oleh

Tuduhan Kasus Penyiraman Air Keras Rekayasa, Tak Manusiawi

SUMEKS.CO – Tim advokasi penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menilai laporan politisi PDIP Dewi Tanjung terkait tuduhan rekayasa penyiraman air keras ke Polda Metro Jaya merupakan tindakan yang ngawur alias tidak jelas. Tindakan Dewi itu disebut mengarah pada unsur kefitnahan.

Anggota tim advokasi Novel, Alghiffari Aqsa, bahkan menuding Dewi telah bertindak di luar nalar dan rasa kemanusiaan. Pasalnya, menurut dia, kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel telah terbukti sebagai fakta hukum.

Kiri ke kanan: Direktur LBH Jakarta Arif Maulana, Ketua WP KPK Yudi Purnomo, Campaign Manager Amnesty International Indonesia Puri Kencana Putri, Deputi Koordinator Kontras Putri Kanesia, dan pengacara Alghiffari Aqsa. (RIZKY/FIN)

“Sudah diverifikasi melalui pemeriksaan medis maupun penyelidikan dan penyidikan aparat kepolisian,” ucap Alghiffari di Jakarta, Kamis (7/11).

Lebih lanjut, Alghiffari menuturkan kasus itu sebelumnya telah diselidiki oleh Komnas HAM. Hasil penyelidikan tersebut pun telah disepons oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan memerintahkan aparat kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Alghiffari menilai Dewi Tanjung secara tidak langsung menuduh Presiden Jokowi dan Komnas HAM tidak bekerja berdasarkan fakta hukum. “Oleh karena itu, semestinya kepolisian tidak memproses laporan ini lebih lanjut,” tandasnya.

Alghiffari berpendapat, laporan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi dan serangan serupa yang kerap diterima Novel oleh buzzer di media sosial; pernyataan politisi, tokoh ormas, dan pihak-pihak yang berlawanan dengan visi dan misi KPK.

Ia pun menduga, laporan itu bermaksud untuk menggiring opini publik agar mengaburkan dukungan terhadap penuntasan kasus penyiraman air keras.

“Laporan ini dilakukan bersamaan waktunya dengan desakan publik tentang penerbitan Perppu KPK dan desakan agar kasus penyiraman mata Novel, penyidik KPK, segera dituntaskan sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa laporan ini dilakukan saat ini mengingat kasus ini sudah berjalan hampir tiga tahun,” kata Alghiffari.

Maka dari itu, Alghiffari mengungkap, tim advokasi Novel meminta kepolisian untuk tidak melanjutkan proses hukum terhadap laporan yang diajukan oleh politikus PDIP Dewi Tanjung. Ia menambahkan, tim advokasi akan mengambil langkah hukum, baik perdata maupun pidana terkait dengan fitnah yang ditujukan kepada Novel.

Selain itu, tim mendesak kepada Presiden Joko Widodo untuk segera menuntaskan pengungkapan kasus Novel dengan membentuk tim independen yang bertanggung jawab secara langsung kepada presiden. Juga, meminta dukungan masyarakat untuk terus mengawal penuntasan kasus Novel maupun kasus teror dan serangan terhadap penyidik atau pimpinan KPK yang merupakan bagian dari upaya pelemahan KPK dan semangat pemberantasan korupsi.

Terpisah, pengacara Novel Baswedan, Saor Siagian, mengungkap kliennya merasa terpukul dengan adanya laporan tersebut. Ia menilai, upaya hukum yang dilakukan Dewi Tanjung tidak memiliki rasa kemanusiaan. Bahkan ia menduga, Dewi Tanjung merupakan salah satu pihak yang berada di balik kasus penyiraman air keras.

“Saya mengatakan jangan-jangan di balik peristiwa itu pelapor ini saya kira juga ikut menyiram daripada Saudara Novel,” ujar Saor.

Saor menyayangkan tindakan Dewi Tanjung yang melaporkan hal tersebut ke polisi ketimbang melakukan klarifikasi terkait kondisi terkini Novel.

“Apa kepentingannya dia? Pasti ada motif di balik (laporan) itu. Kemudian izinkan saya, jangan-jangan kemudian dia di balik ini,” tutur Saor.

Diberitakan sebelumnya, laporan tersebut dibuat Dewi Tanjung di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya, Rabu (6/11). Alasan pelaporan tersebut lantaran kasus penyiraman air keras tersebut tak masuk akal.

Adapun sejumlah barang bukti dilampirkan Dewi saat membuat laporan. Mulai dari rekaman video Novel saat berada di rumah sakit di Singapura, rekaman kejadian penyiraman, rekaman saat Novel keluar dari rumah sakit hingga foto Novel yang diperban pada bagian kepala dan hidung.

Laporan tersebut teregister dalam nomor laporan LP/7171/XI/2019/PMJ/Dit. Krimsus. Pelapor dalam hal ini Dewi sendiri dan terlapor Novel Baswedan.

Pasal yang dikenakan yakni Pasal 26 ayat (2) junto Pasal 45 A Ayat (2) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 A ayat 1 UU RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana. (fin.co.id)

Komentar

Berita Lainnya