oleh

Sudut Pandang Bang Aca: “Flyover Dua Dekade”

Oleh: Hi. Ardiansyah*

AKHIRNYA, flyover yang sudah diramalkan 20 tahun lalu selesai dibangun. Hari ini diresmikan oleh Wali Kota Bandarlampung Hj. Eva Dwiana.

Pembangunan flyover ini sedikit menggali kenangan dengan bos saya, Dahlan Iskan. Pada 2001 silam, mantan Menteri BUMN tersebut sudah meramalkan tentang pembangunan flyover ini. Tanpa angin dan hujan, Pak Dahlan tiba-tiba mengatakan pada saya bahwa di perlintasan kereta api Jalan Sultan Agung kelak dibangun flyover.

Saya sebenarnya tak percaya. Tetapi karena yang menyatakannya Pak Dahlan yang notabene adalah Bosque, saya pun akhirnya manut saja. ’’Oh begitu ya Bos,” jawab saya sekenanya saja. Namun dalam hati saya mengatakan, apa iya di jalan yang belum begitu ramai ini bakal dibangun flyover.

Tetapi, Pak Dahlan mengajarkan saya dua pasal menyikapi bos. Pasal 1: bos tidak pernah salah. Pasal 2: jika bos salah maka lihat pasal 1.

Cerita dimulai saat saya menjabat General Manager Radar Lampung, sekitar pertengahan tahun 2001. Saya ditantang Pak Dahlan untuk membangun Graha Pena. Tanpa banyak berpikir, tantangan itu langsung saya terima. Padahal saat itu baru setahun saya mulai mengembangkan Radar Lampung.

Rupanya niat itu kesampaian. Graha Pena akhirnya berhasil dibangun. Saat pembangunan memasuki tahap konstruksi lantai 3, Pak Dahlan menyatakan ingin ke Lampung. Dia hendak melihat langsung perkembangan pembangunan Grana Pena.

Tetapi kali ini Pak Dahlan ingin via udara. Sebab, beliau sudah sering ke Lampung via darat. ’’Ardiansyah kali ini saya naik pesawat ya. Kamu kan sudah punya uang. Buktinya bisa bangun gedung bertingkat,” selorohnya kala itu.

Saya tidak tahu apakah perkataan Pak Dahlan itu bagian dari gaya humornya. Tetapi yang pasti, beberapa kali Pak Dahlan ke Lampung memang selalu via darat.

Perkataan Pak Dahlan itu sempat membuat saya haru. Sampai sebegitunya Pak Dahlan mengajarkan gaya bisnis pada anak didiknya. Tentu saja permintaan itu saya penuhi. Alhasil, Pak Dahlan ke Lampung menumpang pesawat udara.

Saya yang menjemput langsung Pak Dahlan dari Bandara Radin Inten II. Dalam perjalanan menuju kantor yang sekarang menjadi Graha Pena, di ujung kiri flyover Natar, Pak Dahlan melihat sebuah SPBU yang sudah tak lagi beroperasi. ’’Kasihan itu Ardiansyah. SPBU itu korban pembangunan flyover ini,” kata Pak Dahlan.

Saya manut saja. Saat tiba di kantor, Pak Dahlan langsung teringat bahwa baru saja mobil kami melintasi rel kereta api. ’’Celakanya Ardiansyah, rupanya kantormu juga dekat rel kereta api,” cetusnya.

’’Tetapi kan masih jauh bos,” jawab saya kala itu.

’’Gawat.. gawat.. gawat. Saya yakin nanti kantormu akan di bawah flyover. Entah kapan, nanti di perlintasan kereta api itu dibangun flyover sampai melintasi kantormu,” ujar Pak Dahlan dengan mimik sangat serius.

Saya pun hanya bisa melongo. Sebenarnya saya tak percaya ramalan Pak Dahlan ini. Tetapi sudahlah namanya bos, boleh ngomong sesuka dia. ’’Jadi bagaimana bos?” tanya saya.

Pak Dahlan langsung memutuskan pembangunan Graha Pena cukup 3 lantai. Tidak jadi 5 lantai seperti rencana semula. Sebenarnya saya kecewa dengan keputusan Pak Dahlan itu. Sebab, saya sudah merencanakan membangun 5 lantai seperti Graha Pena Sumatera Ekspres di Palembang dan Graha Pena Bengkulu.

Tetapi, 3 lantai itu pun saya nilai sudah cukup beruntung. Sebab kalau saja pembangunan Graha Pena saat itu belum 3 lantai, Pak Dahlan meminta hanya dibangun 1 lantai. Maksimal 2 lantai. Alasan Pak Dahlan, kalau dibangun terlalu tinggi akan sulit menjualnya setelah ada pembangunan flyover.

Mungkin salah saya juga kenapa tidak berusaha menjual Graha Pena sebelum flyover dibangun seperti amanat Pak Dahlan. Malah sebaliknya. Saya membeli lahan di sekitar Graha Pena. Jika dulunya lahan Graha Pena hanya seluas 2.500 meter. Sekarang sudah hampir 1 hektare.

Tetapi terpenting bukan soal keputusan saya tak menjual Graha Pena. Namun, pembangunan flyover yang diresmikan hari ini membuktikan Bosque, Pak Dahlan Iskan seorang entrepreneur yang memiliki insting dan analisis yang luar biasa. Sekaligus juga membuktikan keputusan Wali Kota Bandarlampung dua periode sebelumnya, Drs. Hi. Herman H.N., membangun flyover di akhir masa jabatannya adalah sebuah kebijakan yang tepat.

Sebagai ungkapan syukur, saya ikut menghadiri peresmian flyover Sultan Agung. Tetapi ini rahasia ya. Yang membuat saya lebih bersyukur adalah ujung flyover persis berada di bagian kanan Graha Pena. Tidak melintasinya. Salam. (*)

*Chairman Radar Lampung Grup

Komentar

Berita Lainnya