oleh

Tragedi (Lagi) Si Burung Besi

Oleh: Masayu Indriaty Susanto
Penulis adalah mantan praktisi jurnalistik

Bapak dan ibu yang terhorma,

Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi penerbangan ini

Ajakan untuk berdoa itu diucapkan senior flight attendant atau pramugari senior di pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ182, sesaat sebelum pesawat bersiap lepas landas.

Usai berdoa bersama, burung besi itu segera melesat, dengan kecepatan sekitar 256 km/jam, mendongak ke udara, melayang menembus awan.

Empat menit kemudian, pesawat itu dilaporkan lost contact. Ketinggian pesawat saat itu diperkirakan 10.900 feet atau sekitar 3,6 km di atas permukaan bumi.

Dan tiga jam kemudian, SJ182 dipastikan jatuh ke Laut Jawa, di antara pulau-pulau kecil Kepulauan Seribu.

Jatuhnya SJ182 itu menambah panjang jumlah kecelakaan pesawat udara yang terjadi pada fase take off. Fase di mana pilot dan kru kabin pastilah dalam kondisi full alert atau waspada penuh.

Dalam suatu penerbangan, fase take off dan landing memang merupakan fase paling kritis. Sering disebut juga critical eleven, atau 11 menit paling krusial.

Data statistik mengungkapkan, 80 persen kecelakaan pesawat udara terjadi pada fase ini. Boeing sendiri dalam risetnya merilis, 63 persen pesawat produksi mereka mengalami kecelakaan, juga pada fase tinggal landas dan mendarat.

Pada fase kritis ini, pilot harus mengendalikan si burung besi yang saat itu mengerahkan 90 persen dari maksimum power-nya untuk menanjak (climbing,) menuju target ketinggian di mana pesawat akan menuju fase cruising, terbang normal dan stabil.

Dalam kecepatan setinggi itu, semua harus diperhitungkan hanya dalam beberapa menit saja. Kondisi cuaca, awan, banyaknya pesawat lain di wilayah udara itu, arah angin, beban yang dibawa pesawat, dan sebagainya.

Karena itu, seringkali dalam fase take off dan landing, penerbang tidak mempunyai banyak pilihan.

Itulah mengapa, prosedur pada fase itu sangat ketat. Setidaknya ada 4 hal yang harus dilakukan para penumpang pada fase kritis itu.

Menaikkan sandaran kursi, membuka jendela, melipat meja, memasang seat belt, dan lainnya. Semua aturan itu dilakukan demi keamanan penerbangan dan antisipasi jika terjadi pendaratan darurat yang memerlukan evakuasi penumpang.

Riset menyatakan, dalam kecelakaan pesawat udara, evakuasi dan penyelamatan penumpang hanya memiliki waktu 9 menit saja. Termasuk saat pendaratan darurat di atas air.

Karena itu, penting bagi semua penumpang untuk mengetahui di mana posisi pintu emergency exit, seberapa jauh dari tempat duduk mereka, dan memastikan jika sudah paham betul cara mengenakan pelampung keselamatan.

Qantas Maskapai
Teraman

Kecelakaan pesawat udara selalu menimbulkan gejolak dan pemberitaan masif. Namun meski begitu, menurut statistik, pesawat terbang masih menjadi moda transportasi paling aman.

Studi dilakukan Universitas Northwestern yang membandingkan antara kecelakaan mobil dan pesawat. Untuk setiap 1 miliar mil perjalanan dengan mobil, ada 7,2 orang meninggal. Sementara pesawat hanya 0,07 orang.

Namun, seperti juga semua moda transportasi, zero accident adalah suatu tujuan dan cita-cita. Namun Qantas, perusahaan flag carrier Australia yang dinobatkan sebagai maskapai paling aman sedunia pun, catatan insidennya tidak lah tanpa noda.

Meskipun dunia internasional mengakui, rekor yang dicatat Qantas sangat mengesankan. Maskapai itu berhasil menjaga perfomanya tanpa kecelakaan serius, dan tidak kehilangan satu pun nyawa penumpang mereka selama 70 tahun terakhir.

Kecelakaan Qantas terakhir yang mematikan terjadi pada 1951, ketika pesawat mereka de Havilland DH84 Dragon jatuh di dataran tinggi Papua Nugini. Tiga orang di dalamnya tewas.

Sejak itu, penerbangan Qantas mencatat rekor nyaris sempurna. Selama tujuh tahun berturut-turut, maskapai itu dinobatkan sebagai teraman di dunia dari 405 maskapai yang dipantau.

AirlineRatings.com memilih Qantas sebagai The World’s Safest Airline 2020 karena selama 100 tahun sejarahnya, maskapai penerbangan berkelanjutan tertua di dunia itu, telah mengumpulkan rekor yang benar-benar luar biasa. Dalam hal pengoperasian dan keselamatan penerbangan.

Qantas pun dinobatkan sebagai maskapai paling berpengalaman di dunia. Qantas terus terbang pada masa Perang Dunia 2 dan masa pandemi flu Spanyol terburuk yang melanda dunia pada 1918 dan 1919.

Situs itu juga menilai, inovasi dan investasi Qantas dalam teknologi keselamatan penerbangan adalah terdepan di dunia. Qantas adalah maskapai penerbangan pertama yang memantau mesinnya secara real-time menggunakan komunikasi satelit. Hasilnya, masalah mesin bisa diketahui sebelum menjadi masalah besar.

Qantas juga merupakan maskapai penerbangan utama saat mengembangkan Sistem Navigasi Udara Masa Depan, perekam data penerbangan untuk mengawasi kinerja pesawat dan awak, pendaratan otomatis menggunakan GPS, dan pendaratan presisi di sekitar pegunungan.

Begitu cemerlangnya Qantas, sehingga “sejarah” nya diabadikan Hollywood dalam film Rain Man (1988), melalui sebuah dialog antara Tom Cruise dan Dustin Hoffman.
“Semua maskapai penerbangan pernah jatuh pada satu waktu atau lainnya,” kata Cruise kepada Hoffman. “Itu tidak berarti mereka tidak aman.”

“Qantas,” jawab Hoffman. “Qantas tidak pernah jatuh.”

Namun, menurut saya, apa yang disampaikan Cruise lah yang lebih membawa pesan yang dalam.

Tidak ada teknologi yang sempurna. Karena itulah, selain ikhtiar maksimal yang bisa dilakukan manusia, doa adalah senjata paling berarti.

Ini pulalah yang menjadi alasan kesetiaan para penumpang Sriwijaya Air dengan maskapai itu. Sriwijaya Air satu-satunya maskapai Indonesia yang menjadikan berdoa bersama sebelum terbang menjadi routine announcement.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi seluruh penerbangan di tanah air. Amin.
Turut berduka untuk SJ182. (*)

Komentar

Berita Lainnya