oleh

Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, BI Dorong Perbankan Aktif Salurkan Kredit

PALEMBANG – Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Yanti Setiawan memprediksi. Bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun masih berada dikisaran 11 persen. Akan tetapi, menurut dia, dari angka ini tentunya masih memerlukan peningkatan lagi.

“Hal itu harus dilakukan, kita juga ingin kegiatan ekonomi yang lain ikut,” ungkap Yanti. Usai menjadi narasumber pada acara Bank Indonesia Nangkring Bareng Blogger dan Mahasiswa. Dalam rangka Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Kuto Besak Theater Restaurant, Kamis (4/6).

Ditambahkan Yanti, pada saat sebelum Pemilihan Presiden lalu perekonomian di Indonesia banyak pelaku usaha yang masih melakukan wait and see. Para pelaku usaha ini cenderung tidak melakukan ekspansi dan terus berjaga-jaga melihat hasilnya.

“Tapi setelah Pilpres kondisinya sudah mulai naik lagi. Likuiditas perbankan juga sudah mulai bagus dan kegiatan perusahaan melakukan korporasi serta ekspansi pertumbuhan kredit sudah mulai berjalan,” kata Yanti.

Disinggung mengenai upaya yang akan dilakukan Bank Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Yanti menyebutkan, pihaknya sedang mengkaji kebijakan makroprudensial. Artinya, pihaknya mendorong perbankan di Indonesia supaya lebih aktif menyalurkan kredit terutama terhadap UMKM.

“Itu dalam rangka kita meningkatkan kontrobusi dari sektor UMKM terhadap perekonomian. Ketentuannya sedang kita garap, mudah-mudahan segera keluar sebagai upaya untuk mendorong perekonomian. Kita juga menjalin kerjasama yang sangat erat dengan instansi lain untuk mendorong sektor prioritas. Supaya menjadi fokus pembiayaan baik dari perbankan maupun non perbankan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Hari Widodo menyebutkan. Bahwa pertumbuhan ekonomi di Sumsel pada semester I lalu mencapai 5,68 persen dan kondisi ini terbilang masih tinggi. Kendati demikian, menurut dia, sempat terjadi inflasi sedikit dikisaran 0,55 persen.

“Angka ini masih relatif rendah dibanding empat tahun terakhit. Artinya memang untuk inflasi di hari besar keagamaan, seperti pada Idul Fitri lalu yang kita khawatirkan akan tinggi, ternyata tidak terlalu besar pengaruhnya,” ungkap Widodo.

Ditambahkannya, inflasi di bulan Mei mencapai 0,44 persen, dan di bulan Juni mencapai 0,55 persen. Artinya kondisi petumbuhan ekonomi di Sumsel ini masih bisa dijaga. Dan mengenai pertumbuhan kredit di Sumsel pihaknya masih concern, terutama pasca Pilpres diharapkan pelaku usaha yang tadinya masih melakukan wait and see segera merealisasikan rencana investasinya.(ety)

Komentar

Berita Lainnya