oleh

Surabaya Zona Oranye, Awas Jangan Terlena

SUMEKS.CO – Dalam sepekan ini Surabaya dinyatakan masuk zona oranye untuk penanganan Covid-19. Kondisi tersebut tak boleh membuat warga terlena. Sebab, lengah sedikit saja dalam disiplin protokol kesehatan bisa kembali masuk zona merah.

Penetapan zona oranye itu ditentukan pemerintah pusat dengan melihat pada risiko persebaran kasus. Sesuai data covid19.jatimprov.go.id yang diakses Rabu sore (12/8), Surabaya termasuk dalam risiko sedang.

Kota ini ditandai dengan warna oranye. Begitu pula Gresik. Sidoarjo ditandai merah yang berarti masih risiko tinggi. Masih dari situs yang sama, kasus di Surabaya tercatat 9.980 positif, 2.322 suspect, dan 899 probabel.

Yang menjadi catatan penting, zona tersebut masih dinamis. Sangat bergantung pada risiko dari persebaran hingga tingkat kematian dan kesembuhan pasien. Jadi, semua terlibat dalam menjaga satu kawasan menjadi merah (risiko tinggi), oranye (sedang), kuning (rendah), dan hijau (tidak terdampak).

Kabaghumas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara menuturkan, warga jangan sampai terlena dengan pemberian warna oranye tersebut. Risiko telah menjadi sedang memang patut untuk disyukuri. Tetapi, warga tidak boleh lengah dengan melonggarkan protokol kesehatan.

”Oranye itu berarti kami tetap akan melakukan testing, tracing, dan treatment. Juga isolasi untuk warga yang memang positif Covid-19,” ungkap Febri kemarin.

Dia berharap warga tetap menjalankan prinsip-prinsip protokol kesehatan. Misalnya, selalu memakai masker saat di luar rumah, menjaga jarak aman minimal 2 meter, hingga rajin mencuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer.

”Kami tidak akan kendur menjaga protokol kesehatan. Buktinya, waktu PSBB berakhir, kami masih terus sosialisasi. Bu Wali juga turun sendiri ke kampung-kampung,” ungkap Febri.

Pemkot Surabaya membuat dua peraturan wali kota. Yakni, Perwali No 28 Tahun 2020 dan revisinya, Perwali No 33 Tahun 2020. Pada perwali tersebut, ada aturan-aturan teknis di 12 sektor yang harus dijalankan pengelola hingga pengunjung sektor usaha.

”Testing juga terus kami lakukan. Sehari bisa sampai 800-an. Pengoperasian Labkesda Surabaya akan mempercepat hasilnya,” imbuh dia.

Labkesda Surabaya yang mulai beroperasi awal pekan ini juga mendapatkan bantuan peralatan dari BNPB kemarin. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di rumah dinas, Jalan Sedap Malam.

Bantuan tersebut berupa 1 set mesin ekstraksi otomatis, 1 set mesin PCR (polymerase chain reaction) 96-well, 20 ribu kit isolasi otomatis, 20 ribu kit isolasi manual, dan 40 ribu kit PCR multiplex. Total bantuan itu diperkirakan senilai Rp 20 miliar.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, bantuan dari BNPB ditujukan untuk memenuhi kebutuhan peralatan di Labkesda. Ada rencana untuk mengoperasikan Labkesda di Gayungsari Barat tersebut selama 24 jam. Kapasitas labkesda itu ditingkatkan setahap demi setahap dari ratusan menjadi sekitar 4.000 sampel pada September.

”Nanti kami maksimalkan supaya bisa mencapai 2.000–3.000 sampel setiap harinya. Hari ini saja mampu memeriksa 800 sampel sampai pukul 10 malam,” jelas dia.

Sementara ini, Labkesda masih menerapkan tiga sif. Saat semua fasilitas sudah lengkap, akan dibuat empat sif sehingga kelak beroperasi 24 jam nonstop. ”Setiap sif jadwal kerjanya lima jam karena mereka menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap,” ujar dia. (jun/c6/git/JawaPos.com)

 

Komentar

Berita Lainnya