oleh

Suparno, Sosok Agresif dan Korektif

“Sandal Jepit, Oblongan dan Rambut Licin adalah Ciri Khas yang  Sulit Dilupakan”
‐———————————

Sejak saya hijrah dari Sumatera Ekspres (Sumeks)  ke Riau Mandiri Group di Pekanbaru tahun 1997, baru bertemu kembali dengan beliau (Suparno Wonokromo) dua tahun lalu, kisaran bulan September 2017. Itupun tidak di sengaja di Rumah Sakit Myria Km.7 Palembang.

Saat itu saya dan beliau sama sama duduk di ruang tunggu. Saya menunggu giliran dipanggil untuk periksa gula darah, beliau menunggu panggilan untuk menebus obat.

“Eh,..dik, mas Dahri kan?” Beliau langsung menyapa ketika kami bertemu pandang pada jarak duduk tiga kursi jajar yang kosong. Dia pun langsung bangkit dari duduknya lalu mendekati saya, dan berusaha berangkul. Saya pun tak menyangka dipertemukan kembali dalam suasana berbeda.

Sambil memegang bahu saya, beliau memandangi saya hingga ke arah kaki. “Subhanallah,..gimana..gimana.. kabarnya. Agak gemukan sekarang. Masih di media kan?” ucapnya dengan gaya khasnya sambil tersenyum. “Kabarnya mas berdomisili di Jakarta, ya?” sambungnya.

“Alhamdulillah, fisik sehat, mas. Cuma ada gula. Iya di Jakarta sebelumnya lama di Pekanbaru dan Batam. Sekarang kebetulan lagi cuti,” jawabku sambil mengatakan bahwa beliau pun tak banyak berubah, postur tubuh tetap seperti 20 tahun lalu. Tidak gemuk dan tidak juga kurusan.

“Hanya sedikit yang berubah. Sekarang berbatik dan pakai peci. Dulu licin, kaos oblongan dan bersandal jepit,” ucapkan berseloroh. Beliau pun terkekeh.

“Oh,..iya. Memang orang-orang seusia kita ini harus rajin kontrol kesehatan. Sudah rentan kena berbagai penyakit. Saya sdh empat tahun ada penyakit, tak biarkan.. eh,.. rupanya jadi serius, masih rutin makan obat,” ujarnya memperjelas keberadaannya di Rumah Sakit saat itu. “Sakit apa mas,” tanyaku. “Ada lah,” ucap beliau singkat merahasiakan.

Tak lama, terdengar panggilan petugas dengan menyebut nomor antre yang saya pegang. Saya pun harus meninggalkan beliau yang masih duduk menunggu panggilan petugas dari bagian obat. “Maaf mas, saya ke dalam dulu ya..” ucapku sambil menjabat tangannya. Mas Parno pun mempersilahkan sambil tersenyum. “Eh,..suka wayang kan..? Kapan-kapan saya undang ya, biar kita nonton wayang sambil ngobrol,” ucapnya. Saya pun berucap: boleh, dengan senang hati.

Sejak pertemuan itu, saya pun tak pernah mendengar kabar beliau lagi, apalagi bertemu muka. Sampai terakhir saya mendapat kabar dari group WA, bahwa beliau wafat karena penyakit yang ia derita. Ya.., penyakit yang pernah ia katakan ‘serius’ ketika saya bertemu almarhum di RS Myria dua tahun lalu. Innalillahi wainnaillaihi rojiun..

Sedikit teringat dalam kenangan. Mas Parno, adalah sosok yang memang selalu energik, penuh tanggungjawab terhadap tugas dan jabatannya. Ia juga sangat korektif terhadap apa saja yang dikerjakan bawahannya. Bukan untuk mencari kesalahan, tapi meminimalisirnya. Dalam kinerja tim, beliau sangat menghargai rekan kerja yang mau bekerja keras, tidak berhitung waktu, dan tentu saja memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan.

Di masa awal Sumatera Ekspres kembali terbit, Juni 1996, di bawah bendera Jawa Pos Group — sebelumnya sempat tertidur hampir dua tahun setelah lepas dari Media Indonesia Group — beliau hadir menggantikan Darul Faroki, Manager Sumeks, sosok senior yang ditugaskan owner Jawa Pos. Mas Darul, begitu ia akrab dipanggil masa itu bersama saya berjuang menyusun komposisi menejeman redaksi dan usaha Harian Sumatera Ekspress sesuai versi Jawa Pos.

Sayanga Mas Darul tak lama. Sebulan berjalan, ia ditugaskan untuk mengupgrade Cenderawasih Pos di Papua, yang juga baru dibangun. Lantas posisinya digantikan Almarhum (Suparno Wonokromo) yang tadinya bertugas di Harian Semarak Bengkulu.

Kehadiran Mas Parno, yang begitu tiba tiba di saat Sumeks mulai berusaha bangkit dengan baju baru, sempat membuat para awak Sumseks di level redaktur dan wartawan, sedikit gelabakan lantaran kinerja beliau yang sangat agresif dan korektif. Mulai dari redaksi hingga percetakan dipantau secara ketat, agar kualitas Sumeks dari sisi pemberitaan maupun tampilan cetaknya mampu bersaing.

Sebagai bagian dari tim manajemen redaksi, yang dipercaya pemilik Sumeks waktu itu, saya pun selalu berusaha semaksimal mungkin mengimbangi cara kerja dan keinginan beliau, khususnya di manajeman redaksi. Tapi, karena sesuatu hal, memasuki bulan ke empat Sumsek kembali berdiri, saya pun harus hijrah ke Pekanbaru, dan akhirnya memutuskan resign dari Sumeks.

Mas Parno waktu itu sempat terkejut. Tapi saya berhasil meyakinkan beliau, bahwa langkah saya memutuskan resign dari Sumeks dan pindah ke Pekanbaru, bukan karena kehadiran beliau dengan berbagai terobosan besarnya. Tapi karena, saya diminta teman lama, salah satu konsultan Media di Surabaya, untuk bergabung di Group Riau Mandiri Pekanbaru Riau, yang saat itu mempersiapkan 5 media sekaligus, yakni 2 harian pagi, 1 harian sore dan radio.

Sejak itulah, saya dan beliau tak pernah bertemu lagi. Namun, satu dua kali saya sempat mampir ke kantor Sumeks ketika pulang ke Palembang. Ada rasa bangga dengan belaiu. Di tangan agresif beliau, Sumeks bisa berada di puncak keberhasilan merebut rating oplah terbesar di Sumater Selatan hanya dalam tempo dua tahun.

Sebagai teman seperjuangan yang dulu selalu berpikir bagiamana Sumeks bisa menembus kokohnya media kompetitor, tentu saya merasa sangat kehilangan. Selamat jalan saudaraku… // dahri maulana

Komentar

Berita Lainnya