oleh

Ular Kobra Bersarang di Kantor Bupati

SUMEKS. CO – Petugas kembali menangkap ular kobra di kantor Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Saat proses penangkapan berlangsung, seorang petugas disembur bisa ular kobra.

Penangkapan ular kobra yang meresahkan itu dilakukan 11 anggota Animal Lovers and Rescue Sampit, Senin (3/2).

Penangkapan ular kobra dipimpin Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah.

Pantauan Radar Sampit (grup Jawa Pos/Pojoksatu.id), tim yang dibagi jadi dua regu itu menyebar mencari ular yang dilaporkan muncul di kantor bupati.

Penyisiran dilakukan dari depan hingga bagian kiri kantor. Regu lainnya menyisir di bagian kanan hingga belakang kantor.

Mereka membawa peralatan lengkap, seperti penjepit ular serta peralatan khusus lainnya.

Rupanya ular kobra tersebut bersarang di bawah bawah bangunan taman kantor bupati.

“Ular biasanya suka bersembunyi di bangunan taman ini. Hampir seluruh bangunan taman di bawahnya bolong. Di situlah ular bersembunyi,” kata Ketua Animal Lovers and Rescue Sampit Harie.

Regu lainnya mencari di sekitar pohon bagian kanan kantor dengan ekstra hati-hati. Sebab, hewan tersebut bisa menyerang tanpa diduga. Mereka mengandalkan tongkat panjang untuk memeriksa setiap lubang dan celah pohon.

Saat pencarian beralih ke belakang kantor, tepatnya di parkiran mobil, tim dibuat geleng-geleng kepala. Pasalnya, di balik sudut parkiran mobil terdapat banyak bekas bahan bangunan yang dibiarkan menumpuk.

Selain itu, di sudut parkir mobil juga banyak dedauan yang menumpuk. Hal itu dinilai bisa mengundang reptil seperti ular bersarang.

Setelah pencarian dilakukan di semua sudut, tim pertama berhasil menemukan keberadaan ular tersebut di sekitar drainase kantor Bupati Kotim samping kanan.

Ular kobra tersebut ternyata bersarang di bawah tanah dengan membuat lubang berukuran sekitar 15 sentimeter.

Sarang itu ditemukan setelah Harie memasukan batang pohon kecil ke dalam lubang. Dugaannya tak meleset.

Lubang dengan dalam sekitar 4 meter yang tembus ke kolam ikan di taman kantor Bupati Kotim itu dihuni ular kobra. Ular tersebut marah saat rumahnya diganggu.

Saat memasukkan batang pohon ke lubang beberapa kali, tiba-tiba ada semprotan air yang keluar dari lubang.

“Semprotannya langsung mengarah ke mata kiri saya. Tak lama, muncul kepala ular kobra keluar dari lubang itu dan kembali menyemprot bisanya dengan brutal,” ungkapnya.

Ular tersebut akhirnya berhasil ditangkap menggunakan tongkat penjepit ular. Selanjutnya dibawa ke halaman depan kantor bupati lalu dimasukkan ke dalam kontainer kecil, khusus untuk ular.

Menurut Harie, semprotan ular tersebut membuat matanya mengalami iritasi ringan. Untuk penanganan sementara, dia hanya menggunakan obat tetes mata.

“Rasanya pedih sekali dan terasa cukup panas. Waktu menemukan ular tersebut, muka saya dan lubang memang cukup dekat sekali. Akhirnya kena semprot,” ucapnya sambil tersenyum.

Haris menuturkan, kantor Bupati Kotim memang menjadi tujuan utama bagi satwa liar, terutama ular untuk transisi.

“Ada juga sarang tawon di sekitar taman bagian depan. Itu wajar saja, karena taman ini sepertinya memang jarang terawat dan jarang didatangi orang. Hewan pun otomatis bersarang,” bebernya.

Dia menambahkan, ular tersebut rencananya akan dilepaskan jauh dari permukiman. Dia juga berharap kantor Bupati Kotim lebih memperhatikan kebersihan di sekeliling kantornya.

“Kalau bisa, dibersihkan secara keseluruhan,” ujarnya.

Haris juga menanggapi anggapan sebagian warga yang menyebut ular yang ditangkap sebelumnya, yakni king kobra, hanya setingan. Dia membantah keras hal itu. Ular tersebut murni dari alam liar, bukan milik anggota komunitasnya.

“Pelapornya ada, bukti laporannya juga ada. Dari menit, tanggal, dan tahunnya. Dalam waktu dekat ini kami akan merilis semua bukti kepada publik bahwa king kobra yang kami amankan bukan setingan,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, king kobra emas jumbo yang mereka amankan pekan lalu memiliki banyak kutu.

Selain itu, di bagian tubuh ular tersebut ada gesekan atau bekas luka saat berada di alam liar. (sir/ign/prokal).

Komentar

Berita Lainnya