oleh

Tanpa Sepengetahuan Pemilik, 78 Sertifikat Tanah Senilai Rp 9,2 Miliar Digadaikan

SUMEKS.CO – Jalaludin (60), warga Jl Kadir TKR, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Gandus, Palembang melaporkan FH rekanan pengusaha developer ke SPKT Polda Sumsel.

FH diketahui seorang pengusaha developer dari PT TAU (Tamacon Alia Utama) yang merupakan rekanan kerja korban. Korban baru menegtahui, kalau sertifikat tanah miliknya sudah diagunkan ke bank tanpa sepengetahuannya sama sekali.

Korban mengungkapkan, sebelumnya menitipkan sebanyak 78 sertifikat tanah atas namanya. Sertifikat tanah tersebut dititipkan ke FH yang merupakan rekanan kerjanya.

“Karena takut hilang karena posisi saat itu saya sedang membangun rumah pribadi. Dan saya percaya dengan dia, makanya saya titip 78 sertifikat tanah itu,” terang Jalaludin saat ditemui di Mapolda Sumsel, Rabu (10/2/2021).

Selesai pembangunan rumah pribadinya selesai, akhirnya Jalaludin memutuskan untuk mengambil 78 sertifikat tanah yang dititipkannya ke FH tadi.

Namun, saat diminta FH berjanji akan mengembalikan 78 sertifikat tanah yang dipegangnya. Tiga tahun berjalan namun sertifikat tanah tersebut tak kunjung dikembalikan.

“Saya meminta bantuan pengacara untuk mengambil sertifikat tanah tersebut. Tapi tidak juga berhasil malah FH berdalih jika 78 sertifikat tanah tersebut dititipkan ke temannya,” katanya lagi.

Kemudian korban tahu jika sertifikat tanahnya sudah diagunkan ke bank setelah pihak bank datang ke rumah dan menanyakan agunan sertifikat atas nama korban.

“Pihak bank menanyakan sebanyak 62 sertifikat. Sertifikat itu, diagunkan di bank dengan nilai Rp 9,2 miliar dan tanda tangan saya dipalsukan,” tambahnya.

Korban terus menghubungi FH, tetapi tidak ada hasilnya. Tak ada itikat baik untuk menjelaskan bagaimana sertifikat milik korban bisa diagunkan ke bank tanpa sepengetahuannya sama sekali.

Begitu pun saat kantornya didatangi, Jalaludin juga tidak mendapatkan hasil. Bahkan, orang kepercayaan FH di PT TAU juga sudah kabur.

“Ketika pihak bank datang dan menanyakan mengenai tanda tangan di surat kuasa, saya jawab, semua itu palsu dan tidak pernah sama sekali tanda tangan termasuk pembuatan surat kuasa. Dan di sini jadi pertanyaan saya kenapa bank menerima agunan yang diajukan dia,” beber Jalaludin.

Padahal, tanda tangan korban berbeda antara surat kuasa dengan di sertifikat. Sampai bisa lolos itu yang jadi pertanyaan, termasuk di notaris seolah-olah korban hadir dalam pembuatan surat kuasa itu.

Jalaludin juga mempertanyakan 16 sertifikat tanah miliknya. Karena, ada 62 sertifikat tanah yang diagunkan ke bank dari total 78 sertifikat. Sisanya, 16 sertifikat tidak diketahui rimbanya.

“FH saat ini sulit untuk ditemui dan tidak mau lagi berkomunikasi. Dan tanah milik saya yang berada di Jl PSI Lautan, Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Gandus Palembang, saat ini memang belum dibangun perumahan dari developer FH,” tandas korban.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi MM mengatakan, saat ini laporan korban sudah diterima petugas SPKT Polda Sumsel dengan nomor STTLP/113/II/2021/SPKT.

“Saat ini kasusnya sudah diserahkan ke Ditreskrimum Polda Sumsel, dan sedang ditangani ubdit Harta dan Benda untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” terang Supriadi.(dho)

 

Komentar

Berita Lainnya