oleh

Tes Swab di Bangkok, Ahsan cs Mengaku Tersiksa

SUMEKS.CO, BANGKOKYonex Thailand Open akan digelar besok (12/1) di Impact Arena, Bangkok. Skuat merah putih telah menjajal arena pertarungan, Ahad (10/1).

“Latihan pertama di arena pertandingan sebagai proses adaptasi bagi pemain. Maklum, latihan sebelum-sebelumnya hanya di tempat latihan. Kondisi para pemain juga baik dan latihan bisa jalan dengan baik. Konsentrasi anak-anak pun lumayan baik,” kata Kabid Binpres PP PBSI Rionny Mainaky kepada Tim Humas PP PBSI. Seperti selama tinggal di hotel dan tempat latihan sebelumnya, protokol kesehatan yang diterapkan panitia tetap harus dijalani para pemain saat berada di Impact Arena.

Mulai dari cek suhu, cuci tangan, bermasker, dan menjaga jarak.

“Pesan panitia jelas, tidak boleh berkeliaran hingga sampai hall dan masuk lapangan. Selesai latihan pun kami harus langsung naik bis balik hotel. Kami juga dilarang berinteraksi dengan tim dari negara lain,” kata Rionny. Selama di Bangkok, seluruh pebulutangkis rutin melakukan swab test PCR.

Menurut para pemain, tes swab di Thailand terasa lebih menegangkan. Saat melakukan proses tes, tenaga kesehatan setempat dinilai kurang berperasaan terhadap pemain. Tes sebelumnya dilakukan saat para pemain dan tim pendukung masuk Hotel Novotel Bangkok Impact, Senin, 4 Januari. Seperti pada tes pertama, hasilnya negatif.

“Menyangkut hal tes, kalau tidak ada keterangan dari panitia, itu berarti hasilnya negatif dan tidak perlu dikhawatirkan,” kata Bambang Roedyanto, Kabid Luar Negeri PP PBSI, saat dikonfirmasi Tim Humas PP PBSI.

Berdasarkan rilis panitia, paling tidak selama tinggal di ‘gelembung’ Bangkok, pemain, pelatih, dan tim pendukung akan menjalani delapan kali tes. Setelah dua kali tes, selanjutnya bakal dijalani pada hari ini, menyusul tanggal 15, 18, 22, 26, dan 30 Januari.

“Proses tes swab kali ini nyoloknya seperti tidak memakai perasaan,” kata salah seorang pemain Mohammad Ahsan.

“Hidung saya sudah ngilu-ngilu rasanya,” tambah pemain ganda ini yang dihitung sudah sepuluh kali melakukan tes usap, termasuk tes usap mandiri yang dilakukannya. Pengalaman tersiksa juga dialami Fajar Alfian. Menurutnya, tes usap terakhir tersebut terasa berbeda dan menakutkan. “Memang rasanya sih sama saja karena sudah terbiasa swab. Tetapi swab yang kedua di sini dalem banget. Saya sampai pusing kepala. Beda dengan swab di Indonesia,” papar Fajar.

Sementara Hendra Setiawan menyebut, meski makin terbiasa mengikuti tes usap, dirinya tetap mengaku tegang, terutama menunggu hasilnya. Hanya, karena hal tersebut sudah merupakan regulasi yang harus dijalani, dirinya pun tidak mempersoalkan berbagai tes usap yang ada.

“Ya sekarang, harus dibawa enjoy saja sih. Itu memang sudah konsekuensi saya ikut ke sini. Jadi sudah harus siap. Dicolok hidung itu, rasanya enak, kok. Hahaha,” canda Hendra yang sudah enam kali mengikuti tes usap, termasuk di Tanah Air. “Saya sudah terbiasa mengikuti tes usap. Cuma tes di Thailand ini berbeda. Di sini, lebih sakit rasanya,” komentar Pramudya Kusumawardana, pemain ganda putra.

“Sepertinya, orang petugas kesehatan di Bangkok tidak punya hati. Kalau nusuknya sakit sekali,” timpal Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, partner Pramudya.

Dituturkan pelatih Eng Hian, dirinya secara jujur memang kurang nyaman dengan berbagai tes usap yang harus dijalani. “Namun memang seperti ini regulasi yang ditetapkan panitia, mau tidak mau ya harus mengikutinya,” katanya.

“Tes usap ini kan wajib. Walaupun sebetulnya tidak nyaman, tetapi tetap harus dijalani. Toh semua itu juga untuk kepentingan diri kita sendiri,” kata Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra. (*/bi/jpnn)

Komentar

Berita Lainnya