oleh

Tanggapan Kepala BNN Sumsel Terhadap Vonis Bandar Narkoba yang Ditangkap di CGC

SUMEKS.CO – Bagaimana tanggapan Kepala BNN Sumsel, terkait putusan lebih ringan terhadap empat terdakwa kasus Narkoba 15 Kg sabu-sabu? Menurut Brigjen Pol Jhon Turman Panjaitan, putusan majelis Pengadilan Negeri Palembang Kelas IA Khusus, diketuai Touch Simanjuntak Rabu (11/3/2020) lalu wajib dihormati.

“Putusan hakim wajib kita hormati, apalagi dalam perkara a quo, jaksa penuntut umum (JPU) sebelumnya telah menuntut 18 tahun penjara, tapi kemudian vonis menjadi 13 tahun, tentunya JPU saya kira akan melakukan banding,” tegasnya kepada SUMEKS.CO.

“Namun hal ini sebaiknya ditanyakan saja langsung sama jaksanya (apakah banding atau tidak),” timpalnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat terdakwa kasus narkoba 15 kg sabu-sabu, yaitu H Syahbudin (bandar), Adityawarman (kurir), Junaidi (kurir) dan Ahmad Chandra (kurir) masing-masing hanya divonis 13 tahun penjara. Mereka juga dihukum denda sebesar Rp2 miliar.

Majelis hakim memutuskan, para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam surat dakwaan, pasal 114 ayat 2 UU No. 35 Tahun 2009, tentang Narkotika, dan menjatuhkan hukuman selama 13 tahun penjara.

Ketiga kurir juga dikenakan denda Rp2 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sementara bandarnya lebih ringan, denda Rp2 miliar subsider 4 bulan kurungan.

Putusan ini lebih rendah dari tuntutan JPU Kejari Palembang Indah Kumala Sari SH yang sebelumnya meminta agar majelis hakim menghukum keempat terdakwa dengan pidana 18 tahun penjara dan denda sebesar Rp2 miliar.

Usai sidang, keempat terdakwa memilih untuk pikir-pikir apakah akan menerima putusan hakim tersebut atau mengajukan banding.

Diketahui, keempat terdakwa ditangkap Tim Bareskrim Polri pada 11 September 2019, sekitar pukul 21.45 WIB.  Barang bukti SS ditemukan di dalam mobil Xenia (Nopol BG 789 AP) warna merah marun di Perumahan CitraGrand City, depan rumah Blok D18, Palembang.

Dari dakwaan JPU yang diunggah pada Sistem Informasi Peradilan (SIPP) PN Palembang diketahui pada 9 September 2019, Adityawarman dihubungi H Syahbuddin bahwa ada pekerjaan menyalurkan narkoba.

Temannya, Ahmad Candra akan mengirim SS dari Malaysia, Adityawarman kemudian menyetujuinya. Lalu pada 11 September 2019, Aditya kembali dihubungi H Syahbuddin, jika SS akan segera datang.

Kemudian sekitar pukul 19.00 WIB, mereka bertemu, yakni Adityawarman, Junaidi, H Syahbuddin, FAI (DPO). Mereka lantas berbagi tugas, Adityawarman akan mengendarai mobil Xenia merah marun (BG 789 AP) berisi SS untuk dibawa ke rumah H Syahbuddin di CitraGrand City (CGC).

Sementara Junaidi membawa Xenia putih nopol BG 1837 AP, mengawasi sekitar lokasi penyerahan narkoba.

Selanjutnya, kunci Xenia putih diserahkan kepada FAI (DPO). FAI juga bertugas memindahkan SS dari Xenia putih ke Xenia marun dan para terdakwa akan diupah Rp2,5 juta.

Syahbuddin akan berkomunikasi langsung dengan Ahmad Chandra. Sekitar pukul 19.00 WIB, Xenia putih datang membawa membawa SS, Xenia marun dikendarai Adityawarman mendekat.

FAI memindahkan tas berisi SS, dari Xenia putih ke Xenia merah marun. Tak lama, Adityawarman lalu tancap gas, membawa SS ke rumah kontrakan H Syahbuddin di Perumahan CitraGrand City.

Sekitar pukul 21.15 WIB, H Syahbuddin mengendarai angkutan online menemui Adityawarman. Saat itulah, Syahbuddin diringkus Tim dari Bareskrim Polri. Menyusul ketiga lainnya, Adityawarman, Chandra, dan Junaidi. Sementara FAI buron.

Ikut diamankan juga istri Syahbuddin oleh Tim Bareskrim Polri, termasuk barang bukti tas berisi 15 kantong teh Tiongkok bertuliskan Guanyinwang, yang ternyata berisi 15 kg SS. Hanya saja malam saat penangkapan itu disebut-sebut barang bukti yang diamankan sebanyak 26 kg SS. (dho)

Komentar

Berita Lainnya