oleh

Tongkat Komando Harun Sohar Tersimpan Rapi

Berkunjung ke Museum Monpera Sumbagsel di Jantung Kota Palembang

KEBERADAAN Museum Monpera Sumbagsel yang terletak di jantung Kota Palembang atau di depan RS dr AK Gani, mungkin tidak banyak diketahui warga Kota Pempek. Bisa saja yang ada di benak warga, Monpera hanya bangunan monumental sebagai  prasasti peringatan Perang Lima Hari Lima Malam. Padahal, di dalam Monpera terdapat museum yang menyimpan benda-benda sejarah perjuangan rakyat Sumsel sebelum Indonesia merdeka. Wartawan sumeks.co, Dendi Romi  menyempatkan diri berkunjung ke museum yang pengelolaannya di bawah naungan Dinas Pariwisata Palembang ini.

DENDI ROMI  –  Palembang

Museum Monpera Sumbagsel menjadi salah satu destinasi wisata Palembang yang menjadi pilihan bagi wisatawan untuk berkunjung. Bangunan museum berbentuk monumen, di dalamnya terdapat 8 lantai. Lantai pertama atau menjadi kantor UPTD Pengelolaan Sarana dan Prasarana Objek Wisata Dinas Pariwisata Palembang. Dari delapan lantai bangunan, hanya enam lantai yang dijadikan tempat menyimpan benda-benda sejarah.

Berbagai jenis senjata
Berbagai jenis senjata di etalase Museum Monpera Sumbagsel. foto: dendi romi sumeks.co

Namanya Museum Monpera Sumbagsel, maka kebanyakan benda sejarah yang tersimpan di dalamnya berhubungan dengan sejarah perjuangan merebut kemerdekaan.  Seperti berbagai jenis senjata. Yakni, samurai, ranjau darat, juki kanju, stand gun, double loop, meriam sunan, tongkat komando Harun Sohar, telek danto, hamburg, telepon, dan berbagai jenis senjata laras pendek lainnya. Berbagai jenis senjata tersebut tersimpan rapi dalam ruangan kaca di lantai 2 dan 4 museum.

Benda-benda sejarah lainnya, seperti foto pejuang Sumsel, seragam pejuang, dan prangko berada di lantai 3. Foto Bambang Utoyo, AK Gani, Harun Sohar, H Abdul Rozak, dan foto pejuang Sumsel lainnya terpampang di dalam museum.

Di lantai 4 museum, terdapat satu etalase yang terpajang seragam pejuang Sumsel. Karena besarnya etalase dan hanya satu setel pakaian pejuang, Dinas Pariwisata Palembang membuat tulisan himbauan bagi keluarga pejuang untuk mendonasikan pakaian atau benda-benda yang pernah digunakan pejuang untuk dipajang di museum.

Saari, salah satu wisnu asal Pekanbaru mengatakan bahwa dirinya berkunjung ke Palembang bersama keluarga dan sedang jalan-jalan di kawasan kota. Pandangan matanya tertuju pada Monpera. Karena penasaran, dia mendekat dan mengetahui ada museum di dalam Monpera.

“Kami dari Pekanbaru, baru pertama kali ke Palembang. Iseng-iseng jalan, tahu jika ada museum Monpera,” kata Saari, Selasa (2/7).

Monpera
Monpera. foto: dendi romi sumeks.co

Sementara itu Kepala UPTD Pengelolaan Sarana dan Prasarana Objek Wisata Dinas Pariwisata Palembang Agusti SH MM menuturkan bahwa dalam sehari Museum Monpera Sumbagsel , rata-rata dikunjungi sekitar 30 orang wisatawan. Baik itu wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara. Wisatawan manca negara biasanya berasal dari Malaysia. Sedangkan wisatawan lokal berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum.

“Pelajar dan mahasiswa Palembang banyak juga yang berkunjung ke sini (museum). Di hari libur banyak yang berkunjung ke museum,” tutur Gusti.

Dinas Pariwisata Palembang sendiri, memberlakukan tiket masuk ke dalam musuem sesuai Perda No 2 Tahun 2012 yakni sebesar Rp1.000 untuk pelajar, Rp2.000 mahasiswa, dan umum Rp5.000. “Tarif tiket masuk yang diatur Pemkot Palembang tidak memberatkan pengunjung karena nilainya di bawah Rp 10 ribu,” jelasnya.

Sebagai pengelola dan penanggung jawab Museum Monpera Sumbagsel, dirinya berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan kepada pengunjung yang datang. “Senyum, sapa, ramah selalu ditekankan kepada pegawai yang bertugas di museum,” tukasnya.

Keberadaan Museum Monpera Sumbagsel memang menjadi pilihan bagi wisman dan wisnu yang berkunjung ke Palembang. Namun sayang, di tiap lantai bangunan tidak terdapat pendingin ruangan. Sehingga pengunjung tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan yang memang minim ventilasi udaranya.  (*)

 

 

 

berupa

 

Komentar

Berita Lainnya