oleh

Tahti Semeru, Aplikasi Besuk Tahanan Polda Jatim

Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Jatim meluncurkan aplikasi bagi pembesuk tahanan pekan lalu. Namanya Tahti Semeru. Dengan aplikasi tersebut, proses besuk tahanan lebih tertata. Yang membidani lahirnya aplikasi itu juga polisi.

HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya

Brigadir Polisi (Brigpol) Vondra Eka Pranata mengutak-atik tablet smartphone. Gawai itu belakangan akrab dengan jemarinya. Vondra yang sehari-hari bertugas di Subdit Pengamanan Tahanan Dittahti Polda Jatim dipercaya menjadi tim teknologi informasi (TI) dittahti.

Tugasnya tidak gampang. Dirtahti Polda Jatim AKBP Sutrisno memintanya membuat sebuah aplikasi pelayanan publik. Dengan aplikasi itu, masyarakat bisa merasakan kenyamanan saat membesuk tahanan yang kini mendekam di sel. ”Lega, akhirnya bisa terwujud,” katanya kepada Jawa Pos. ”Meski memang masih ada perbaikan yang diperlukan agar kian maksimal,” lanjutnya.

Vondra tentu tidak sembarangan ditunjuk sebagai tim TI. Sutrisno tahu latar belakangnya yang paham perkembangan teknologi. Vondra adalah lulusan Politeknik Informatika ITS.

Vondra masih ingat. Sekitar tiga bulan lalu, Sutrisno yang baru menjabat melakukan pengecekan. Mantan Wadirpamobvit Polda Sulawesi Selatan itu melihat kondisi tahanan Sutrisno mengambil kesimpulan dari pemantauan itu. Jajarannya harus membuat perubahan. Fakta menunjukkan, proses besuk tahanan kurang tertib. Antreannya panjang. ”Dalam sehari lebih dari 150 orang yang datang,” ujar Vondra. Maklum, jadwal besuk hanya dua hari dalam sepekan. Yakni, Selasa dan Kamis. Waktunya juga terbatas. Mulai pukul 10.00. Berakhir pukul 14.00.

Sutrisno lantas mengumpulkan personelnya. Dia mencari tahu latar belakang mereka yang akrab dengan TI. Vondra kemudian dipilih. Bersama tiga personel lain. Yakni, Hima Kusuma Perdana, Agung Wahyudi, dan Slamet. Dua nama terakhir berpangkat brigpol seperti Vondra. Hanya Hima yang berpangkat satu tingkat lebih tinggi alias bripka (brigadir kepala). Di antara empat personel yang terpilih, Slamet satu-satunya yang bertugas di subdit barang bukti. Lainnya di subdit pengamanan tahanan.

Mereka berempat langsung tancap gas membuat aplikasi yang diharapkan. Sebab, pimpinan berharap inovasi itu bisa diresmikan Jumat (6/12) pada saat deklarasi pencanangan pembangunan zona integritas.

Vondra menuturkan, langkah awal yang dijalankan adalah membuat konsep aplikasi. Dia tidak terlalu bingung karena sudah pernah membuatnya. ”Dulu pas kuliah juga buat aplikasi sebagai tugas akhir,” jelasnya. ”Hanya teknisnya yang diubah karena temanya berbeda,” sambungnya. ”Tugas kuliah buat aplikasi tentang toko sembako,” katanya.

Menurut dia, basic sebuah aplikasi adalah database. Jadi, dia harus mengumpulkan semua identitas tahanan. Mulai nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nama keluarga, sampai pasal yang disangkakan dilanggar. ”Mirip dengan database bank,” ungkapnya.

Slamet, teman satu timnya, menambahkan bahwa proses pengumpulan data itu adalah masa paling merepotkan. Untuk menuntaskannya, dia dan personel lain harus lembur sampai malam. Hingga pukul 22.00. ”Data yang dikumpulkan tidak sedikit,” ujarnya. Dittahti Polda Jatim, kata dia, saat ini menahan 250 tersangka dari beragam perkara. Mayoritas narkoba.

Sarjana administrasi negara tersebut menambahkan, pembuatan database memakan waktu hampir satu bulan. Setelah mengantonginya, tim membuat fitur pilihan dalam aplikasi. ”Harus memudahkan masyarakat. Intinya itu,” jelasnya.

Hampir satu pekan timnya berdiskusi. Hingga akhirnya muncul kesepakatan membuat dua fitur utama dalam aplikasi yang dirancang. Yaitu, better yes (besuk tahanan dengan tiket elektronik nyaman enak dan santai) dan best service (besuk tahanan secara video call elektronik).

Fitur better yes, lanjut dia, bisa dipilih pembesuk yang ingin menjenguk langsung tahanan. Dengan memilih fitur itu, pembesuk dapat memilih hari dan jam kedatangan. Syaratnya, menunjukkan identitas tahanan yang ingin dijenguk.

Slamet menerangkan, pendaftar akan mendapat sebuah verifikasi berupa barcode. Barcode itulah yang akan dipakai untuk membesuk. ”Ditunjukkan ke mesin scan yang ada di depan ruang tahanan. Barcode tidak perlu dicetak,” paparnya.

Hima, personel lain dari tim itu, menambahkan bahwa fitur best service malah semakin keren. Dengan memilih fitur tersebut, pembesuk tidak harus datang ke mapolda. Mereka bisa bertatap muka dengan tahanan melalui panggilan video.

Fitur itu, jelas Hima, sengaja dibuat untuk memudahkan keluarga tahanan yang tidak tinggal di metropolis. Maklum, tersangka yang ditahan berasal dari berbagai daerah di Jatim. ”Durasi panggilan setiap pendaftaran sepuluh menit. Biar bisa gantian dengan yang lain,” tuturnya.

Agung, anggota lain tim itu, mengaku masih ada yang perlu diperbaiki dari aplikasi tersebut. Menurut dia, saat ini aplikasi baru bisa diunduh dari smartphone berbasis Android. (jawapos)

Komentar

Berita Lainnya