oleh

Spanyol Ekspansi Pendidikan di Indonesia

-Dunia-169 views

JAKARTA – Negara Spanyol memiliki cara sendiri untuk menarik minat orang Indonesia mau belajar bahasa dan mengenal budaya mereka. Mereka masuk dengan mendirikan Instituto Nebrija-Jakarta. Institut ini adalah cabang dari Universitas Nebrija di Madrid, Spanyol, yang bernaung di bawah London School of Public Relations (LSPR).

Direktur Pusat Studi Hispanik Universitas Nebrija, Madrid, Pilar Alcover mengatakan, ada banyak keuntungan yang bisa didapat masyarakat Indonesia dari belajar bahasa Spanyol. Di antaranya, Bahasa Spanyol adalah bahasa dengan 480 juta penutur asli di dunia. Bahkan terbanyak kedua setelah bahasa Mandarin, serta merupakan bahasa resmi di 21 negara dan 3 benua.

“Dari sudut pandang ini, berinvestasi dalam bahasa Spanyol berarti komitmen yang jelas terhadap keterbukaan ekonomi, sosial dan budaya untuk dunia yang semakin mengglobal,” ungkapnya.

Sejak dibuka April 2018, keberadaan Nebrija sudah setahun. Selama itu, Nebrija telah memiliki 160 siswa dari level pemula hingga menengah dengan pengajar penutur asli dari Spanyol dan Amerika Latin. Nah untuk apresiasi mereka, pada Sabtu malam (29/6), Nebrija merayakan setahun berada di Indonesia. Mereka merayakannya dengan menggelar acara Malam Akbar atau Gran Noche di Prof. Dr. Djajusman Auditorium and Performance Hall, LSPR Kampus Sudirman Park, Jakarta. Perayaan dimeriahkan band dan dance team dari LSPR, dengan enampilkan pertunjukan tari dan kompetisi salsa dari The Ibero-American Association (AIA).

Para undangan berkesempatan menikmati hidangan khas Spanyol dan Indonesia. Di meja disajikan tortilla aioli, gambas al ajillo, dan tampah jajanan pasar tradisional, yang disuguhi oleh restoran Por Qué No dan Vamonos Coworking. “Setahun sudah LSPR bekerjasama dengan Instituto Nebrija menyediakan kursus bahasa Spanyol. Hal ini sangat mendukung peningkatan kualitas mahasiswa/i LSPR supaya unggul dalam berkompetisi di era globalisasi. Bahasa adalah faktor penting untuk berkomunikasi dengan baik dan menghasilkan pengertian dua arah,” terang Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, Pendiri dan Direktur utama LSPR-Jakarta.

Ada ekspektasi besar dari Prita agar keberadaan Instituto Nebrija tidak hanya mengenalkan budaya dan bahasa Spanyol kepada masyarakat Indonesia. “Selain misi kebudayaan, diharapkan ke depannya LSPR dan Nebrija mampu berkomunikasi dalam lebih banyak hal, di antaranya membangun hubungan dengan lebih banyak pihak,” harapnya.

Melebarkan sayap Nebrija penting dilakukan jika melihat antusiasme masyarakat Indonesia mengenal budaya Spanyol. Lihat saja keterlibatan komunitas Dime Por Qué atau DxQ dalam acara malam akbar. Kehadiran mereka menambah semarak suasana. Apalagi DxQ yang biasa menangani kegiatan Nebrija di dalam dan di luar kampus ini menjadi tim penyelenggara Gran Noche 2019 bersama LSPR.

“Bahasa dan budaya adalah hal yang paling menarik untuk dipelajari oleh semua kalangan dari semua usia. Dalam wadah komunitas, proses belajar jadi lebih menyenangkan dan mudah. Apa lagi karakter budaya Hispanik begitu hangat dan meriah, mirip budaya Indonesia,” ujar Yoshi, Co-Founder Dime Por Qué.

Acara pertama ulang tahun ini tidak lengkap tanpa aneka permainan dan hadiah yang menarik. Carrera de globos adalah permainan tebak kalimat dengan balon-balon berisi huruf yang harus dipecahkan. Sementara tabú adalah permainan tebak gaya tanpa kata yang mengasah imajinasi. Suasana jadi semakin meriah dengan piñata, permainan populer dari Meksiko di mana peserta harus menghancurkan boneka besar yang terbuat dari kertas warna warni untuk mendapatkan aneka hadiah di dalamnya.

Sebagai puncaknya, semua siswa Nebrija yang hadir mengikuti kuis interaktif online yang berhadiah study tour ke Universitas Nebrija di Madrid selama seminggu pada bulan September 2019. Satu pemenang yang beruntung akan mendapatkan tiket pesawat pulang pergi serta bantuan aplikasi visa, mengikuti kelas bahasa Spanyol intensif bersertifikat, tinggal bersama keluarga setempat, dan berkunjung ke berbagai atraksi wisata di Madrid dan sekitarnya. Untuk memenangkan grand prize ini, para siswa harus menjawab 50 pertanyaan seputar bahasa, budaya, dan negara Spanyol serta Amerika Latin.

Alfonso Carnicero, Koordinator Akademis Instituto Nebrija – Jakarta mengungkapkan optimismenya tentang perkembangan Nebrija di Indonesia ke depannya. “Merupakan sebuah kesenangan bagi saya untuk mendekatkan dua budaya yang berbeda secara prinsip. Saya bangga dan sangat bersyukur atas dedikasi dan antusiasme siswa kami di sini. Berkat mereka, Nebrija menjadi titik temu antara budaya Hispanik dan Indonesia di Jakarta. Saya yakin di tahun mendatang Nebrija bisa menjadi pusat referensi studi Hispanik yang mapan di sini,” tukas Alfonso. (kmd)

Komentar

Berita Lainnya