oleh

Terapi Ilegal, 15 Menit Rp4,5 Juta

PALEMBANG – Kinerja tim pengawasan orang asing (tim pora) Sumatera Selatan (Sumsel) diuji. Sebanyak 20 orang warga negara asing (WNA) masuk Kota Palembang.  Mereka salah gunakan visa wisata dengan buka praktik terapi pengobatan yang mampu hasilkan uang ratusan juta rupiah per hari.

Pelanggaran keimigrasian ini dibongkar jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil KemenkumHAM) Sumsel. Awal terungkapnya keberadaan 20 orang asing ini dari laporan pihak Imigrasi Palembang.

Pegawai instansi tersebut mendeteksi masuknya para WNA di pintu kedatangan domestik Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, 5 Januari lalu. Mereka terbang dari Bandara Kuala Namu, Medan.

   “Informasi itu segera ditindaklanjuti dengan melakukan operasi intelijen,” jelas Kepala Kanwil KemenkumHAM Sumsel, Sudirman D Hury, kemarin (10/1).  Selanjutnya, pada 8 Januari, Kepala Divisi Imigrasi dan Kabid Infokim melihat ada demonstrasi terapi pijat di PTC Mall.

“Dialek terapisnya jelas menandakan bukan warga Indonesia,” kata dia. Lalu, penyelidikan makin intensif. Didapatkan informasi kalau akan ada pengobatan terapi sendi otot dan tulang di Hotel Novotel pada 9 Januari.

Tim lalu melakukan pengecekan on the spot ke ballroom dan mendapati 20 WNA sedang melakukan praktik pengobatan. Ada ratusan warga yang antre berobat. “Kami koordinasi dengan manajemen hotel untuk mencari bukti tentang mereka semua,” tambah Sudirman.

Terungkap, para WNA ini menggunakan visa wisata. Pada kenyataannya, mereka malah bekerja dengan membuka praktik pengobatan alternatif Chris Leong Method (CLM). “Kami juga sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan memastikan kalau praktik pengobatan itu tidak ada izinnya,” tegas dia.

Ke-20 orang asing itu didatangi. Mereka, 16 orang warga Malaysia, 1 Belgia, 1 British (Inggris) dan 2 Hongkong. Saat ini, semua WNA tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Termasuk meminta keterangan dari pihak hotel yang menyediakan ballroom mereka untuk kegiatan itu.

“Kami akan cek semua, termasuk hotel yang mengetahui kegiatan mereka tapi tidak melapor,” cetus Sudirman. Sebelum melakukan praktik pengobatan alternatif sendi otot dan tulang itu, kelompok ini telah sebarkan informasi dan buka pendaftaran secara online.

Jika daftar online, satu pasien dipatok tarif 1.000 ringgit. Untuk yang daftar langsung, biayanya 1.300 ringgit. “Jadi satu pasien bisa dapat Rp4,5 juta. Per hari mereka mampu melayani hingga ratusan pasien,” ungkapnya.  Artinya, dalam satu hari para WNA ini meraup ratusan juta rupiah.

Masing-masing orang punya peran dan tugas yang berbeda. Namun, terindikasi kalau ke-20 orang ini dikoordinir oleh NG Mien Ming (Mey atau Selvi)  dan Chris Leong sebagai terapis. “Mereka ini terorganisir dan tidak melibatkan orang lain, setiap WNA punya peran masing-masing,” jelasnya.

Pihak Kanwil KemenkumHAM Sumsel juga akan tindak lanjut jika ada laporan warga yang merasa tertipu. Sudirman mengemukakan, kelompok ini buka pengobatan secara diam-diam. Terakhir di Bali dan Medan, namun tidak lama. “Tim dari Kemenhumham mengejar di Medan begitu Bali namun tidak tertangkap. Beruntung di sini tertangkap, jika tidak mereka sudah pindah daerah lain,” tuturnya.

Untuk sanksi, saat ini tengah dilakukan pendalaman terhadap ke-20 WNA itu. Jika para WNA tersebut terbukti melanggar administrasi, maka akan dideportasi hingga dicekal. Tapi jika terdapat unsur pidana, akan dilakukan tindakan pro justisia.

Kepala Divisi Imigrasi Kemenkumham Sumsel, Hendro  mengatakan, tertangkap ke-20 WNA ini lantaran  pada 8 Januari pukul 20.00 WIB, dia beserta Kasubbid Infokim, Suwandi ingin berbelanja di PTC Mall. Mereka lalu melihat orang  sedang demonstrasi tentang pijat terapis.

Dalam penyelidikan, akhirnya terbongkar. Paspor semua WNA dikumpulkan. Mereka semua diperiksa. “Para WNA ini menyalahi aturan Pasal 122 (A) UU No 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian,” jelas Hendro.

Barang bukti yang disita, 20 paspor, 20 handphone, bantal tempat tidur, alat pengobatan, laptop dan lainnya. (yun/way/ce2)

Komentar

Baca Juga