oleh

Tugas Berat Joe Biden Menanti di Depan Mata

SUMEKS.CO – Calon Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden tinggal selangkah lagi Gedung Putih pada 20 Januari 2021 nanti. Biden unggul perolehan suara dalam Pilpres AS 2020 dan memecahkan rekor karena mendapat suara Electoral Votes mencapai angka 290. Selanjutnya, beberapa tugas berat Biden sudah menanti di depan mata, khususnya memulihkan AS di mata dunia .

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana setidaknya ada empat hal yang sebaiknya dilakukan Joe Biden begitu menjadi presiden. Pertama AS harus lebih memikirkan kemaslahatan dunia ketimbang AS sendiri, seperti yang pernah dilakukan Presiden Barack Obama yang menjadikan AS sebagai negara yang mensejahterakan dunia.

RAYAKAN KEMENANGAN-Joe Biden tersenyum sumringah merasa yakin menang. (indopos.co.id/Antara Foto/Reuters)

”Langkah (Obama) itu ditempuh supaya Amerika sejahtera. Namun sikap politik itu diubah Trump. Di era Trump nilai tersebut ditinggalkan dan lebih fokus untuk membangun AS dengan mengabaikan dunia, bahkan dia (Trump) berkonflik secara head to head dengan sejumlah negara,” ujar Hikmahanto di Jakarta, Minggu (8/11/2020).

Kedua, diharapkan tidak ada lagi kejutan-kejutan kebijakan pemerintah AS seperti yang sudah dibuat Donald Trump yang mana banyak kebijakannya membuat masyarakat dunia terheran-heran.

Ia menyontohkan beberapa kebijakan Trump yang membuat masyarakat dunia keheranan ketika menggelar dua kali pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, memindahkan Kantor Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, menyatakan keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan mengakhiri secara sepihak hasil perundingan Iran dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB terkait pengembangan nuklir Iran.

Ketiga, kata Hikmahanto, Joe Biden diharapkan menjalankan kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang telah lama dirancang secara rinci oleh para birokrat AS. Dijelaskannya, sistem pemerintahan di AS itu menganut dua pengelola kebijakan, yakni politisi dan birokrasi. Politisi yang memegang keputusan akhir, sedangkan birokrasi yang menjaga agar kebijakan AS itu terjaga dari waktu ke waktu.

”Politisi di AS secara alamiah akan keluar dan masuk (come and go) empat tahun sekali, namun birokrasi akan tetap mengingat tongkat estafet kebijakan yang akan terus diturunkan kepada para penggantinya,” jelas Hikmahanto.

Menurutnya, di era Presiden Trump kerap terjadi perlawanan terhadap kebijakan yang telah dirancang para birokrat sebelumnya. Perlawanan itu dilakukan Trump melalui tweeter maupun secara langsung mengganti para birokrat yang tidak sepaham dengan kemauan Trump. Ia menilai masyarakat dunia berharap Joe Biden lebih banyak mendengar dan memutuskan berbagai kebijakan yang telah dirancang secara rinci oleh birokrasi AS selama bertahun-tahun.

”Selain itu, AS diharapkan tidak lagi menjadi sumber inspirasi untuk membangkitkan ekstrem kanan dan supremasi kulit putih seperti pada era Trump. AS di bawah Biden diharapkan dapat mengembalikan nilai-nilai untuk menghormati pluralisme, hak asasi manusia, dan tidak merendahkan suatu bangsa dengan peradabannya,” papar Hikmahanto.

Terkait hubungan kebijakan politik luar negeri AS dengan Indonesia setelah AS dipimpin Joe Biden, menurut Hikmahanto sudah menjadi sebuah tradisi jika presidennya dari Partai Demokrat di AS, maka presiden tersebut cenderung memperhatikan kondisi penegakan HAM di berbagai negara lain.

Ia lantas menyarankan pemerintah Indonesia segera bisa beradaptasi dan lebih transparan terkait berbagai isu HAM di dalam negeri. ”Partai Demokrat AS itu ideologinya adalah HAM, melindungi minoritas, dan mengenakan pajak yang tinggi bagi kelas menengah ke atas,” pungkasnya. (ind/indopos.co.id)

Komentar

Berita Lainnya