumsel. Masak kalau di Lampung aja ada pakai siger untuk ciri khasnya ,kalau di Bali selalu ada gapura-gapura menunjukkan seperti tempat persembahan dewa dia, Palembang ini apa yang menunjukkan bahwa kita sudah sampai di Palembang, ini lho kita sudah sampai di Palembang, sehingga kita bisa menunjukkan bahwa inilah budaya Palembang, bahwa rasanya sudah bau-bau Palembanglah , sudah ada aura atau rasa di Palembang termasuk di bandara, yang pasti di tempat umum itu wajib,” katanya.

Dan kalau bisa menurutnya semua tempat informasi dan tempat umum semua pegawai dan pengelolanya di Sumsel termasuk Palembang menggunakan tanjak sehingga terasa bahwa tengah berada di Sumsel terutama Palembang.(wi2k/ril)

Komentar

Berita Lainnya