oleh

Telusuri Teknologi Masa Lampau dari Relief Borobudur

Borobudur bukan sekadar mahakarya untuk wisata atau ber-selfie ria. Tapi, secara tersembunyi merekam ajaran dan teknologi masa lampau. Wenri menemukan ajaran dan teknologi itu tersebar di pelosok Indonesia.

FADILAT Borobudur membuat Wenri terpukau saat menatap bangunan bernama lain Bhumi Sambhara Bhudhara itu. Dalam benaknya, jelas Borobudur dibuat oleh masyarakat berilmu dan berteknologi tinggi. Yang bisa menjadi petunjuk jati diri bangsa dari peradaban yang dikagumi seantero dunia.

Tebersit dalam hatinya mengirimkan tiga Al Fatihah kepada siapa pun yang membuat Borobudur. Setelah membaca Al Fatihah, Wenri membuka matanya.

Tampak seekor burung terbang di atas kepalanya. ”Wahai burung, engkau pergi melanglang buana. Sampaikanlah kepada siapa pun, saya anak manusia yang kecil ini ingin mengenal Borobudur,” katanya dalam hati.

Setelah itu, seakan kisah Borobudur dipertontonkan kepada Wenri. Kisah yang berbeda dengan temuan sejarah kebanyakan.

Wenri mengamati detail-detail Borobudur. Mulai 2.672 reliefnya, 72 stupa, hingga 50 arca di Bhudara atau gunung, nama lain Borobudur. Demi menyelaminya, Wenri melakukan berbagai metode. Awalnya dengan metode sederhana. Menghitung jumlah manusia, hewan, dan benda dalam relief. ”Satu per satu manusianya saya hitung, hewannya ada gajah, ada benda buatan manusia seperti kapal dan sebagainya,” tuturnya.

Wenri mendapatkan secercah pemahaman bahwa sosok manusia dalam relief bukanlah orang banyak. Hanya satu orang yang sama, namun melakukan aktivitas yang berkelanjutan atau pergerakan. ”Ada bukti yang menjadi pijakan,” ujarnya.

Dia lantas berkeliling di sekitar Borobudur. Di sebuah warung, Wenri berhenti. Memesan segelas kopi. Di samping warung itu, terdapat sebuah penginapan. Di depannya ada seorang pria paro baya yang sedang bersantai.

Wenri hanya ingin bertegur sapa, namun akhirnya larut dalam sebuah obrolan panjang tentang kisah Borobudur. Dari lelaki yang awalnya mengaku bernama Tomo tersebut, Wenri mendapatkan fondasi-fondasi bukti dari penerjemahannya terhadap Borobudur. Setelah itu, barulah Wenri mengetahui bahwa lelaki yang berdiskusi panjang dengannya adalah Ariswara Sutomo, orang menyematkan julukan Budayawan Borobudur kepadanya. ”Saya bertemu dengan Pak Tomo awal-awal mengkaji Borobudur pada 2016,” kisahnya.

Wenri banyak dibantu oleh Tomo. Bahkan, menginap di salah satu rumahnya cukup lama.”Beliau sekarang telah tiada, pada 2018 lalu,” ujarnya.

Berbulan-bulan dihabiskan Wenri untuk mengkaji Borobudur. Proses pembuatan Borobudur juga menjadi salah satu fokus yang ingin digali oleh Wenri. Borobudur dibuat dari batu andesit dengan desain piramida berundak. Susunan blok batu andesitnya saling mengunci.

Kesabaran Wenri memberikan sebuah petunjuk terkait pembuatan candi itu. Dari beberapa orang kampung Hang Tuah di sekitar Borobudur, dulu pada 1980 di awal pembukaan Taman Nasional Borobudur, terdapat sebuah temuan. Berupa serpihan dan pecahan batu andesit yang membentuk bukit karena saking banyaknya.

Namun, bukit serpihan batu andesit itu lantas diratakan dan menjadi bagian taman nasional tersebut. Wenri menduga, serpihan batu andesit yang menjadi bukit itu sebenarnya bekas atau sisa pembangunan Candi Borobudur. ”Harusnya itu dibiarkan untuk diteliti, bagaimana proses pembuatan candi. Itu bisa menjadi bukti bahwa pembuatan candi membutuhkan waktu,” urainya.

Dari Magelang, Wenri menuju ke Jogjakarta. Menggunakan bus, dia lantas menuju Banyuwangi, lalu ke Bali. Wenri lantas menginap di rumah kawannya, di sebuah kampung yang letaknya paling akhir di Karang Asem. Rumah kawannya itu memiliki gerbang dari bebatuan andesit.

Wenri lantas diarahkan ke tetangga kawannya bernama Pak Bule, seorang perajin batu andesit. ”Saya reportase lah bagaimana cara mengolah batu andesit. Menjadi kisi-kisi dalam pencarian kisah Borobudur,” tuturnya.

Wenri lantas dipertemukan dengan seorang sejarawan bernama Ngoerah Agung Gde Agung. Wenri mendapatkan buah tangan berupa naskah terjemahan dari lontar berbahasa kawi. ”Beliau ini penerjemah bahasa kawi,” ujarnya.

Dari naskah terjemahan itu, didapatkanlah sebuah informasi yang terhubung dengan kapal bercadik, relief di Borobudur. Dalam naskah tersebut diceritakan adanya prasasti empat lempeng tembaga dan biasa disebut Prasasti Junghyang. Prasasti itu menceritakan kapal bercadik dan aturan membawa rempah dari Bali. ”Prasasti ini tercatat sekitar 908 Saka,” tuturnya.

Selanjutnya, Wenri seakan dituntun bertemu dengan tokoh lainnya. Kali ini bertemu dengan seorang guru matematika bernama Terang Pawake. ”Saat itu, mulailah diceritakan adanya ajaran yang terhubung dengan Borobudur,” urainya.

Secara sederhana, Wenri menuturkan bahwa Terang menceritakan kronik sejarah tua. Sebuah ajaran hebat yang lahir di negeri ini yang kemudian menyebar ke mana-mana.

Esok harinya, Terang mengajak Wenri ke sebuah lokasi. Tepatnya sebuah pantai yang terdapat dua bukit di kedua sisinya, semacam tanjung. Sekitar pantai itu masih pepohonan lebat seperti hutan. ”Di hutan itu ada bekas bangunan yang terbuat dari karang, bangunan tua,” ujarnya.

Tempat itu merupakan hutan adat. Tidak boleh orang luar desa tersebut keluar masuk seenaknya. Bangunan itu ternyata bekas pelabuhan rempah. ”Ini kisah diceritakan turun-temurun dalam kerahasiaan,” terangnya.

Penulis yang telah memiliki tujuh buku sejarah itu merasa bahwa pencariannya terkait Borobudur banyak menemui serpihan cerita rahasia turun-temurun. ”Pada akhirnya memiliki benang merah dengan Borobudur,” urainya.

Setelah dari Bali, Wenri berkeliling ke Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di sana dia menemukan teknologi layar dari kapal bercadik yang terbuat dari pelepah pinang. Dianyam seperti tikar dan masih dipakai di Lamalera.(ILHAM WANCOKOJakarta, Jawa Pos)

Komentar

Berita Lainnya