oleh

Tarif Pesawat Mahal Gerus Pendapatan Daerah

-Ekbis-158 views

JAKARTA – Masih mahalnya harga tiket pesawat domestik menyebabkan merosotnya pendapatan daerah. Sejumlah pemerintah daerah meminta segera ada solusi mengatasi harga tiket pesawat.

Keluhan kepala daerah itu menjadi masukan pemerintah pusat. Sekretaris Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, pada Senin (13/5), akan melakukan pertemuan untuk menyelesaikan mahalnya harga tiket pesawat.

“Selain inflasi tinggi, hampir semua kepala daerah mengeluh, karena destinasi sepi, hotel-hotel akupasinya jatuh sekali, bahkan ekonomi daerah destinasi,” ujar Susiwijono.

Catatan Susiwijono, dampak kenaikan tiket pesawat juga menyebabkan penurunan aktifitas bisnis di sektor angkutan udara sendiri. Dari kunjungannya di beberapa daerah mengalami penurunan flight pasca kenaikan harga tiket pesawat.

“Saya setiap ke bandara-banda hampir semuanya flight-nya berkurang. Sekarang pertanyaan dengan tiket tinggi penumpang tinggal separo memang masih untung juga? kan volume juga”, kata Susiwijono.

Menurut susiwijono keluhan masyarakat tarif pesawat tinggi karena selama ini masyarakat dimanjakan oleh harga tiket murah. Hal itu akibat perang harga, dan harga yang tidak normal.

“Iya, dulu perang harga sehingga harga enggak realistis semuanya. Kan bu menteri (BUMN), deptutinya ada, Garuda Ada. Mereka bilang karena persiangan yang dulu harganya enggak wajar,” ucap Susiwijono.

Nah, saat harga pesawat bergerak kembali ke harga normal, lanjut Susiwijono, masyarakat belum siap dengan kondisi tersebut.

“Sekarang begitu normal harga tiba-tiba tinggi masyarakatnya yang belum siap menyesuaikan itu,” tutur Susiwijono.

Untuk itu, kata dia, pemerintah sebagai regulator harus turun tangan dan menjalankan fungsi kontrolnya. Diketahui, saat ini hanya ada dua maskapai besar yang menguasai pangsa pasar angkutan udara.

“Kalau market posisinya tinggal dua grup itu, duopoli ya enggak bisa kita lepas dong, masyarakat yang rugi harus, ada kontrol. Kalau Garuda bikin price tinggi kompetitor cuma satu maka ikut, masyarakat tidak ada pilihan. Dua grup begitu Garuda tinggi ini mau memanfatkan situasi tinggi, sudah publik tidak punya pilihan,” ujar Susiwijono.

Sementara pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan, untuk mengatasi polemik tarif pesawat adalah pemerintah harus mencari harga yang pas untuk calon penumpang.

“Solusi yang tepat cari harga dan strategi yang pas untuk pasar Indonesia,” kata Gerry.

Sebelumnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyarankan pemerintah untuk membuka masuk maskapai asing untuk penerbangan domestik. Usulan itu agar usaha hotel dan restoran tetap hidup.

“Jadi dipilihlah airlines lain untuk jadi kompetisi, tapi bukan juga dibuka untuk asing secara luas, hal ini agar keadaannya persaingan di Indonesia tidak cuma grup Lion dan Garuda,” ujar Wakil Ketua PHRI, Maulana Yusran.

Maulana berharap pemerintah segera menyelesaikan masalah tarif. Karena tadinya dia berpikir karena efek Pemilu 2019 saja. Tetapi ternyata kondisi ini menjelang Lebaran masih terjadi.

“Sampai saat ini, belum ada gambaran untuk Lebaran seperti apa, tapi kita masih melihat konsolidasi pemerintah yang berupaya untuk menurunkan tiket,” ujar dia. (din/fin)

Komentar

Berita Lainnya