oleh

Uji Coba Mesin Pemisah Lateks

Sekayu – Jika selama ini petani karet di Muba mayoritas menghasilkan bokar, kali ini pelan-pelan kebiasaan akan mulai berubah. Salah satunya memproduksi getah karet menjadi lateks yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi, serta menjadi bahan baku untuk campuran aspal.

Saat ini sudah dilakukan uji coba di lokasi centrifuge (proses pemisahan lateks pekat dan limbah berbahan bokar) yang ada di Desa Cipta Praja, Kecamatan Keluang. Senin (28/9) Sekda Muba, Drs Apriyadi MSi meninjau langsung lokasi tersebut.

“Yang kita saksikan dengan uji coba mesin centrifuge  ini nyata.  Berjalan dan dikerjakan oleh petani kita. Pengelolaan karet rakyat benar-benar terpenuhi. Karena adanya alat centrifuge karet rakyat dapat di olah untuk memisahkan air dan lateks,” ujarnya.

Hasil lateks tersebut akan dijual ke pabrik  yang ada di Muba. Bukan itu saja, pihaknya mendorong tumbuh kembang industri rumahan berbahan baku karet.

“Akan ada hilirisasi yang ditopang industri rumahan. Pabrik skala kecil ini berupa kelompok pengusaha rumahan yang tersebar di sentra karet Muba. Jenis usahanya berupa pembuatan pabrik sarung tangan karet, tutup tabung gas dan berbagai hasil karet,” terang Apriyadi.

Saat Apriyadi meninjau pabrik centrifuge di Keluang, diketahui satu mesin mampu menghasilkan latex 4 ton. Sedangkan dari harga antara bokar dan proses centrifuge petani mendapatkan keuntungan jauh lebih besar.

“Potensi keuntungan lebih petani hingga rp 500 ribu rupiah per ton setelah bokar diproses di pabrik centrifuge ini,” kata dia.

Plt Kadisbun A Toyibir menjelaskan proyek rintisan ini akan dilanjutkan dengan pengadaan 2 mesin serupa di tahun mendatang. “Insya Allah tahun depan kita akan menambah mesin ini lagi. Sesuai arahan pimpinan dua mesin akan ditempatkan di sentra petani karet,” ungkapnya seraya menambahkan perlu upaya merubah pola pikir petani dari penghasil bokar menjadi produsen latex pekat. (Kur)

Komentar

Berita Lainnya