Siapa pun yang menang, yang kalah adalah hoax. Yang juga kalah adalah fitnah. Begitu pemilu ini selesai, hoax pasti tidak begitu laku lagi. Lalu-lintas fitnah akan menurun

“Saya perkirakan Pemilu besok akan bermuara di MK, karena itu saya harus netral,” ujar Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Yang melahirkan banyak

Inilah istilah yang sudah hilang. Melineal sudah tidak menggunakannya lagi: “Nanti saya bel ya…” Sudah diganti dengan istilah “Nanti saya call back.” Begitu melekatnya kata ‘bel’ selama

Telur burung itu. Ditelurkannya di Medinah. Menetasnya di Basra, Irak. Setelah besar burungnya terbang ke Oman. Itulah jawaban teman saya di Oman. Ketika saya berkata kepadanya: ajari

“Dari menjenguk Bu Ani Yudhoyono, ya Pak?” Saya kaget. Kok tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu. Saat saya turun dari pesawat di Juanda. Yang membawa saya pulang dari

Di antara Kunming-Singapura itu saya ingat: saya nanti akan transit beberapa jam di Changi. Saya pun cari nomor WhatsApp (WA) ajudan Pak SBY. Atasan saya dulu. Yang

Pun sebelum masehi. Daerah ini sudah jadi rebutan. Yang sekarang menjadi bagian dari Pakistan. Nama daerah ini: Khewra. Tidak jauh dari kota Faisalabad. Di antara Lahore dan

Semua perjalanan punya titik loncat. Ada yang mau meloncat. Ada yang tidak. Sudomo mau meloncat. Jadilah perusahaan kopinya, Kapal Api, begitu cepat besar. Terbesar di Jatim. Lalu

Pukulan itu begitu bertubi-tubi. Untuk Amerika. Di bidang teknologi tinggi. Setelah kalah di 5G, muncul kasus Boeing 737 MAX8. Ada lagi: Singapore Airlines men-grounded dua pesawatnya. Semua

Aneh. Justru Amerika Serikat yang kini belingsatan dengan modal asing. Yang bicara pun bukan lagi dari Partai Republik. Justru tokoh Partai Demokrat. Yang sudah begitu pede-nya: akan

SAYA nonton debat calon presiden kemarin malam. Tapi apa yang bisa ditulis? Tidak ada debat filsafat ketika membahas ideologi Pancasila. Sama-sama dangkalnya. Pak Jokowi bahkan sempat mempersempit makna

Tiap hari saya pindah kota. Sulit memutuskan: di mana bisa bikin janji. Untuk bertemu mahasiswa Indonesia yang ada di Pakistan. Untung saya harus balik ke kota Lahore.

Guyon di ketegangan. Itulah yang terjadi tiap hari. Jam 4 sore. Di perbatasan India-Pakistan. Tepatnya di Wagha, tidak jauh dari kota Lahore. Sekitar 5 ribu orang India

Saya balik lagi ke Lahore. Dari Karachi. Lupa. Belum ke Sungai Irawati. Yang melintasi Lahore. Yang sekarang disebut Sungai Ravi. Hulunya ada di India. Hilirnya di Pakistan. Pun

Saya pilih lewat jalan tol. Yang di Pakistan disebut Motorway. Dari Lahore ke Islamabad. Sejauh 370 km. Ke arah utara. Baru tahu: di Pakistan tiket jalan tolnya

Pertanyaan pertama saya adalah: di mana bisa beli kartu telepon lokal. Saat saya baru mendarat di bandara Lahore. Jumat pagi lalu. “Setelah pintu keluar bagasi,” jawab petugas

Akhirnya saya mendarat lagi di Muscat. Rabu kemarin. Setelah lebih 40 tahun tidak ke Oman. Ke Omanlah saya pertama kali ke luar negeri. Sebagai wartawan Tempo. Tahun

KITA senang kalau ada persaingan. Khususnya di dunia penerbangan. Harga tiket bisa murah. Bisa banting-bantingan. Seperti kapan itu. Can make every body fly. Berita sedihnya: Malaysia Airlines lagi

Sudah lama saya ingin ketemu sufi satu ini. Namun harus menelusuri dulu jejaknya. Ialah satu-satunya lulusan Gontor yang mendapat beasiswa langsung dari Paus Benediktus XVI. Bahkan satu-satunya

Penari perut itu sakit perut. Lalu dibawa ke rumah sakit. Meninggal dunia tanggal 1 Maret lalu. Selama sebulan perawatan tidak ditemukan penyakit apa pun. Kemarin baru tersiar

Anak muda ini lagi jadi pusat perhatian di Eropa. Umurnya baru 32 tahun. Jabatannya sudah wakil perdana menteri Italia. Namanya Luigi Di Maio. Lahirnya di kota kecil

Saya ke Solo Kamis lalu. Berhadapan dengan milenial Islam. Yang lagi sekolah di SMA Nur Hidayah. Mereka mengadakan acara NHVagansa. Untuk ke delapan kalinya. Ini bukan sekolah

Ada berita menarik, tapi tidak penting: pesawat Saudi balik ke landasan. Ada berita penting tapi juga menarik: jatuhnya pesawat Ethiopia. Yang di Saudi Arabia itu benar-benar lucu.

Musim durian tiba. Yang menyengat tidak hanya aroma. Tapi juga suasana. Durian kulitnya tajam. Demikian juga lidah manusia. Khususnya di musim hati didudukkan di kursi. Ketika yang

Amazon ngambek: tidak jadi bangun kantor induk di New York City. Amazon marah pada politisi: mereka harus belajar dasar-dasar matematika. Hari Valentine kemarin ditandai dengan perceraian. Antara

Kausnya warna merah. Depannya ada gambar dirinya: lagi naik sepeda motor Yamaha. Di depannya tertulis motto: Malu Apa Bossku. Itulah penampilan kekinian Najib Razak. Mantan perdana menteri

Dua orang ini terus jadi pusat perhatian dunia. Carlos Ghosn dan Sabrina Meng. Nissan dan Huawei. Ghosn akhirnya dikeluarkan dari tahanan. Hari ini atau besok. Dan Huawei

WAKTU Pak Eka Tjipta Widjaja meninggal, saya tidak bisa melayat. Saya lagi keliling Taiwan. Dari Taipei saya menulis naskah panjang. Untuk mengenangnya (lihat DI’s Way: disway.id/r/344/eka-tjipta). Minggu

Tidak baru. Presiden Amerika sewot di sebuah perundingan tingkat tinggi. Tidak baru. Negara lain jadi korban sebuah politik dalam negeri. Presiden Donald Trump melakukan apa yang pernah dilakukan Presiden

SAYA sering baca iklan menyenangkan. Di tengah-tengah berita di luar negeri. Tentang Indonesia. Isinya: datanglah ke Indonesia. Rasakan penerbangannya. Tarifnya keterlaluan–murahnya. Seminggu terakhir ini saya tidak lagi melihat