oleh

Tidak Segan Marah, Tidak Segan Berterima Kasih

Setiap orang punya kenangan yang berbeda saat bersama alhamrhum H Suparnop Wonokromo. Termasuk Achmad Wahyudi yang biasa disapa Mas Didik ini.

Ya, Sosok kepemimpinan Pak Parno yang tegas masih dikenang oleh Achmad Wahyudi. Saat saya berada di bagian keuangan Sumatera Ekspres selama tiga tahun pada awal berdiri Sumeks. Saya sering diajak Pak Parno pergi ke Bengkulu-Palembang. Saat itu, Pak Parno wara-wiri dari Bengkulu ke Palembang. Maklum saat itu Sumeks baru berdiri di bawah bendera Jawa Pos.

Di perjalanan Palembang-Bengkulu, pak Parno sering cerita terutama cara untuk memimpin suatu perusahaan. Misalnya , pada tahun 1997, Pak Parno kembali diberi tanggung jawab oleh Pak Dahlan Iskan untuk memimpin perusahaan media di Jambi. Tanggung jawab Pak Parno semakin berat dan luas namun semua dikerjakan dengan baik.

Saya teringat pada tahun 19987 bersama Dulpiah, Rosidi, saya, dan Pak Parno satu mobil dalam perjalanan ke Jambi. Biasanya kalau keluar kota boking kamar hotel sendiri-sendiri. Entah mengapa saat ke Jambi, kami pesan satu kamar.

Ternyata hikmahnya, di kamar itu  Pak Parno banyak cerita, ya semacam wejangan.   Misalnya bagaimana cara beliau dan  tantangan yang dijalani untuk menjadi pemimpin  perusahaan, saat ditunjuk pak Dahlan Iskan menjadi GM di Harian Semarak Bengkulu dan Sumatera Ekspres.

Menjadi pemimpin, kenangnya,  harus bertanggung jawab,  amanah, agar perusahaan tersebut bisa tumbuh dan berkembang. Dan jangan sekali-kali menyalahgunakan wewenang. Prinsip itu menjadi kunci keberhasilan Pak Parno memimpin Sumeks hingga menjadi perusahan media terbesar besar di Sumatera Selatan.

Sebagai pemimpin, sosok Pak Parno tidak segan untuk memarahi anak buahnya dan tidak segan untuk mengucapkan terima kasih kepada anak buahnya jika kerjanya berhasil. Suatu saat saya pernah dimarahi Pak Parno karena lalai.

Saya lupa menyampaikan pesan kepada teman-teman percetakan di Palembang untuk mencetak Koran Bengkulu lebih awal dari Sumeks. Saat itu ada order iklan warna Koran Bengkulu dan cetak di Palembang pagi dan harus tiba di Bengkulu pagi besok. Namun ternyata, cetak molor jadi siang hari karena lupa mengasih tahu kepada teman-teman percetakan.

Untung masih ada waktu. Konsekuensinya harus sewa mobil untuk mengantar koran ke Bengkulu agar cepat sampai dan sesuai dengan deadline edar di Bengkulu. “Dik koran sudah sampai pagi di Bengkulu tepat waktu tidak telat, terima kasih,” kata Pak Parno sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Saya menganggap sosok Pak Parno sebagai kakak, orang tua, dan sekaligus guru saya. Selalu energik dan tampil sederhana namun punya jiwa kepempinan yang besar. Selamat jalan Pak Parno, yang sudah saya anggap sebagai kakak, orang tua, dan guru yang telanda selama di Sumeks. Insya Allah Husnul khotimah. Aamiin. (*)

Achmad Wahyudi
Direktur Anak Perusahaan Divisi II Sumeks Group

Komentar

Berita Lainnya