oleh

Stan Pertamina EP Asset 2 Pamerkan Produk Pertanian Organik Mitra Binaan

Satu-satunya Perusahaan Migas yang Membuka Stan di Festival Buah dan Produk Pertanian Unggulan III

SUMEKS.CO – PT Pertamina EP Asset 2 tidak hanya menunjukkan kontribusi-nya dalam menjaga ketahanan energi Indonesia. Tapi juga ketahanan pangan negara. Hal ini ditunjukkan perusahaan saat mengikuti Festival Buah dan Pertanian Unggulan III di halaman kantor Gubernur Sumsel, Griya Agung, Palembang, Sabtu (11/1/2020).

 

Stan Mitra Binaan PT Pertamina EP Asset 2 di Festival Buah ramai dikunjungi masyarakat.

Selain menjadi satu-satunya perusahaan migas yang mengikuti kegiatan, di dalam stan PT Pertamina EP Asset 2 juga dipamerkan berbagai hasil inovasi produk pertanian yang menjadi mitra binaan perusahaan tersebut.

Berbagai produk pertanian yang dipamerkan diantaranya Kopi Selangit, produk tanaman obat keluarga (Toga) kemasan dan bibit, pupuk kompos aktif, tanaman hias kokedama, tanaman kayu Merawan dan Petaling yang saat ini hampir punah dan berbagai jenis tanaman hasil budidaya mitra binaan lainnya.

CSR Analyst PT Pertamina EP Asset 2, Imam Maulana didampingi Environment Analyst, Ari Winata mengatakan, keikutsertaan perusahaan di ajang tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam membantu negara untuk menjaga ketahanan pangan, serta untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Berbagai produk baik tanaman maupun olahan dari mitra binaan PT Pertamina EP Asset 2 yang ditampilkan di Festival Buah.

Ia mengatakan, hasil bumi dari minyak dan gas sewaktu-waktu pasti akan habis. Untuk itu, perusahaan mendorong masyarakat yang ada di sekitar wilayah kerja untuk mulai bercocok tanam.

“Karena pertanian menyangkut hajat hidup orang banyak. Sehingga, kami mendorong masyarakat untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri melalui berbagai inovasi pertanian agro enterpreneruship,” kata Imam.

Imam mengatakan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian disesuaikan dengan potensi yang dimiliki daerahnya masing-masing. Misalnya petani Kabupaten Musi Rawas yang mengembangkan Kopi Selangit. Cara pengolahan yang selama ini dilakukan secara tradisional dibantu perusahaan untuk dilakukan secara modern.

“Mulai dari mesin, kemasan dan pengolahan tanamannya. Selanjutnya, kami juga bantu pemasarannya,” ujarnya.

Imam mengatakan pihaknya sudah memiliki 8 desa binaan dimana satu desa ada sekitar 5-7 kelompok tani maupun Kelompok Wanita Tani (KWT). Satu kelompok tani bisa terdiri 15-20 orang.

“Wilayah desa binaan meliputi berbagai kabupaten dan kota. Seperti Kota Prabumulih, Kabupaten PALI, Muara Enim, Ogan Ilir, Musi Rawas dan di 2020 ini kami akan membina petani yang ada di Lahat. Tepatnya di sekitar kawasan Bukit Serelo,” bebernya.

Sejalan dengan Imam, Ari Winata mengatakan satu hal yang menjadi karakteristik pembinaan perusahaan yakni mengajarkan mitra binaan untuk mengolah hasil pertanian secara keberlanjutan. Artinya mengedepankan pola pengelolaan tanaman secara organik namun bisa mendapatkan hasil yang sama ataupun melebihi dari penggunaan bahan kimia.

“Masyarakat kami bina agar bisa mengolah tanaman dengan cara yang ramah lingkungan. Tidak menggunakan bahan kimiawi,” ucapnya.

Hal itu juga ditunjukkan lewat desain stan perusahaan di kegiatan Festival Buah dan Produk Pertanian Unggulan III. Stan yang dibangun perusahaan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Seluruh alat ataupun aksesorisnya dibuat dari bahan yang bisa digunakan kembali.

“Seperti hiasan tanaman yang digantung di pintu gerbang itu merupakan tanaman media kokedama. Lalu settingan las untuk meja dan rak juga dibuat semi permanen, serta material-material kayu agar nantinya bisa digunakan kembali ke depannya,” pungkasnya. (*)

Hasilkan Pupuk Kompos Dari Limbah Rumah Tangga Komperta

Limbah atau sampah rumah tangga komplek perumahan jika dikelola dengan benar bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Hal inilah yang dialami Syamsul Asinar Radjam. Salah seorang mitra binaan PT Pertamina EP Asset 2.

Melalui kelompok tani Sarah (Sampah Jadi Berkah), Syamsul sukses membuat pupuk Kompos Trycho Derma. Bahan pembuatannya berasal dari limbah atau sampah rumah tangga yang dihasilkan di dalam Komplek Pertamina Kota Prabumulih.

Padi organik produk mitra binaan PT Pertamina EP asset 2.

Warga Kelurahan Gunung Kemala Kecamatan Prabumulih Barat ini menjelaskan ide pembuatan pupuk kompos tersebut sudah dirintisnya sejak 2015. Saat itu, pupuk kompos yang dihasilkannya hanya didistribusikan kepada kelompok tani di sekitar rumahnya yang menanam tanaman herbal dan sayuran organik.

Hanya saja, dalam menjalankan usahanya dirinya masih kesulitan mendapatkan bahan baku kompos yang berasal dari sisa makanan ataupun tumbuh-tumbuhan yang membusuk.

“Kemudian datang dari pihak Pertamina. Mereka menawarkan kerjasama untuk menjadi mitra binaan,” kata pria berambut gondrong ini.

Melalui kerjasama itu, Syamsul mendapatkan bahan pupuk kompos dari limbah yang dihasilkan di dalam Komplek Pertamina (Komperta) Prabumulih. Sampah dapur ataupun taman yang dihasilkan setiap harinya dikirim ke pabrik kompos miliknya untuk dikelola.

“Bukan hanya dibantu bahan baku. Kami juga mendapat kepastian serapan kompos. Kompos ini disalurkan ke mitra binaan Pertamina lain yang bergerak di bidang pertanian,” terang Samsul.

Selain itu, Samsul juga diberikan pelatihan untuk mengembangkan produk kompos Trycho Derma. Kompos jenis ini ditambahkan bahan Trycho Derma yang berfungsi melawan jamur.

“Kita lawan jamur pakai jamur juga. Sangat cocok bagi petani karet yang selama ini kesulitan menangani jamur akar putih pada tanaman karet,” ucapnya.

Ia merasakan peran perusahaan dalam mengembangkan usahanya cukup besar. “Kalau tidak bermitra dengan perusahaan mungkin usaha kami tidak berkembang seperti ini,” pungkasnya. (*)

Kembangkan Padi Organik dengan Pola Tanam SRI

Kebiasaan masyarakat mengonsumsi produk organik menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Untuk itulah, PT Pertamina EP Asset 2 mendorong salah satu kelompok tani mitra binaannya untuk menghasilkan beras organik.

Kelompok tani Desa Jirak Kabupaten Musi Banyuasin dan Desa Pengabuan  Kabupaten PALI ini menerapkan metode tanam padi organik SRI.

Berbagai slide penjelasan tentang program CSR Pertamina EP Asset 2

Kepanjangan dari System of Rice Intensification ini merupakan pola penanaman padi organik secara berkelanjutan. Dimana baik bibit, pupuk, pestisida dan komponen lainnya tidak ada yang berasal dari bahan kimiawi. Seluruhnya dibuat melalui bahan-bahan organik.

Sekretaris Kelompok Pembelajaran, Suhardi didampingi Fasilitator, Elwan Satria mengatakan metode tanam SRI ini, sangat menghemat penggunaan bibit. Menurutnya, jika selama ini bibit padi ditanam dengan cara disebar dan kurang bisa dikontrol penggunaannya. Melalui metode SRI ini, cukup hanya dengan satu gabah saja.

“Satu gabah ditanam di polybag. Setelah tumbuh dua Minggu, baru ditanam di sawah. Bisa juga tetap ditanam di polybag. Sehingga perlu menggunakan media tanam luas untuk menghasilkan padi,” kata Elwan.

Melalui metode tanam SRI, produksi padinya juga bisa 2-3 kali lipat dari metode tanam konvensional. Ia mengatakan lewat metode tanam SRI bisa menghasilkan padi sebanyak 8-11 ton per hektar. Harga beras organik di pasaran juga cukup tinggi. Mencapai Rp20-25 ribu per kilogramnya.

Syamsul dan produk olahan sampah.

“Tentunya sangat menguntungkan. Apalagi biaya produksinya sangat rendah karena seluruh bahan seperti pupuk dan pestisida dibuat sendiri dari bahan sekitar,” ungkapnya.

Elwan mengatakan sebelum dikenalkan Pertamina dengan metode tanam SRI, pihaknya hanya menanam padi di petakan kecil dengan hasil yang kurang. Saat ini, petani di desa Jirak dan Desa Pengabuan bisa memanfaatkan lahannya yang kecil untuk hasil yang maksimal.

“Kedepannya juga kami akan mengembangkan tanaman lain dengan metode tanam organik juga,” pungkasnya. (tom/adv)

Komentar

Berita Lainnya