oleh

Tolak Riset tak Libatkan Mahasiswa

-Nasional-120 views
JAKARTA – Prof Dr Ir H Anis Saggaf MSCE resmi memimpin Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk periode 2019-2023 setelah dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pemimpin Perguruan Tinggi Negeri oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof H Mohamad Nasir PhD Ak di Kantor Kementerian Ristekdikti, kemarin.
Jabatan Rektor Unsri yang diemban ini merupakan periode kedua, dimana masa empat tahun kepemimpinannnya ini Unsri ditargetkan bisa masuk skala internasional yang terbagi dalam tiga kelompok, pertama level Asia Tenggara, Asia dan menjadi world class university.

“Memang bukan hal yang mudah, tapi kita akan mengejar skala Asean terlebih dahulu. Saya ingin menggandeng dan mempererat hubungan dengan perguruan tinggi (PT) di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Thailand yang sudah baik, kemudian Malaysia yang sudah maju dalam pertukaran pelajar.

Kita juga sudah jalan dengan Korea Selatan dan Sudan. Kolaborasi dengan PT yang skalanya internasional akan terus kita perluas,” ujar Anis. Di periode pertama ia memimpin, riset dan publikasi menjadi fokus, sehingga pada periode keduanya ini bisa melaksanakan outcome atau produk yang dihasilkan.

“Riset yang dilakukan harus ada outcome atau produk yang dihasilkan, kita juga akan mengejar ini,” ujar Anis. Menurutnya, pelaksanaan riset harus jelas dilakukan untuk apa, produk apa yang ingin dihasilkan dan terutama upaya tersebut harus membawa nama Unsri yang dikerjakan bersama-sama oleh mahasiswa.

“Nanti riset dan publikasi atas nama sendiri tak boleh lagi, harus membawa nama Unsri yang dikerjakan bersama-sama oleh dosen dan lainnya beserta mahasiswa. Ini akan jadi tantangan berjamaah jilid II,” tegasnya.

Dirinya akan mengarahkan, disamping mengadakan pendampingan riset yang baik dengan mengundang para narasumber, bahwa mahasiswa juga harus dilibatkan. “Jadi, proposal yang tak melibatkan mahasiswa akan kita coret. Ini akan serius kita jalankan sehingga menghasilkan multi benefit, yakni riset yang dihasilkan tajam dan kedua publikasi yang baik,” bebernya.

Hal tersebut juga berkaitan dengan penganggaran yang dilakukan, sehingga tak merugikan keuangan universitas karena riset yang dilakukan atas nama pribadi.

Rencana strategis Unsri katanya, juga terus di upgrade untuk 10 tahun ke depan. Hal ini sudah dilaksanakan sejak sebelum 15 tahun lalu di Unsri. “Dan Renstra tersebut harus segaris dengan yang ditetapkan kementerian. Renstra ini tentunya melihat potensi daerah,” katanya. Untuk perangkingan dari Kemenristekdikti, pihaknya juga akan terus berupaya meningkatkan agar posisinya lebih baik.

“Kita selalu disebut menurun, tapi sebenarnya karena PTN lain juga berupaya terus. Saat ini Unsri diperingkat ke-36 jika digabung dengan PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum), namun jika melihat dari posisi cluster kedua PTN BLU (Badan Layanan Umun) kita peringkat 16. Untuk bisa masuk ke cluster satu (PTN BH), pihaknya akan mengejar outcome dari riset yang dilakukan,” ungkapnya. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa pemeringkatan yang dilakukan lembaga internasional dan independen Scimago posisi Unsri cukup baik.

“April lalu peringkat 15, saat ini naik ke posisi 14 di Indonesia. Scimago Institution Rangkings adalah lembaga dunia yang basis IP-nya di Denmark. Kalau sudah masuk Scimago berarti sudah PT Ok,” bebernya. Menristekdikti, Prof H Mohamad Nasir PhD Ak mengungkapkan, pejabat baru yang dilantik harus menerapkan tata kelola yang baik di tempatnya. Diantara cirinya adalah menerapkan transparansi, responsibility, countability dan lainnya.

Ia juga menyebut, memasuki era induatri 4.0, harus ada perubahan cepat yang dilakukan PTN. “Harus terus berinovasi dan kreatifitas. Ini jadi hal penting, tak bisa hanya berpangku tangan. Semua pejabat di universitas harus bertanggung jawab memajukan, tak bisa hanya menyerahkan pada purek, dosen dan bawahan Rektor dan direktur,” ujarnya.

Sederhanya, lanjutnya, ketika PT sudah memiliki akreditas A, kemudian harus melihaylt apalagi yang harua dilakukan kedepannya.

“Misal baru 50 persen prodi yang akreditasi A, kedepan harus menjadikan 100 persen A. Kenudian juga harus ke internasional supaya PT ada pengakuan dari negara lain. Jumlah publikasi jadi hal penting, misal sekarang baru 500 tahun depan hatus 750, kemudian empat tahun lahi harus ada 2 ribu publikasi. Target ini yang harus dicapai, sehingga PT kita mampu bersaing di kelas global,” imbuhnya.(rei)

Komentar

Berita Lainnya