oleh

Tim Voli Puteri Realistis Berburu Perunggu

SEMARANG – Tim voli Puteri Indonesia kesulitan bersaing di ASEAN Schools Games (ASG) XI/2019. Mereka langsung tidak berkutik ketika menghadapi tim asal Filipina pada pertandingan pertama sabtu (20/7).

Sempat unggul di set pertama, rontok di tiga set kemudian. Bertempat di GOR Universitas Walisongo Semarang, Laviara Chantika dkk pun menyerah 1-3 (25-23, 13-25, 20-25, 16-25).

Padahal, mereka mendapatkan dukungan melimpah dari suporter. Publik Semarang, mulai anak-anak sampai orang dewasa berjubel di tribun dan pinggir lapangan.

GOR berkapasitas 2000 penonton pun tidak mampu menampung ledakan penonton. Mereka sampai berjejer berdiri mengitari lapangan pertandingan. Panpel tampak sibuk mengatur lalu lintas penonton karena dikhawatirkan mengganggu kenyamanan peserta ASG.

“Kami berterima kasih atas dukungannya. Tapi kami maaf tidak bisa memberikan yang hasil memuaskan. Kadang dukungan itu penting tapi dengan mental bertanding anak-anak yang masih labil, kehadiran mereka juga bisa berpengaruh pada ketenangan bermain,” ungkap Pelatih Tim Voli Indonesia Mardwito Wahid usai pertandingan.

Diakui Mardwito, anak asuhnya bisa pegang kendali permainan pada set pertama karena mampu memanfaatkan kesalahan pemain Filipina. Mereka selalu salah melakukan receive. Tapi setelah mereka bisa kendalikan keadaan, giliran pemain Indonesia yang kurang kuasai keadaan sehingga banyak kesalahan dilakukan. Terutama saat melakukan receive.

“Jika receive kacau, maka permainan pun tidak akan jalan. Ini menjadi pekerjaan rumah saya karena besok melawan Thailand yang memiliki kekuatan di atas Filipina. Melihat persaingan, kita dapat perunggu sudah bagus.

Kapten Tim Voli Indonesia Laviara Chantika mengaku tidak masalah dengan suasana riuh saat pertandingan. Ini karena dia telah terbiasa. Maklum, Chantika merupakan bagian dari tim junior klub Proliga Puteri Bank BJB Bandung. Sementara lainnya belum banyak memiliki pengalaman bertanding.

“Kalau saya tidak masalah dengan penonton tapi gak tau dengan yang lainnya. Bisa jadi keriuhan di dalam lapangan membuat mereka nervous yang akhirnya bisa berbuat kesalahan,” ujarnya. (kmd)

 

Komentar

Berita Lainnya